
Waktu terus berputar. Anastasya kini sudah terbiasa menjalani hari-harinya tanpa berharap untuk mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Arka sibuk dengan perusahaan, begitupun Anastasya yang kini juga disibukkan dengan usaha toko bunga yang dibangunnya beberapa bulan lalu. Meski lebih tepatnya Arka lah yang sengaja membeli ruko dua lantai itu, kemudian disulap menjadi toko bunga.
Arka memang bukanlah pria romantis, namun setiap sang Istri menyukai sesuatu, maka pria itu akan bergerak cepat untuk mewujudkan.
Suatu menghabiskan akhir pekan dengan menikmati secangkir teh di ruang keluarga, Anastasya sempat mengutarakan keinginannya untuk memiliki toko bunga yang bisa ia gunakan untuk mengisi waktu luang sekaligus menghasilkan uang.
Arka hanya menganggukan kepala dan tak banyak menanggapi ucapan. Akan tetapi otak pria itu bekerja cepat. Lewat Sam, ia memerintahkan untuk mencari ruko yang posisinya cukup strategis untuk dijadikan tempat usaha.
Hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja Sam memberi laporan jika sudah menemukan bangunan yang Arka inginkan. Kini hanya tinggal selangkah, bangunan itu bahkan sudah akan menjadi miliknya.
Anastasya terperangah. Ia bahkan tak mampu berkata-kata saat Arka membawanya kesebuah bangunan berlantai dua yang menurut Arka adalah sebuah hadiah yang pria itu berikan untuknya. Hadiah untuk apa? Ulang tahunnya pun sudah terlewatkan.
"Kau suka?"
Anastasya mengangguk dengan penuh antusias. Terlebih seluruh ruangan sengaja dicat dengan warna merah muda sesuai dengan warna favoritnya. Begitu pun furniture lain. Arka bahkan secara diam-diam tau jika Istrinya penyuka warna merah muda.
"Sangat." Tanpa aba-aba, spontan Anastasya mendekap tubuh Arka erat sebagai luapan kebahagiaan. "Terimakasih. Kau begitu tau tentang apa pun yang aku inginkan," sambung gadis itu lagi.
Arka tersentak. Sepasang matanya membulat seketika. Terkejut saat mendapatkan pelukan mendadak dari istrinya.
Pria itu pasrah. Sejujurnya ingin melepaskan rengkuhan namun eratnya dekapan yang Anastasya berikan membuat pria itu tak mampu bergerak.
"Ya."
Arka justru membalas pelukan Anastasya dengan mengusap puncak kepala istrinya itu begitu lembut. Anastasya tentu kaget, namun ia pun merasa senang. Setidaknya ia sadar jika Arka pun menyayanginya, namun bukan sebagai istri, melainkan hanya sebagai keluarga atau pun sahabat.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
Pagi ini penampilan Anastastasya rapi seperti hari biasanya. Di meja makan ia sudah mendapati Arka yang tengah sarapan dengan dilayani seorang pelayan.
"Selamat pagi," sapa Anastasya.
"Pagi," jawab Arka dan Surti, sang kepala pelayan yang masih sigap melayani sarapan sang tuan.
Surti kini berpindah ke meja Anastasya. Melayani majikannya itu seperti hari biasanya.
"Bagaimana perkembangan toko bungamu?"
Anastasya tersenyum cerah. Saat menyingung toko bunga, wajah perempuan cantik itu pasti berbinar senang.
"Semakin ramai setiap harinya. Para pekerja bahkan sampai kewalahan. Aku bersyukur dan luar biasa senang. Terimakasih, semua terjadi berkatmu. Oh ya, sepertinya aku akan mencari tambahan pekerja baru. Permintaan pasar kian melonjak seiring mendekati hari kasih sayang minggu depan." Anastasya menjawab begitu Antusias. Arka pun mengulas senyum tipis. Lega melingkupi diri. Usahanya untuk menyenangkan hati Anastasya tak sia-sia. Perempuan itu bahkan lebih bersemangat menjalani hari-harinya. Nyaris tak ada keluh kesah apa lagi putus asa, yang saat ini ia lihat tak seperti berbulan-bulan yang lalu.
💜💜💜💜💜
Tak ada persiapan. Ia hanya membeli sebuket bunga, itu pun yang letaknya disekitar makam. Rasa rindu itu muncul seketika. Hari ini bahkan nyaris satu tahun Abigail meninggal. Putranya itu mungkin masih gemas-gemasnya andai masih hidup.
Sudut mata Anastasya memanas. Baru saja melangkah melewati gerbang pemakaman, namun rasa sesak itu sudah memenuhi rongga dadanya.
Arka sempat mengambil gambar sang putra sebelum meninggal. Dada Anastasya kembali sesak, bahkan berkali lipat. Pasalnya, meski baru saja terlahir, namun paras Abigail sungguh mewarisi struktur wajah sang ayah biologis, Rangga Wiratama.
Inikah takdir?
__ADS_1
Makam sang putra kini sudah berada di hadapan.
"Assalamualaikum, Abi, putraku," ucap Anastasya seraya berlutut. Ia taburkan bunga di atas makam sang putra juga menyiramkannya dengan air doa.
Ia usap lembut nisan bertuliskan nama sang putra. Bulir bening kembali menitik dari sudut mata tanpa mampu dicegah.
"Ibu sangat merindukan Abi, rindu sekali." Anastasya memeluk nisan. Seolah tengah memeluk tubuh mungil sang putra. Mengusap nisan itu lembut seolah tengah mengusap tubuh putranya.
Serindu itulah Anastasya. Abigail layaknya kekuatan hidup, disaat tuhan memberinya cobaan begitu berat. Akan tetapi, tuhan justru mengambil nyawa bayi itu kembali yang mana membuat Anastasya nyaris depresi dan kehilangan akal sehat. Beruntung ia memiliki seorang Arka. Jika tidak, mungkin ia sudah benar-benar hilang kewarasaan saat ini.
Cukup lama Anastasya menyapa nisan sang putra. Iringan doa pun terlantun dari bibirnya tanpa henti. Anastasya sadar, jika hanya dengan doalah sang putra akan hidup berbahagian di dalam surga-nya yang abadi.
Entah sudah lama Anastasya mendekap nisan sang putra. Mentari sudah berubah terik. Membuat kepalanya yang tanpa pelindung merasakan sedikit pening.
Perempuan itu bangkit. Sedikit tertatih seraua memegangi kepala ia berusaha keluar dari area pemakaman. Anastasya menghela nafas, kuda besinya terparkir cukup jauh bahkan ada di seberang jalan raya. Tadi ia terburu-buru hingga tak sempat mencari tempat parkir yang cukup aman.
Anastasya berusaha menyeberang jalan. Pening dikepala benar-benar tak menghilang. Gadis itu bahkan sesekali menunduk guna menghalau rasa sakit meski pun sia-sia.
Anastasya harus cepat sampai di mobil. Meski langkahnya gontai, namun ia akan berusaha sekuat tenaga. Hingga...
"Awas Nona!" Teriakan itu begitu mengejutkan Anastasya. Namun sepersekian detik tubuhnya seperti di dorong hingga akhirnya terjatuh di atas trotoar.
Anastasya terkesiap. Coba mengumpulkan kesadaraan. Akan tetapi adalagi yang membuatnya luar biasa terkejut. Ada seseorang gadis yang juga terjatuh di trotoar, bahkan kondisinya cukup memprihatinkan dengan beberapa luka di tubuhnya.
Kembali, suara klakson dan umpatan kasar dari bibir seseorang yang sepertinya ditujukan untuk dirinya, membuat kesadarannya benar-benar kembali.
__ADS_1
Ia nyaris tertabrak dan gadis itu, gadis terluka itu yang rupanya sudah menyelamatkan nyawanya.
Ya tuhan.