
Sepertinya kehadiran Zara di toko bunga milik Anastasya, membawa berkah tersendiri untuk gadis perempuan cantik tersebut. Selain memiliki teman dekat, Anastasya pun cukup terbantu dengan adanya Zara yang menempati sekaligus menjaga toko bunganya yang memang jarang tinggali.
Apalagi setiap hari para penjaga keamanan toko selalu melapor jika Zara selalu menyiapkan makanan atau pun minuman meski tanpa ia perintah. Anastasya senang, rupanya ia menolong orang yang tepat. Zara baik, bahkan begitu baik hingga dikelabuhi oleh seorang pria yang sudah mengajaknya ke kota.
Gadis itu sempat bercerita sedikit tentang alasan yang membuatnya bisa sama ke kota sebesar ini tanpa bekal apa pun. Rupanya memang kepolosan Zara-lah yang sengaja dimanfaatkan bahkan nyaris dinodai pria yang sudah ia anggap keluarga sendiri. Rupanya benar jika nasib Zara tak lebih darinya dulu sebelum bertemu dengan Arka.
Pagi ini Anastasya memberitahukan pada Zara jika Arka, suaminya akan datang ke toko bunga. Tentunya selepas pria itu menghubunginya lewat jaringan telepon. Pria itu pun juga mengatakan jika ingin makan di toko bersama dengan sang istri. Sungguh Anastasya luar biasa senang hingga memesan sup daging yang merupakan makanan favorit sang suami lewat aplikasi online.
Anastasya menyambut kedatangan sang suami dengan penuh suka cita. Meski selalu berbeda dengan Arka yang nampak biasa saja. Keduanya pun lekas menuju lantai dua di mana ruang makan sekaligus dapur berada.
Sembari menunggu kedatangan Zara, Anastasya terlibat percakapan dengan Arka untuk beberapa saat. Tak berselang lama gadis itu datang dengan membawa kantong plastik berukuran sedang yang membawa makanan pesanannya.
Anastasya dengan telaten melayani Arka dari membuka kotak pembungkus makanan. Ekspresi dan ucapan Arka tetap datar seperti biasa, namun Anastasya sudah biasa menghadapinya. Perlakuan Arka yang begitu baik nyatanya sudah membuatnya luar biasa berterimakasih.
Kehidupan Anastasya benar-benar terjamin. Arka bahkan membelikannya satu unit rumah dan apartemen sebagai simpanan. Belum lagi tabungan dalam bentuk deposit atau perhiasan. Semua tak terhitung jumlahnya. Meski Anastasya berusaha menolak, namu Arka terus menegaskan jika Anastasya pun berhak untuk menikmati harta miliknya, sebab gadis itu adalah istri sahnya.
Arka tak pernah lalai memanjakan Anastasya. Seperti yang pria itu tau jika Istrinya memang terbiasa hidup dengan segala kemewahannya. Dan satu hal yang membuat Arka mengagumi sifat sang istri, Anastasya senang berbagi. Ia gunakan sebagian uang dari pemberian Arka untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan. Jujur, Arka pun kagum pada sosok Anastasya. Disamping segala kekurang, Anastasya masih banyak memiliki kelebihan yang bisa membuat orang lain bahagia.
💜💜💜💜💜
Gamang. Anastasya menghela nafas dalam selepas membaca sebuah pesan dari ponsel pintarnya. Sarah berulang tahun dan mengundangnya untuk minum bersama malam ini di sebuah club.
Aku harus bagaimana?
Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan Sarah dan cukup lama pula ia tak mengunjungi club malam untuk melepas penat.
__ADS_1
Kini Arka bersikap tegas dan tak lagi mengizinkannya untuk keluar malam terlebih untuk mengunjungi tempat laknat itu. Arka adalah pria berkharisma yang pastinya menjadi incaran kaum hawa, namun berbeda dengan pria lain yang suka dengan kehidupan malam bahkan bergonta ganti teman kecan, nyatanya Arka berbeda. Pria itu bersih. Tak pernah menengak alkohol apalagi mengonsumsi obat-obatan terlarang. Oh Arka, salahkan jika aku jatuh cinta?
Anastasya spontan memukul kepalanya pelan. Hust, berhenti untuk mengharap sesuatu yang terlampau tinggi, Anastasya. Dengan perlakuan pria itu padamu saja sudah membuatmu luar biasa senang.
💜💜💜💜💜
Akhirnya, kini disinilah Anastasya berada dengan ditemani oleh Zara. Keduanya masih berada di dalam mobil meski mesin sudah dimatikan. Anastasya menghela nafas dalam sementara pandangannya tertuju pada bangunan yang dulu kerap ia datangi sebagai bentuk pelampiasan.
Anastasya turun dari kuda besinya bersama Zara. Sarah mengundangnya, tentu ia tak bisa abai meski dari hati terdalam Anastasya sudah tak ingin lagi untuk memasuki tempat yang sudah jauh membawanya pada kesesatan.
Dentuman musik memekakkan telinga menyambut kedatangan dua perempuan cantik yang spontan mengundang keriuhan dari beberapa pria yang tengah menikmati suasana club.
Tepat di sebuah meja Anastasya menghentikan langkah.
Anastasya membawa Zara untuk duduk bergabung dengan Sarah dan rekan-rekannya. Bisa Anastasya rasakan, jika Zara cukup ketakutan namun berusaha disembunyikan. Wajar, mengingat Zara yang berasal dari kampung juga berprilaku baik, gadis itu pasti belum pernah menjejakkan kaki ke tempat-tempat maksiat seperti ini, berbeda dengan dirinya.
Anastasya mengulurkan sebuah paper bag mungil pada Sarah sebagai kado ulang tahun untuk teman lamanya itu. Sarah tentu dengan senang hati menerima. Ia juga sempat mengucap beberapa kalimat yang intinya bernada sindiran yang sepertinya ditujukan khusus untuk Anastasya. Sedangkan Anastasya sendiri, tak ambil pusing. Ia tak menanggapi, hingga beberapa saat kemudian ia memilih pulang dengan menarik lembut tangan Zara untuk lekas keluar dari ruangan.
💜💜💜💜💜
Arka bukanlah sosok pria romantis. Tak ada pujian atau rayuan yang pria itu berikan pada Anastasya selama membangun biduk rumah tangga. Akan tetapi, Anastasya tak keberatan. Sebab Arka sendiri lebih senang menunjukannya lewat perbuatan yang lebih membuatnya terpesona.
Arka kerap menyembatkan diri untuk menyambangi toko bunga sang istri untuk sekedar bertemu atau makan bersama. Meski pun sifat pria itu dingin, namun pribadi pria itu tetaplah hangat serta perduli pada sang istri meski tak ditunjukannya dengan terang-terangan.
Hari ini Anastasya merasakan ada yang berbeda pada Zara. Wajah gadis itu terlihat pucat.
__ADS_1
Apa dia sakit?
Anastasya pun menghampiri Zara. Menanyakan kondisinya. Tetapi gadis itu menjawab jika keadaanya baik-baik saja.
Begitu mendengar jawaban Zara, Anastasya pun kembali keruang kerjanya yang berada di lantai dua. Pekerjaanya masih banyak. Ia harus menyelesaikan semua sebelum petang dan biasanya Zara-lah yang kerap kali membantunya.
"Lebih baik aku panggil Zara agar pekerjaanku selesai lebih cepat," gumam Anastasya seraya nangkit dari posisinya dan keluar dari ruangan untuk memanggil Zara.
"Zara," panggil Anastasya saat mendapati seseorang yang ia cari tengah berkumpul dengan karyawan lain.
"Iya, nona."
"Kemarilah, bantu aku sebentar."
Zara bangkit, meski wajahnya terlihat pucat namun ia tetap melangkah. Mulai menapaki anak tangga hingga sesuatu yang tak ia duga singgah di depan mata.
Tubuh Zara hilang keseimbangan. Anastasya berteriak akibat terkejut. Namun seseorang pria yang baru saja datang, sigap menangkap tubuh Zara yang nyaris ambruk ke lantai.
Anastasya terkejut luar biasa. Begitu pun dengan para karyawan.
"Arka." Pria yang menangkap tibuh Zara, adalah Arka. Tanpa ba bi bu, Arka mengendong tubuh Zara keluar dari toko bunga dan menuju mobilnya. Bisa dipastikan jika suami Anastasya itu akan membawa Zara ke rumasakit.
Anastasya tertegun. Tanpa sadar, Arka melupakan keberadaannya. Dia membawa Zara, bahkan tanpa mengajaknya.
Mobil Arka mulai bergerak. Anastasya menitikkan air mata, seiring mobil yang kian bergerak jauh meninggalkan toko bunga.
__ADS_1