
"Ana, kau dari mana?" Setengah gelagapan, Sarah mengurai dekapan dan menggeser tubuh dari pria yang sedang bersamanya. Meski terlihat canggung, namun Sarah bersikap biasa seperti tak terjadi apa-apa. Begitu pun pada sosok pria paruh baya yang kini bersamanya.
"Ma-maaf kak. Aku tadi keluar sebentar untuk membeli sesuatu," jawab Anastasya masih dengan menundukan kepala. "Aku permisi kak." Gadis itu, berlalu pergi begitu saja.
Menuju arah dapur, Anastasya mengingat-ingat kembali wajah pria paruh baya yang duduk bermesraan dengan Sarah.
"Jika dilihat dari postur tubuh, bukankah dia.." Netra gadis itu membulat sempurna saat mengingat sesuatu hal.
"Benarkah dia pria yang datang bersama kak Sarah pada tengah malam itu?" Memori di otaknya terus berputar. Kejadian tengah malam itu kembali mengingatkannya pada sosok pria di samping Sarah.
Kala itu, Anastasya memang tak melihat secara jelas, hanya coba mengintipnya dari cela pintu yang sedikit ia buka.
Sarah tampak berjalan sempoyongan dengan dipapah Atun dan juga seorang pria. Dan pria itu adalah pria yang tadi sempat bermesraan di sofa bersama Sarah.
Siapa dia. Apa mungkin, mereka sepasang suami istri atau kekasih. Tapi jika mereka mempunyai hubungan, kenapa terlihat jarang bersama?
Anastasya masih melanjutkan langkah. Hingga terhenti saat melihat Bi Atun yang tampak sibuk bergelut di dapur.
"Ana, kau sudah pulang?" Bi Atun menyapa saat langkah Anastasya mulai mendekat.
"Iya bi." Gadis itu menyimpan beberapa kantong plastik berisi kebutuhannya di atas kursi meja makan. Begitu melihat Atun sibuk memasak, gadis itu pun mendekat dan coba membantunya.
"Bi, aku akan keluar. Kunci saja pintunya, aku akan menginap di luar," ucap Sarah yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah.
"Iya, nona."
Sarah terlebih dulu melempar senyum kearah Anastasya, sebelum berlalu pergi.
Senyap sekeruka, selepas kepergian Sarah. Meski jarak Anastasya juga Atun berdekatan, namun keduanya memilih diam sementara kedua tangan sibuk bekerja.
__ADS_1
Beberapa menu makanan terhidang di atas meja. Atun dibantu Anastasya bekerja keras menyempurnakan menu sarapan untuk Saran. Akan tetapi perempuan itu justru pergi, bahkan tak sempat hanya untuk mengicip makanan, sekedar untuk menghargai seorang Atun sebagai pelayan.
"Ana, ayo makan." Atun menarik satu buah kursu, lantas mempersilahkan pada Anastasya untuk duduk.
"Tapi bi. Bukankah makanan ini bibi buat untuk Kak Sarah?"
Atun menghela nafas dalam, lantas menghempaskan tubuhnya di kursi meja makan.
"Bukankah kau dengar. Nona Sarah sudah pergi, bahkan bermalam ditempat lain. Bukankah sayang jika makanan sebanyak ini hanya dibiarkan." Meski raut kekecewaan tergambar jelas, namun Atun berusaha abai juga tak ambil fikir.
Anastasya pun patuh. Mengikuti ucapan Atun dan tak lagi banyak bicara.
"Bi, boleh aku tanya sesuatu," lirih Anastasya bertanya.
"Tentang apa?" Atun memulai aktifitas mengunyah sembari menanggapi pertanyaan gadis di depannya.
"Em..." Gadis itu sepertinya cukup ragu.
Susah payah Anastasya menelan saliva, kemudian mengangguk samar.
Atun terdiam sejenak. Sepertinya tengah menimang ucapan.
"Sudah saatnya kau tau siapa Nona Sarah, Ana. Karna jika aku diam pun, lambat laun kau akan tahu sendiri siapa Nona Sarah sebenarnya."
Gadis itu menyipitkan netra. Menilik ekspresi wajah Atun yang mendadak serius.
"Maksud Bi Atun apa?"
"Habiskan dulu makanmu. Selepas itu, akan aku ceritakan semuanya."
__ADS_1
Rasa penasaran itu kian memuncak. Terlebih Atun justru mengantung ucapan dan memilih tak langsung menceritakan. Gadis itu mengigit bibir bawah. Takut dan gugup bercampur menjadi satu. Akankah ada rahasia besar yang disimpan oleh seorang Sarah dan tak ia ketahui. Ah, entahlah..
******
Anastasya tertegun. Menatap nanar tumpukan majalah di hadapan dengan hati teremas. Sulit dipercaya saat kebenaran itu justru terpampang nyata di hadapan mata.
Bukan model majalah biasa, Namun Sarah justru berprofesi sebagai model majalah pria dewasa. Beberapa gambar Sarah tengah berpose menggoda dengan pakaian kurang bahan sudah menjadi bukti siapa Sarah sebenarnya.
Anastasya akui jika wajah Sarah tergolong cantik meski dengan polesan make up yang lumayan tebal pun dengan tubuhnya yang bak gitar sepanyol. Seksi dan berisi dibeberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi gadis itu tak menyangka jika Sarah memilih mendapatkan uang dengan cara demikian. Mempertontonkan aurat hanya demi uang dan gaya hidup semata.
"Pria itu menjadikan Nona Sarah sebagai simpanannya. Dia sutradara film yang memiliki nama cukup besar. Aku tau jika tuan itu kaya, hingga Nona Sarah tak menolak meski hanya dijadikan selingan."
Keduanya terdiam. Sibuk dengan fikiran masing-masing.
"Mungkin kau mengira jika aku pelayan yang lancang." Atun tersenyum tipis. "Yang tak sungkan membuka aib majikannya," sambung Atun lagi.
Anastasya tak menjawab. Haruskan ia membenarkan ucapan atun? Memang begitulah sebenarnya. Bukankah seorang pelayan terlarang untuk membagikan keburukan sang majikan kepada orang lain walau sekecil apa pun.
"Aku berbicara, pasti mempunyai maksud dan tujuan. Bukan hanya aku, Inces dan Maya pun tahu segalanya tentang Sarah."
Anastasya terkesiap. Kedua orang itu pun tau tentang kehidupan Sarah baik di dunia model atau pun kehidupan pribadinya.
"Kau sudah hidup di tempat ini. Itu berarti jika kau sudah menjadi tanggung jawab Nona Sarah. Kelak, pasti kau akan tahu kehidupan Nona Sarah dengan sendirinya.
Entah mengapa ucapan Atun seketika membuat buluk kuduk gadis itu merinding.
"Aku hanya berpesan. Kelak jika kau sukses seperti Nona Sarah, aku harap kau tak akan salah jalan." Atun tertunduk, tak berani menatap Anastasya.
Sementara Anastasya sendiri merasakan seluruh tubuhnya lunglai. Lemah seperti tak bertulang. Tiba-tiba, ia menyesali keputusannya dengan sudah menerima penawaran dari seseorang seperti Sarah.
__ADS_1
Bersambung