
"Tuan muda, Tuan besar meminta anda untuk menemuinya di ruang kerja," ucap salah seorang pelayan yang diutus Sofyan, ayah Rangga.
Rangga menganggukan kepala kemudian berucap, "Pergilah."
"Baik, tuan."
Pelayan berpakaian hitam dan putih itu menundukan kepala sebelum berlalu pergi.
Rangga menghembuskan nafas panjang. Terhitung dua hari sang semenjak pembicaraan kala itu, keduanya belum lagi bertemu. Sofyan, lebih memilih menghindar, begitu pun dengan Rangga yang sepertinya masih menyimpan bara kekecewaan pada kedua orang tuanya.
"Penawaran?" Rangga tersenyum samar. "Kiranya penawaran semacam apakah yang akan diberikan oleh ayah."
Pria bertubuh tegap itu mengayunkan langkah menuju ruang kerja sang ayah yang berada di lantai satu kediaman mewahnya.
Semenjak kala itu pula, Rangga tak menampakkan diri di hadapan sang kekasih yang sejujurnya sudah teramat ia rindukan. Hanya berbalas pesan juga melalui panggilan telepon, keduanya dapat bertukar kabar atau sekedar melepas kerinduan.
Anastasya.
Satu nama yang begitu memporak porandakan hati dan perasaan seorang Rangga. Ditambah dengan kehamilan yang tengah dialami gadis tersebut, membuat rasa bersalahnya kian memuncah. Hingga sekedar kata 'maaf' pun tak cukup menghapuskan seluruh kesalahannya.
Langkahnya terhenti, tepat di depan pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Ia ayunkan keempat ruas jemarinya untuk mengetuk pintu bercat putih gading tersebut.
"Masuklah." Sahutan terdengar dari dalam ruangan.
Rangga mendorong pintu tersebut perlahan. Wajah ayahnya terlihat duduk di sebuah kursi putar dengan dua tangan bertumpu pada meja kerja berukuran cukup besar.
"Duduklah," titah sang ayah sang Ayah seraya menatap wajah sang putra.
Rangga menurut, saat hendak menuju kearah sofa, pria muda itu sadar jika di sofa tersebut rupanya sudah ada sang ibu yang tengah duduk tenang dengan satu kaki bertumpu pada satu kaki lainnya.
"Kemarlah, nak." Kini Siskalah yang berbicara. Satu tangannya terangkat, seolah meminta pada sang putra untuk mendekat.
Lagi, Rangga tak menjawab. Hanya ayunan langkah yang menjawab semua.
Rangga duduk di sofa yang sama dengan Siska, namun terkesan menjaga jarak. Siska menghela nafas, nampak tak suka dengan sikap yang ditunjukan oleh sang putra.
__ADS_1
"Ada apa Yah. Apakah Ayah sudah mendapatkan penawaran yang pantas untukku?"
Menerima penawaran, atau angkat kaki dari rumah ini. Rangga tersenyum tipis. Ini, kali pertama semenjak menjadi putra dari seorang Sofyan Wiratama, ia dilontari ucapan menusuk seperti ini. Angkat kaki, bukankah itu sama saja dengan mengusirnya.
"Benar, dua hari ini Ayah juga ibu sudah mendapatkan solusi tepat untuk masalahmu juga masa depanmu," ujar Sofya ringan, seolah tanpa beban.
"Jika seperti itu, maka katakanlah."
Siska dapat merasakan hawa panas yang melingkupi ketiganya meskipun tempat tersebut sudah difasilitasi pendingin ruangan.
Sofyan bersikap setenang mungkin. Tubuhnya sedikit mencondong ke depan, senentara kedua tangan bertumpu pada meja kerja. Ditatapnya wajah sang putra lekat, sebelum mengucapkan beberapa bait kalimat yang sudah terancang di kepala.
"Pergilah ke negara xx, urus bisnis properti keluarga kita yang nyaris gulung tikar di sana."
"Apa maksud ayah," jawab Rangga spontan seiring tubuhnya yang ikut bangkit dari posisi duduknya.
" Diam! Ayah belum selesai berbicara," bentak Sofyan. Rangga yang setengah emosi, kembali duduk selepas Siska menarik lembut satu tangannya.
"Tunjukan keseriusanmu pada kami jika ingin menikahi gadis itu. Urus bisnis keluarga kita di negara xx. Tunjukan kinerjamu untuk bisa menstabilkan kembali perusahan keluarga kita yang kini dalam masa pailit dan nyaris gulung tikar. Jika kau berhasil menjayakan kembali perusahaan tersebut, maka kami pun tidak akan menghalangi apa yang sudah menjadi keinginanmu. Lusa kau akan kukirim ke negara xx, dengan syarat jangan mengabari atau memberi tahu apa pun tentang kepergianmu kali ini."
Tatapan Sofyan kini menggelap. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Terima penawaran ayah atau angkat kaki sekarang juga dari rumah ini!" Ucapan lantang Sofyan seakan bergema, memenuhi ruangan.
Siska mengkerut seketika. Wajah perempuan paruh baya itu menunduk. Bagaimana jika putranya tak mampu berfikir jenih kemudian memutuskan untuk pergi dari rumah dan memilih tinggal bersama Anastasya. Tidak!! Ini tidak boleh terjadi. Batin Siska selah menjerit untuk meminta sang putra tetap tinggal bersamanya dan melupakan Anastasya.
"Tapi ayah, Anastasya pasti akan--"
"Diam! Turuti ayah, atau pergi tanpa apa pun dari kami," tegas Sofyan yang membuat Rangga mati kutu.
"Baiklah, aku akan turuti keinginan ayah. Tetapi janji, jika aku bisa menjayakan kembali perusahan properti di negara xx, maka aku akan membawa Anastasya kehadapan kalian, dan aku tidak ingin mendengar adanya penolakan lagi yang keluar dari bibir kalian." Tak masuk akal. Penawaran sang ayah sepertinya cukup merugikan dirinya. Dan apa, dilarang menghubungi Anastasya. Tidak semudah itu. Rangga bahkan sudah mempunyai cara untuk menghubungi sang kekasih tentunya tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Ya. Andai kau bisa kembali dengan kesuksesan. Jika tidak, ayah pun tak bisa memastikannya."
Kini siska tampak menghela nafas lega. Senyum kemenangan tercetak jelas di bibir tipisnya.
__ADS_1
Putranya memang benar-benar bodoh. Dia tak tau berapa waktu yang akan ia habiskan untuk membangkitkan perusahaan yang sudah terlanjur remuk. Cukupkah satu atau dua tahun waktu yang dihabiskan? Tentu tidak. Dan Siska hanya menanggapinya dengan kekehan.
"Baik, dan bisakah aku keluar sekarang? Bukankah pembicaraan kita sudah jelas, bertemu pada titik kesepakatan?"
"Oh tentu." Sofyan tersenyum tipis. Perlahan tubuhnya bangkit, mendekat kearah sang putra yang sudah bangkit pula. "Berikan seluruh ponselmu pada Ayah." Tangan pria itu mengadah, tepat di hadapan sang putra.
"Tidak! Bukankah aku sudah menyetujui penawaran dari ayah?"
Sofyan kini tersenyum miring, sunghuh tidak habis fikir dengan tipu muslihat yang tengah dirancang sang putra.
"Tentu, tapi itu tak menjamin jika kau tak menghubungi gadis itu diam-diam di belakang ayah. Sekarang berikan seluruh ponselmu. Oh ya, dengan terpaksa ayah memutus semua akses internet dan telepon yang selama ini kerap kau gunakan untuk menghubunginya, termasuk laptop."
"Tidak ayah."
"Cepat!!"
"Tidak!"
Satu tamparan keras kembali melayang di rahang kiri Rangga. Pria muda itu terhuyung oleh kerasnya hantaman, hingga tubunya terhempas ke lantai.
"Baiklah pembangkang. Jika kau tak ingin menyerahkannya, maka biarkan para pengawallah yang akan menggeledahnya.
Sofyan berbalik badan, meninggalkan sang putra yang tak lagi mampu menjawab ucapannya. Siska pun mengejar sang suami, sempat melirik kearah sang putra yang terkapar di lantai dengan sudut bibir pecah di aliri cairan kental berwarna merah.
Maafkan ibu, Nak.
Bersambung.
Oh... Anastasya. Berawal dari sinilah penderitaan Anastasya yang sebenarnya baru dimulai. Karir juga kehidupan bahagia , seakan mulai hancur seiring kehamilan yang ia jalani tanpa sosok penabur benih di sampingnya.
Sempat berfikir mengakhiri hidup, namun tuhan berkata lain. Tanpa ia kira, kehidupan pernikahan yang selama ini diimpikan, justru nyata menghampiri. Akan tetapi, lagi-lagi takdir seolah mempermainkannya. Kehidupan pernikahan tanpa cintalah yang ia jalani. Hingga memilih satu orang gadis yang akan ia nikahkan dengan suami, menjadi titik final keputusan, yang dirasa mampu melepasnya dari belenggu pernikahan yang menjeratnya.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Kau terlalu manis untuk disakiti, Anastasya.
__ADS_1