
Dua pasang kaki itu saling injak. Beruntung tertutup meja hingga tak terlihat. Sesekali Inces meringis menahan sakit, namun di tutupi dengan seulas senyuman tatkala Rangga atau pun Anastasya menatap kearahnya.
"Aw," pekik Maya seraya membunhkam mulutnya cepat.
"Kakak kenapa?" tanya Anastasya polos seraya mengamati raut wajah Maya yang seperti menahan sakit.
"A- aku tidak apa-apa," ringis Maya sembari memasang wajah santainya, berusaha berkata jika dia sedang baik-baik saja.
Saat Anastasya kembali menikmati makan, Maya membulatkan mata kearah Inces yang tengah tersenyum lebar. Satu alisnya terangkat, melirik kearah Anastasya dan Rangga yang sesekali terciduk mencuri pandang.
Sesuai ucapan Rangga, dia membawa Anastasya juga kedua rekannya untuk makan malam bersama disebuah resto yang pernah gadis itu datangi beberapa hari lalu.
"Tempat makan sederhana," gumamnya saat mulai memasuki tempat bergaya tradisional itu.
Pada waktu itu Rangga sempat membuntuti Anastasya hingga sampai area parkir tempat ini, meski pun ia tak berniat turun sebab takut ketahuan.
Menu yang disajikan pun cukup sederhana dan tergolong makanan kampung namun memiliki cita rasa yang sungguh nikmat. Pria tampan itu melirik sekilas kearah gadis di sampingnya. Anastasya bahkan tak mengunakan sendok untuk untuk makan, tetapi dengan menggunakan kedua tangannya.
Sebuah senyuman terulas di bibir seksi Rangga. Rasa kagum itu, kini kian melebar seiring lebih sering mereka bersama.
"Tasya, kau tidak menggunakan sendok?" Satu tangan Rangga yang memegang sendok terangkat.
Gadis itu mengulas senyum manis.
"Tidak tuan. Kali ini saya ingin makan dengan menggunakan tanggan, seperti saat saya hidup di kampung." Begitulah Anastasya. Semua kenangan hidup di desa, masih senantiasa terpatri dalam sanubari.
Rangga mengangguk faham. Entah, semua yang ada pada diri Anastasya, membuatnya kian terpesona.
Perbincangan keduanya masih berlanjut, bahkan kini tampak membahas masalah pekerjaan. Gadis itu baru tersadar jika pria tampan yang kini bersamanya ialah pewaris Agensi model yang menaungi dan menunjang karirnya satu tahun kedepan. Sungguh suatu kebetulan, meski kedua rekannya pernah mengatakan hal semacam itu, hanya saja pada waktu itu ia masih menggagapnya tak penting. Akan tetapi, kali ini cukup berbeda. Saat pria itu bahkan memberi traktiran, berbaur dengan rakyat biasa yang jauh dari lingkup pergaulannya.
__ADS_1
*****
Anastasya dan kedua rekannya saling lempar pandang saat Rangga meminta pada sopir pribadinya pulang dengan memesan taksi online.
"Ayo, tunggu apalagi," ucap Rangga tatkala tubuh pria itu mendarat di kursi kemudi.
Ketiganya gelagapan. Ragu untuk membuka pintu mobil hitam mengkilat yang ditaksir memiliki harga sekian milyar.
Suara klakson sponntan mengejutkan ketiganya yang masih terpaku. Berdiri dengan mimik wajah kebingungan.
"Bagaimana ini?" Anastasya ketakutan. Sementara kedua rekannya menggeleng, tak mampu memutuskan.
Rangga yang sudah cukup lama menunggu, kini menuruni mobil dan mendekat kearah Anastasya juga kedua rekannya.
"Kenapa bingung? Bukankah kita tinggal di tempat yang sama. Tidak salah kan jika aku pulang dengan membawa serta kalian," terang Rangga yang beberapa saat kemudian diangguki oleh Inces.
"O iya, benar juga. Kenapa kita lupa, ah buang-buang waktu saja." Tanpa ragu Inces pun memasuki mobil mewah tersebut dan mendaratkan pantatnya dengan hati-hati. Takut jika jok mobil rusak sebab ulahnya.
Kini pandangan Rangga tertuju pada Anastasya yang terlihat salah tingkah.
"Tasya, ayo," titah Rangga.
Gadis itu pun mengangguk kemudian melangkah untuk menyusul maya.
"Tasya, kau mau kemana?" Rangga bertanya cepat tatkala pintu belakanglah yang menjadi tujuan gadis incarannya.
"Duduk," jawab Anastasya polos.
"Di belakang?" tanya Rangga tak percaya yang justru di angguki oleh Anastasya.
__ADS_1
"Ya tuhan. Apa kau fikir aku ini sopir jika kau biarkan aku duduk di kursi depan seorang diri." Setengah geram Rangga mengucapnya.
Gadis itu tersenyum kikuk, akan tetapi pipinya pun merona merah tatkala dengan sigap Rangga membuka pintu mobil depan untuknya.
*****
Binar-binar bahagia itu masih tersisa bahkan saat Rangga memasuki apartemen miliknya.
"Apakah aku jatuh cinta," gumam Rangga sembari merebahkan tubuh kekarnya di atas sofa sementara pandangannya tertuju pada langit-langit ruangan.
Ponsel di saku celananya bergetar. Dengan malas Rangga merogoh benda pipih tersebut, lantas memeriksanya. Tertera nama sang ibu di sana.
"Ibu, kau menggangu putramu saat sedang asyik berkhayal."
Meski sedikit kesal, pria itu bergegas mengangkat banggilan. Takut jika sang ibu murka jika terlambat merespon panggilan.
"Hallo, ibu."
Terdengar suara sang ibu yang langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Rangga tersadar jika kepindahannya keapartemen bahkan tanpa sepengetahuan sang bunda juga ayahnya.
Semua hanya demi misi untuk mendekati gadis polos yang sudah memporak porandakan perasaannya. Hingga hal yang belum pernah ia lakukan, mulai dijalani.
Panggilan terputus. Terlihat Rangga menghela nafas dalam, akan tetapi sudut bibirnya mengulas senyum penuh makna.
"Bagaimana jika kubawa Tasya dalam pesta esok hari. Ibu pasti tidak akan menolaknya."
Rangga berjalan kearah jendela kaca. Menyibak tirai berwarna putih hingga menampakkan pemandangan kota saat malam, dengan kerlipan lampu yang terlihat indah dari tempat Rangga berdiri kini.
"Sungguh pemandangan yang indah, seperti indahnya dirimu, tasya."
__ADS_1
Bersambung