
Ketukan di pintu apartemen terdengar. Rangga lekas mengenakan seluruh pakaian, kemudian melangkah untuk membuka pintu tersebut.
"Selamat pagi, tuan. Saya datang membawa pesanan yang anda minta." Pria yang tak lain adalah pengawal keluarga Rangga itu menyerahkan beberapa papar bag pada sang tuan.
"Terimakasih," jawab Rangga seraya menerima barang tersebut.
Selepas menundukan kepala, pengawal tersebut pun pergi. Rangga menutup pintu dan tak lupa untuk menguncinya.
Satu persatu papar bag itu Rangga periksa. Beberapa diantaranya berisi pakaian dan juga sarapan yang ia pesan.
Pria itu menatap kearah kamar mandi yang masih tertutup rapat. Entah sudah berapa lama Anastasya berada di dalam sana. Berucap hendak membersihkan diri namun sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu, gadis itu masih tak kunjung keluar. Bahkan gemercik air pun tak lagi terdengar.
Rangga menghela nafas dalam kemudian mengusap wajahnya kasar. Pintu kamar mandi itu serasa menarik perhayiaanya untuk didatangi.
Pria berjambang itu pun mendekati pintu bercat putih tersebut lantas mengayunkan beberapa ruas jari untuk mengetuk.
"Sayang, kau baik-baik sajakan? Cepat keluarlah. Aku menunggumu untuk sarapan." Dada pria itu berdetak kecang. Takut jika sesuatu hal terjadi pada Anastasya.
Bagaimana jika Anastasya menangis, menyakiti diri atau yang lebih buruk, berusaha menghabisi diri di dalam kamar mandi. Rangga terbelalak seketika. Tidak boleh. Anastasya tak boleh melakukan hal semacam itu.
"Sayang, sayang, buka pintunya." Rangga mengetuk pintu lebih keras lagi mana kala gadis di dalamnya tak terdengar menyahut.
Rangga mulai panik dan frustrasi.
"Say.."
__ADS_1
"Sebentar," jawab sebuah suara dari dalam kamar mandi.
Rangga menghela nafas lega. Ia dengan setia menunggu di depan pintu sampai pintu itu pun terbuka.
"Sa, sayang. Kau baik-baik saja kan?" Bibir Rangga bergetar, sepasang matanya memanas. Kedua bola mata bening sang kekasih rupanya memerah dan sembah. Tidak salah lagi, Anastasya baru saja menangis di dalam sana.
"A-aku, baik-baik saja." Anastasya mengalihkan pandangan. Enggan bersitatap dengan mata sang kekasih.
"Tasya," ucap Rangga seraya meraih dagu sang kekasih. Meminta pada gadis pujaannya itu untuk balas menatapnya. "Lihat aku. Kau habis menangis kan?" Sambung Rangga lagi.
Kini pandangan keduanya berpaut. Anastasya tak menjawab, justru air matalah yang mengalir deras tanpa mau dicegah.
Rangga spontan memeluk tubuh Anastasya. Hingga gadis itu menangis kencang dalam pelukannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tau, perbuatanku salah. Tetapi aku pastikan, jika semua akan baik-baik saja."
💜💜💜💜💜
Beberapa minggu berlalu selepas kejadian. Baik Anastasya atau pun Rangga, masih menjalani hidup seperti sedia kala.
Rangga mulai menunjukan eksistensinya di dunia bisnis dalam mengelola beberapa Agensi model milik Wiratama Group.
Anastasya pun demikian, karirnya meroket tajam seiring dengan banyaknya tawaran dari beberapa rumah produksi juga stasiun TV untuk bisa menjalin kerja sama.
Hubungan keduanya pun masih terjalin sebagai mana mestinya. Tak ada yang berubah, hanya saja Anastasya sadar jika keberadaanya di sisi Rangga, masih dipandang sebelah mata oleh keluarga Rangga.
__ADS_1
Alarm dari ponsel Anastasya terus meraung di atas nakas. Gadis itu memang terbiasa mengatur waktu bangun tidur, mengingat akan ada jadwal pemotretan pagi ini.
Tubuh yang masih tertutup selimut itu mulai bergerak. Mengulurkan tangan untuk menjangkau ponselnya yang masih belum berhenti meraung.
Dengan satu kali gerakan, bunyi yang berasal dari benda pipih itu pun terhenti.
Gadis itu mulai menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Berusaha mengumpulkan kesadaran selepas beberapa saat membuka mata.
Akan tetapi, pagi ini kondisi tubuh Anastasya tak seperti biasanya. Kepala terasa berat dan juga pusing.
"Kenapa ini?" Lirih Anastasya sembari memijit pelipisnya pelan.
Bena pipihnya kini bergetar. Anastasya melirik sekilas dan mendapati nama asisten pribadinya tertera di layar ponsel.
"Bagaimana ini?"
Gadis itu menerima panggilan. Kemudia meminta asisten pribadinya untuk datang kerumah.
Tertatih langkah Anastasya saat membawa tubuhnya menuju kamar mandi. Namun saat tercium aroma pengharum ruangan, seisi perut gadis itu terasa teraduk.
"Hump." Anastasya spontan membekap mulut. lekas berlari menuju arah wastafel.
"Hoek."
Anastasya memuntahkan seluruh isi perut, namun tak ada makanan apa pun yang keluar selain cairan berwarna kuning yang terasa begitu pahit.
__ADS_1
Wajah gadis itu pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi kening dan tubuhnya. Anastasya hanya bisa merintih. Menyadarkan tubuh pada dinding dengan susah payah. Berharap asisten pribadinya akan segera datang dan lekas menolongnya.
Bersambung