
"Aku sudah mengabarkan orang tuaku jika kau akan datang berkunjung." Rangga memulai percakapan, selepas beberapa saat keduanya bungkam.
Tak terdengar jawaban. Anastasya hanya terlihat menganggukan kepala.
Kuda besi memecah jalanan padat di ibu kota. Anastasya lebih senang menatap kearah luar jendela kaca dan sibuk dengan alam fikirnya sendiri. Sedangkan Rangga, pria tampan itu terlihat fokus memandang jalanan, akan tetapi fikirnya pun melayang jauh.
Anastasya hamil, hasil buah cinta mereka berdua. Akankah Rangga senang? Tentu saja, bukankah ini yang sedari dulu pria itu harapkan saat mulai membangun hubungan dengan Anastasya. Namun di sisi lain, bagaimana dengan tanggapan dari kedua orang tuanya? Akankah mereka menerima dengan lapang dada atau justru sebaliknya.
Rangga melirik sekilas pada Anastasya yang duduk di sampingnya. Selepas keluar dari klinik, gadis itu tak banyak bicara. Dia hanya akan menjawab ketika ditanya.
Pria tampan berkemeja biru malam itu menghela nafas dalam. Spontan satu tangannya mengusap lembut tangan sang kekasih yang tergeletak di pangkuan.
"Sayang, ada apa? Kau baik-baik saja 'kan?"
Anastasya tersentak.
"Sayang, berkendaralah dengan benar. Kita bisa celaka jika tingkagmu seperti ini." Anastasya setengah geram Saat Rangga berkemudi hanya dengan satu tanggan sementara satu tangan lain sedang menggengam tanggannya.
"Maaf." Rangga meringis. Menarik tanggannya kembali guna mengatur kemudi.
Selebihnya tak terdengar lagi adanya percakapan. Keduanya saling diam hingga kuda besi yang mereka tunggangi sudah memasuki gerbang kediaman orang tua Rangga.
Gamang. Saat laju kendaraan sudah terhenti, jantung Anastasya kian berdetak kencang. Kehudupannya akan dipertaruhkan saat ini. Bagaimana nasib diri kedepannga, tergantung keputusan orang tua Rangga hari ini. Di mana dirinya mampu diterima dengan tangan terbuka atau justru dilempar dengan hina.
Anastasya terkesiap selepas pintu mobil di buka dari luar. Tanpa sadar, rupanya Rangga sudah lebih dulu turun hingga menunggunya yang masih mematung di tempat semula.
"Ayo turun, tunggu apa lagi. Ibu dan Ayah pasti sudah menunggu kita di dalam."
Gadis dengan dres selutut bermotif garis horisontal itu mengangguk samar. Sepasang kaki jenjangnya mulai bergerak membawa tubuhnya menuruni kendaraan.
Selepas menutup kembali pintu, dengan bersemangat melangkah seraya mengapit mesra tangan sang kekasih.
Berulang kali Anastasya memejamkan sepasang mata saat langkah kakinya mulai memasuki kediaman megah orang tua Rangga. Tegang pun penuh kecemasan. Sekujur tubuhnya terlihat gemetar, begitu pun dengan peluh dingin yang hampir membasahi seluruh badan.
Dua orang pelayan wanita mendekat begitu sang tuan membawa kekasihnya duduk di sofa ruang tamu. Penuh kasih sayang Rangga membimbing tubuh sang kekasih untuk duduk di sofa empuk yang akan membuat gadis itu nyaman.
"Hati-hati, sayang. Ingat, di dalam ada calon bayi kita."
__ADS_1
Kedua pelayan yang berdiri di sudut ruangan, spontan tersentak. Keduanya saling pandang dan berbicara lewat gerakan mata, akan tetapi tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibit keduanya mengingat hal yang terjadi bukanlah ranah yang patut mereka campuri.
Anastasya terdiam, namun ekor matanya melirik kearah dua pelayan yang sepertinya menunjukan keterkejutan begitu mendengar ucapan sang tuan.
"Bibi, tolong berikan minuman dan camilan untuk tasya." Rangga berfikir sejenak, kiranya minuman apa yang harus wanita hamil konsumsi. "Em, buatkan Tasya susu hangat dan buah segar."
Satu pelayan menganggukkan kepala sopan. Selepas mendengar perintah sang tuan, perempuan setengah baya itu berbalik badan meninggalkan ruangan.
Rangga menatap satu pelayan lain yang masih berdiri siaga di tempatnya. Pria itu menatap kesekitar. Di mana keberadaan orang tuanya kini. Bukankah mereka bilang jika akan menyambut kedatangan Anastasya, begitu dirinya tiba. Lalu kemana mereka, kenapa justru tak terlihat.
"Bibi, di mana Ibu dan Ayah. Kenapa tidak terlihat?" Mungkin ada di kamar. Begitu fikir Rangga.
"Maaf tuan muda, Nyonya dan tuan besar baru saja keluar beberapa saat lalu," jawab Sang pelayan.
"Apa?!" Rangga terkesiap. "Kapan, maksudku sudah berapa lama mereka keluar?"
"Sekitar lima belas menit yang lalu, tuan."
"Apa?" Lagi, Rangga terkesiap. Rahang pria itu mengeras menahan geram. Lima belas menit lalu, bukankan itu beberapa saat selepas Rangga mengabarkan kedatangannya beserta Anastasya ke rumah?
Apakah mereka sengaja.
Pelayan kini datang dengan membawa nampan berisi susu hangat dan juga potongan buah segar yang untuk Anastasya.
Rangga nampak tak tenang. Begitu menyadari ketidak nyamanan sang kekasih, pria itu pun meraih segelas susu hangat di meja, lantas meminta sang kekasih untuk meminumnya.
"Sayang, ayo minum susunya. Kau harus tetap sehat, agar calon adik bayi juga sehat."
Anastasya tak menolak. Ia meneguk susu tersebut dengan perlahan. Kini Rangga pun juga menyuapi potongan buah kemulutnya. Gadis itu tak mampu menolak, meski sejujurnya enggan.
"Sayang, maaf aku tinggal sebentar." Rangga beralasan. Ia lebih dulu mengusap puncak kepala Anastasya sebelum beranjak.
💜💜💜💜💜
Gemas, Rangga menekan satu nomor kontak yang berpuluh kali ia hubungi namun tak ada jawaban.
"Sial." Rangga mengumpat kesal kala panggilan untuk sang ibu berada di luar jangkauan.
__ADS_1
"Sebenarnya apa mau kalian?" Rutuk Rangga untuk kesekian kali. Ia sengaja menjauh dari ruang tamu, berharap Anastasya tak mendengar makian dari bibirnya yang ia tujukan untuk kedua orang tuanya.
"Tidak mungkin jika mereka ada keperluan mendadak. Jika iya, kenapa tidak memberitahukannya padaku lebih dulu hingga kejadiaannya tak akan seperti ini." Pria itu menjambak rambutnya sendiri. Cukup frustrasi dengan semua yang terjadi.
Jika ditilik, gelagat kedua orang tuanya seakan sengaja menghindar sebagai bentuk penolakannya pada Anastasya secara tidak langsung.
"Bagaimana ini?" Rangga mondar mandir di ruang tengah. Kebingungan mencari solusi juga alasan yang akan ia berikan pada sang kekasih perihal ketiadaan orang tuanya.
Kembali Rangga menghubungi kontak sang ayah. Terdengar nada tersambung dari seberang, akan tetapi tetap tak mendapat jawaban hingga panggilan berakhir.
"Sial." Rangga menghela nafas kasar. "Tidak mungkin mereka melakukan hal sekejam ini padaku." Rangga yang bodoh, tetap mengira orang tuanya akan menerima Anastasya, meski sempat melakukan penolakan.
Seorang sopir berjalan tergesa kearah sang tuan.
"Kemana perginya ibu dan ayah?" Rangga lekas melempar tanya pada seorang sopir yamg baru saja mengantar kedua orang tuanya.
Pria paruh baya itu menunduk, wajahnya terlihat pucat pasi.
"Maaf , tuan. Saya hanya mengantar tuan besar juga Nyonya kesebuah Resto yang terletak di jalan xx. Selebihnya saya tidak tau apa-apa."
Gila. Ke resto dia bilang? Apakah itu lebih penting dari pada menyambut kami?
"Apa ayah atau ibu datang ke tempat itu menemui rekan bisnis?"
Sopir tersebut hanya menggeleng. Dia takut jika jawabannya salah dan justru akan timbul kesalah pahaman dan berujung pemecatan.
"Kau tidak berbohong?"
"Demi tuhan tidak tuan. Saya berani bersumpah. Selepas mengantar Tuan besar, saya pun kembali pulang begitu kepala pelayan menghubungi."
"Baiklah." Rangga tak melihat kebohongan dari pekerjanya tersebut. "Kembalilah bekerja."
"Terimakasih, tuan." Pria itu menundukan kepala, berbalik badan kemudian berlalu pergi.
Sesak di dada, benarkah ini sebagai wujud penolakan dari orang tuanya.
Tubuh Rangga seakan lemah. Tak tahan berdiri, pria itu pun terduduk di sebuah kursi dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Sementara itu di subah guci besar yang terpajang indah, sesosok gadis mendengar semua ucapan juga melihat semua kejadian. Tubuh gafis itu pun terasa lemah, bahkan luruh kelantai. Kini semua nyata. Bayang-bayang mengerikan yang selama ini ia khawatirkan mulai terpampang jelas.
Kepergian orang tua Rangga saat dirinya datang, menjawab segalanya. Gadis itu pasrah. Jika hubungan mereka berakhir detik ini juga.