
Selepas menyambangi apartemen baru Anastasya, Rangga pun mengantar sang kekasih untuk pulang. Begitu banyak wejangan yang pria itu berikan pada Anastasya untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan meski pada orang terdekatnya sekali pun.
Bila gadis itu tak sedikit pun menarun curiga, akan tetapi berbeda dengan Rangga. Pria berbadan tegap itu mengedus aroma kebusukan dari diri seorang Sarah.
Ia sadar jika tak mengenal Sarah sebelumnya. Rangga hanya sempat mendengar nama perempuan itu disebut oleh Anastasya pada beberapa kesempatan. Sarah memang berjasa besar pada kehidupan bahkan kesuksesan karir Sang kekasih dalam dunia model. Namun bukan berarti jika Anastasya pun dituntut untuk membalas jasa dengan beberapa hal yang menurutnya tak masuk akal. Termasuk bersedia mengantikan Sarah untuk berpose dengan pakaian minim dalam sebuah majalah pria dewasa.
Terdengar tak masuk akal. Jika dia memang mengalami kecelakaan, bukankah sepatutnya ia mencari solusi bersama rumah produksi dengan mengunakan model penganti misalnya, tanpa harus memaksa Anastasya untuk bisa menggantikannya.
Rangga sudah merasa curiga mana kala ponsel sang kekasih yang nyata tersambung namun tak jua terjawab hingga panggilan keluar mencapai puluhan bahkan mungkin ratusan kali. Terlebih Anastasya pergi tanpa Rio sang supir yang sengaja ditugaskan Rangga dan lebih mengunakan kuda besinya seorang diri.
Pria itu luar biasa cemas. Ia sempat kecewa pada Anastasya yang terkesan acuh dan melupakannya. Nyaris kehilangan akal dan melempar barang apa saja dalam jangkauan, hingga pria tampan itu tersadar jika sudah memasang alat pemantau pada mobil sang gadis.
Selepas menempuh perjalan sekitar tiga puluh menit, Rangga kini memasuki gerbang utama kediaman orang tuanya.
Keadaan sekitar cukup sepi. Hanya ada beberapa pengawal juga pekerja yang nampak berlalu lalang.
Pria dengan kemeja putih tulang itu menuruni kuda besi miliknya selepas menyimpannya di garasi. Tubuhnya terasa lelah. Ia berniat untuk membersihkan diri sebelum mengistirahatkan tubuhnya di atas peraduan.
Derap sepatu yang beradu dengan lantai marmer, memecah keheningan dari ruangan luas yang tampak senyap. Rangga kian mempercepat langkah dan memfokuskan pandangan hanya kedepan tanpa memperhatikan sekelilingnya.
"Masih ingat jalan rumah kau rupanya." Suara seorang perempuan terdengar lantang. Bergema, memenuhi ruangan.
__ADS_1
Rangga terkesiap, begitu pun dengan langkahnya yang spontan terhenti. Pria itu berbalik badan, menatap pada sosok pemilik suara yang tak asing lagi di indra pendengarannya.
"Ibu," lirih Rangga.
"Kenapa, terkejut?" Siska mengayunkan langkah, dengan melipat tangan di dada, perempuan paruh baya itu membawa tubuhnya untuk mendekati sang putra.
Rangga menghela nafas. Melihat raut wajah sang ibu yang tak bersahabat, membuat pria muda itu sadar jika ia sedang dalam masalah besar.
"Tidak, aku hanya tidak sadar jika ibu sedang ada di tempat ini." Fikiran yang cukup kacau membuat Rangga tak memperhatikan sekitar. Bahkan keberadaan sang ibu diruang tamu pun luput dari penglihatannya.
"Seberharga itukah gadis miskin itu hingga kau memilih meninggalkan rumah dan tinggal bersamanya?" Siska menatap tajam sepasang netra elang sang putra. Seorang anak yang sudah ia besarkan dengan kemewahan, namun akhir- akhir ini justru membuatnya meradang.
Siska mendengus. Dadanya mulai naik turun. Meski sebagian waktunya tersita dengan segala aktifitas di luar rumah, tetapi Siska tak pernah lalai dalam menjalankan kodratnya sebagai istri juga seorang ibu. Tak terlihatnya Rangga beberapa minggu ini dikediaman mewah mereka pun tak luput dari penglihatan Siska, hingga membuat perempuan paruh baya itu murka dan menunjuk Anastasya sebagai biang masalah.
"Sihir apa yang dimiliki gadis itu hingga membuat mata dan hatimu dibutakan oleh cinta. Gadis miskin dan murahan yang tak sebanding dengan Amara."
"Stop! Apa maksud Ibu? Kenapa membandingkan Anastasya dengan Amara?" Rangga tak terima. Terlebih saat sang ibu menyebut Anastasya sebagai gadis murahan.
"Agar kau sadar dan membuka mata. Mereka, benar-benar berbeda. Bagaikan bumikan bumi dan langit."
Dada Rangga seakan teremas sosok kuat yang tak kasat mata. Begitu sesak kala sosok perempuan yang teramat ia hormati mengungkit status sosial sang kekasih yang berasal dari keluarga biasa berbeda dengannya yang bergelimang harta.
__ADS_1
Sementara jika dibandingkan dengan Amara, benar, keduanya bagai langit dan bumi jika menyangkut kasta. Akan tetapi, bagi Rangga tak ada sosok gadis terbaik selain Anastasya di matanya.
"Maaf bu, aku masih cukup sadar untuk bisa mengambil setiap keputusan yang aku ambil. Begitu pun dengan hubungan yang aku jalani kini dengan Anastasya. Aku mencintainya."
Siska memalingkan wajah. Giginya mengerat menahan geram. Tubuhnya memanas seketika. Tak terima jika sang putra mencintai seorang gadis yang tak sesuai dengan keinginannya.
"Cinta," ucap Siska Sinis. "Benarkah? Tapi aku sangsi. Jangan-jangan dia berpacaran denganmu hanya untuk mendompleng popularitas dan juga hartamu semata," sambung Siska dengan tersenyum miring seolah mencela Anastasya.
"Ibu cukup! Berhenti mencela Anastasya. Dia bukan gadis rendahan seperti yang ibu tuduhkan!"
Siska terbelalak. Rupanya Anastasya sudah mencuci otak sang putra sedemikian rupa, hingga Rangga yang bertutur kata lembut pada kedua orang tua, kini justru meninggikan intonasi suara pada sosok perempuan yang sudah berjasa melahirkannya.
"Kau berani membentakku!? Membentak perempuan yang sudah melahirkanmu di dunia dengan bertaruh nyawa?" Siska mengepalkan kedua tangan. Sorot matanya tajam menatap sepasang mata elang sang putra dengan lekat. Ia tak terima, jika dirinya dikalahkan kedudukannya di hati sang putra dari Anastasya.
Rangga mengusap wajah kasar. Frustrasi seketika. Ia tak berniat untuk membentak sang ibu, akan tetapi ucapan yang keluar dari bibir perempuan itu nyatanya membuat emosinya meluap. Tak terima begitu saja akan tuduhan miring yang perempuan itu tujukan pada Anastasya.
"Bukan begitu maksudku, bu. Hanya saja ---"
"Cukup. Lusa kita akan datang menemui orang tua Amara. Untuk makan malam sekaligus membicarakan hubungan kalian berdua. Jangan lagi menolak seperti sebelum-sebelumnya. Ingat, jika kau mangkir atau beralasan apa pun, ingat! Detik itu juga kau akan terhapus dari ahli waris keluarga Wiratama." Siska lekas berbalik badan. Melangkah cepat meninggalkan sang putra dengan menahan sesak di dada.
Bersambung
__ADS_1