Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Penolakan Di Depan Mata


__ADS_3

Anastasya tak pernah berfikir berada pada titik sejauh ini. Saat berdiri di hadapan hunian super mewah, ia tersadar, jika diantara ia dan Rangga sejatinya terhalang sekat pemisah yang tak mudah dilalui begitu saja.


"Ayo masuk." Pria dengan atasan kemeja berwarna krim itu menarik lembut tangan Anastasya. Mengandengnya menyusuri halaman luas sebelum memasuki pintu orang tua.


Beberapa pelayan sigap menyambut sang tuan. Serentak menundukan kepala, dan menyapa.


Anastasya terkagum. Ini bukan sekedar hunian biasa, tetapi lebih tepat jika disebut istana. Pagar tinggi menjulang, bangunan berlantai tiga dengan gaya eropa, serta seluruh perabotan mewah yang mengisi setiap sudut ruang. Gadis itu hanya bisa menelan saliva. Seluruh tubuhnya bahkan gemetar, saat memasuki pintu utama. Meski pelayan menyambutnya ramah, tapi tetap saja, ia takut jika sikap tak suka kedua orang tua Rangga padanya kembali ditunjukan.


"Ibu dan Ayah sudah pulang?" Rangga melempar tanya pada salah seorang pelayan.


"Belum, tuan muda." Pelayan itu mendongak, lantas menundukan kepala selepas menjawab pertanyaan sang tuan.


Pria tampan itu menghela nafas dalam. Tangan sepasang kekasih itu masih setia terpaut. Rangga sendiri sepertinya enggan melepaskan, dan terasa nyaman menggengam tangan lembut Anastasya.


"Sayang, kau tunggu di sini lebih dulu. Aku akan keatas sebentar," tunjuk Rangga kearah tangga. Gadis itu mengangguk, lantas memilih duduk di sofa ruang tamu sembari menunggu.


Satu pelayan pun mendekat. Memilih berdiri di sudut ruangan, tanpa berbicara. Tak berselang lama, salah seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi minuman juga camilan.


"Silahkan dinikmati, nona," ucap sang pelayan.


"Terimakasih banyak," jawab Anastasya. Pelayan tersebut pergi, tetapi tidak dengan satu pelayan yang berada di sudut ruangan. Dia tak bergerak dan tetap pada posisinya.


Derap sepatu terdengar mendekat. Rangga sudah menganti kemeja dengan T-shirt polos biasa dengan bawahan celana santai semata kaki. Tak ada yang berubah, Rangga tetap terlihat tampan seperti biasa.


"Bibi, tolong siapkan makan siang sementara aku membawa Tasya berkeliling," titah Rangga pada sang kepala pelayan, sesaat setelah pria itu berdiri di samping tubuh pujaan hati.


"Baik, tuan." Pelayan paruh baya itu menundukan kepala sopan, lantas berbalik badan meninggalkan sepasang kekasih tersebut.


"Ayo, akan membawamu berkeliling." Tiba-tiba, Rangga meraih jemari Anastasya. Menariknya dan meminta sang gadis untuk bangkit dari posisinya.


"Kemana?"


"Keliling rumah." Sepasang kekasih itu mulai melangkahkan kaki. Beriringan dengan jemari saling bertautan. Tak ada yang salah, mengingat Rangga sebagai seorang kekasih, berniat untuk menunjukan kehidupan juga jati dirinya pada Anastasya. Berharap gadis itu siap menerima kelebihan, bahkan kekurangan yang ada pada dirinya.


Begitu banyak ruang yang mereka masuki. Anastasya tak lagi terkagum pada semua kemewaan yang tersaji di hadapan, sebisa mungkin gadis itu mengontrol diri, seperti sudah terbiasa dengan hal semacam ini.


Akan tetapi, tak mampu ditutupi jika batinnya teriris perih manakala semakin ia mengenal sosok sang kekasih, maka semakin luas pula jurang perbedaan yang terbentang di antara keduanya.

__ADS_1


Pria tampan itu membawa sang kekasih kearah taman yang bersanding dengan kolam renang berukuran cukup luas di area belakang. Aneka bunga berwarna warni dengan tanaman rumput yang tertata rapi, membuat tempat tersebut terasa nyaman untuk melepas lelah selepas seharian beraktifitas.


Anastasya melirik sekilas kearah sang kekasih, wajah pria itu tak secerah saat pertama kali datang. Entah apa yang sedang ia fikirkan, hanya saja pria itu lebih memilih diam dan memendam untuk dirinya sendiri.


Gadis itu tak kehilangan akal. Sebisa mungkin mengembalikan binar di wajah sang kekasih dengan cara mengajaknya terus berbicara, membuatnya tertawa meski tak selepas hari biasanya.


"Apakah kau bosan?" Rangga menatap kearah sang kekasih, meminta jawaban. Keduanya tengah asik bermain air, merendam kaki di kolam renang yang terasa hangat saat terik mentari berada tepat di atas kepala.


"Tidak," jawab gadis itu singkat dengan dibubuhi senyum tipis. Sepasang kaki jenjangnya ia mainkan layaknya bocah. Keluar masuk air kolam dengan sesekali tertawa riang. Entah apa yang lucu, namun nyatanya tingkah polos Anastasya justru membuat Rangga ikut tertawa.


Apakah sesederhana ini rasa bahagia, saat tanpa sadari ikut tertawa, bersama seseorang yang dicinta.


Pria itu bangkit, dengan menarik lembut tangan sang kekasih.


"Ikut aku."


"Hei, kita akan kemana?" Gadis itu terkejut, dengan kaki basah ia memasang kembali alas kaki dan mengikuti langkah sang kekasih.


"Sudah, jangan banyak bertanya. Nanti kau akan tau jawabannya."


Tak mampu menolak, Anastasya mengikuti pergerakan Rangga. Sesekali masih mengamati ruangan sekitar. Berbagai ruangan dengan perabotan mewah di mana-mana. Gadis itu nyaris pusing jika harus berputar-putar mengelilingi rumah besar yang membuat kakinya terasa pegal.


"Sayang, ini ruangan apa?" Wajah Cantik itu memindai seluruh ruangan.


"Perpustakaan, sayang. Kau bisa membaca untuk mengusir bosan."


Gadis itu mengangguk. Diruangan ini memang terdapat banyak buku.


"Ambil buku mana saja yang kau suka. Aku akan keluar sebentar, dan janji tidak akan lama."


Anastasya mengangguk. Rangga pun meninggalkan sang gadis selepas mengusap lembut puncak kepalanya.


*****


Pria tampan itu mengusap wajah kasar. Sebegitu tega kedua orang tuanya yang memilih keluar saat semalam, bahkan ia sudah meminta izin untuk membawa Anastasya datang kerumah.


Keduanya bahkan tak menolak, justru mempersilahkan. Tapi apa nyatanya, mereka justru pergi seakan sengaja menghindar agar tak bertemu dengan sang gadis pujaan hati.

__ADS_1


Marah. Ingin sekali pria itu marah dan berteriak kencang, untuk sedikit saja melepas gejolak di dalam dada. Sesak, begitu sesak.


Apa salah Anastasya? Bukankah dia gadis baik dan bersahaja. Apakah ia hanya dari keluarga tak berpunya hingga orang tuanya tak memberi celah bagi keduanya untuk bersama? Entahlah.


"Bibi, ibu dan ayah sudah datang?" Rangga bertanya pada kepala pelayan. Ia sengaja mengalihkan perhatiaan Anastasya dengan membawanya ke ruang perpustakaan yang letaknya cukup jauh dari dapur. Semua sengaja ia lakukan sebab tak ingin jika gadis itu tahu situasi sebenarnya.


Orang tua Rangga memilih pergi diakhir pekan yang sejatinya tak memiliki jadwal untuk bekerja. Pria itu sebisa mungkin menyembunyikan kebenaran, sebab tak ingin jika gadis itu terluka oleh tindakan kedua orang tuanya.


"Belum tuan muda." Kepala pelayan itu menundukan kepala.


Rangga menatap kearah meja makan yang dipenuhi dengan berbagai macam hidang. Pria itu tersenyum miris saat jemari kokohnya sedikit menyentuh piring saji. Semua makanan bahkan sudah dingin.


Ditatapnya arloji di pergelangan tangan. Waktu bahkan sudah menunjukan pukul 03:00 siang. Bukankah ini amat sangat terlambat untuk waktu makan siang? Rangga menghela nafas dalam. Ia bergegas menghampiri sang kekasih dan membawanya kemeja makan. Ia yakin, sama seperti diri, Anastasya pun pasti merasa sangat lapar kini.


"Sayang, kita hanya makan berdua? Lalu di mana Paman dan Bibi?" Sejujurnya gadis itu hendak bertanya sedari tadi. Tetang kedua orang tua Rangga, yang bahkan tak ia temui saat detik pertama memasuki rumah megah ini. Akan tetapi, ia tak mempunyai keberanian untuk bertanya sampai sejauh itu.


Pria itu terdiam sesaat sembari mengunyah makanan.


"Em.. Mereka sedang ---"


"Oh.. Ada tamu rupanya."


Belum sempat Rangga merampungkan kalimat, sepasang suami istri paruh baya itu datang dengan senyuman lebar.


"Paman, bibi." Anastasya spontan bangkit dari posisinya, menganggukan kepala sebagai saapaan penghormatan.


"Ayah, ibu," ucap Rangga dengan wajah berbinar. "Nah tepat sekali. Ayo kita makan," ajak Rangga pada kedua orang tuanya.


Pasangan paruh baya itu saling pandang. Diam, namun dua pasang netralah yang berinteraksi.


"Kalian berdua saja. Ibu dan Ayah bahkan sudah makan satu jam lalu. Sekarang masih terasa kenyang. Perut kami pasti sudah tak muat untuk menampung makanan lagi, walau hanya sedikit," tolak Siska yang mengucap santai sembari memainkan beberapa paper bag di tangannya.


"Ya sudah, kami kekamar lebih dulu. Habiskan makan kalian. Kami akan beristirahat." Kini sang Ayah, Sofyanlah yang bicara.


Rangga terdiam. Wajah cerah itu kini pucat pasi. Ditatapnya kedua punggung itu yang kian menjauhi dengan nanar. Tangannya terkepal, seolah menahan emosi yang siap meledak kapan saja.


Sial

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2