Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Menyusun Rencana


__ADS_3

Seperti ada bayangan tak kasat mata, langkah Rangga seperti tertarik begitu saja, saat tanpa sengaja netranya menangkap sosok Anastasya yang berdiri di kejauhan.


Meninggalkan kedua pengawal, pria berbadan tegap itu bergerak cepat keluar cafe. Akal sehatnya seperti menghilang, kemudian tersadar selepas sang sopir pribadi, menghentikannya.


"Tuan, anda ingin kemana?" Pria itu bahkan sengaja menghadang langkah sang tuan.


"Kemana? Apa kau lihat dia?" Rangga menunjuk Anastasya yang kian jauh meninggalkannya. "Dia gadis yang aku cari selama ini." Pria itu geram, dengan kelancanganan sopir pribadinya.


"Sabar, tuan. Tuan jangan bertindak gegabah."


Rangga menyipitkan pandangan, nampak tak terima.


"Apa maksudmu? Jika gadis itu sudah di depan mata, bukankah aku bergerak cepat untuk mendekatinya?"


Sopir berpostur tinggi tegap itu menghela nafas, sesaat kemudian ia tertunduk.


"Maafkan saya, tuan. Bukan maksud saya lancang untuk urusan pribadi tuan, hanya saja bukankah anda sudah menyuruh para pengawal untuk menelusuri kehidupan gadis tersebut?"


Deru nafas Rangga kian tak beraturan, menahan amarah. Terlebih kini Anastasya sudah tak terlihat.


"Lalu apa maksudmu?"


"Bukankah gadis yang tuan maksud sedang memasuki gedung Wiratama Management?"


Rangga mengangguk.


"Bahkan tamu yang tak berkepentingan dilarang memasuki area lobi, bahkan bisa masuk kedalam gedung. Bukankah itu artinya jika gadis itu memang memiliki ikatan dengan Agensi model milik tuan, hingga diperkenankan untuk masuk."


Rangga menelaah ucapan seseorang di hadapannya. Benar juka, mengapa tak sempat terfikirkan olehnya.


Lengkung sedikit tebal milik Rangga mengulas senyum simpul. Didaratkannya tepukan di bahu sang sopir seraya berucap,


"Terimakasih. Kau cukup cerdas. Malam nanti, kita perlu bicara berdua." Tersenyum miring, Rangga melangkah lebar, menyebrang jalan raya menuju gedung agensi model. Ia tak tinggal diam dan harus mencari informasi pada orang dalam yang kebetulan tengah menggelar ajang pencarian bakat.


*******


Rangga menatap lurus kedepan, di mana seorang staf tampak menunduk dalam di atas sebuah kursi yang ia duduki.


"Apa kau pernah melihat gadis ini berada di gedung ini?" Ucap Rangga seraya menggeser selembar foto di hadapan seorang pria berkemeja itu.

__ADS_1


Pria itu pun mendongak, diraihnya selembar foto itu dan ditatapnya seksama.


"Bukankah ini salah satu finalis model terbaru kita tuan? Jika tidak salah." Pria yang menjabat sebagai penanggung jawab acara itu pun masih menatap selembar foto ditanggan, sementara otaknya terus menggali memori tentang gadis muda berparas ayu itu.


Rangga mengangguk. Jadi itu alasanya, beberapa kali aku melihatnya ada di kantor ini.


"Baiklah. Jika benar ucapanmu, jika dia adalah salah satu finalis model pendatang baru kita. Maka sudah pasti kau punya identitas gadis itu secara lengkap."


Pria itu mendongak, berusaha menatap sang tuan.


"Benar tuan. Kami selalu menyimpan data pribadi para peserta." Meski pria itu cukup kebingungan menangkap keinginan sang tuan, namun setidaknya dengan menjawab jujur, akan membuatnya aman dari kata pemecatan.


"Bagus. Aku ingin mendapat salinan alamat dan data diri gadis di dalam foto itu. Dan aku tak ingin menunggu lama."


"Baik tuan."


"Sekarang pergilah. Aku beri kau waktu lima belas menit. Jika kau telat, maka aku tak segan-segan untuk memberimu surat peringatan."


"Baik tuan." Pria itu bangkit, menundukan kepala sebelum keluar ruangan. Tergambar jelas gurat wajahnya yang ketakutan. Rangga sendiri sejujurnya menahan gelak agar tak meledak. Tentu dia tak sepicik itu, memecat stafnya dengan seenak jidat. Ia pun masih punya hati, dan tak mungkin menyalah gunakan jabatan yang ia miliki begitu saja.


Berbagai rancangan kedepan sydah diatur Rangga sedemikian rupa, andai saja ia dipertemukan kembali dengan Anastasya. Apakah ini berlebihan? Entahlah, bahkan ia pun tak tau pasti jawabnya.


*****


"Aw," pekik seorang gadis saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh dan membentur lantai.


"Maaf, saya tak sengaja." Dengan sigap pria bersuara bariton itu menarik lembut tangan seorang gadis yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya. "Mari saya bantu," sambung pria itu lagi.


Gadis itu tak menolak, diterimanya uluran tanggan pria yang sudah membuatnya terjatuh. Keheningan disekitar membuatnya bertanya-tanya. Inces dan Maya bahkan mengapitnya, tetapi kenapa mereka kompak diam dan tak menolongnya. Ia pun lekas mendongak untuk memastikan, dan alangkah terkejutnya mendapati kedua orang itu terpaku ditempatnya dengan netra membulat sempurna.


"Kalian kenapa? Kenapa diam saja?" Anastasya kebingungan.


"Hai."


Suara seseorang membuat Anastasya kini menatap seseorang yang sudah menabraknya.


"Apa kau terluka?" tanya seseorang pria itu yang membuat Anastasya terkesiap.


"Em, ti-tidak tuan."

__ADS_1


Tanpa Amastasya sadari Inces dan Maya saling lirik, memberi kode lewat pandangan mata.


"Tu-tuan maaf, teman kami ini tidak sengaja menabrak anda. Mohon tuan bisa memaklumi dan tidak akan memperpanjangnya lagi." Inces bahkan meminta Anastasya untuk menundukan kepala.


"Ana, ayo cepat minta maaf. Kau sudah menabrak tuan ini kan," bisik Inces, susah payah memberi kode, namun Anastasya masih kebingungan.


Seakan faham situasi, Anastasya pun ikut membungkukan badan. Entah siapa pria di depannya ini sebenarnya, hingga Inces dan Maya bersikap seolah ketakutan.


"Hei, apa yang kalian lakukan. Akulah yang salah. Menabrak temanmu hingga terjatuh, untung dia tidak terluka." Rangga menyusuri tubuh Anastasya lewat pandangan. Mengamati apakah ada bagian tubuhnya yang terluka.


"Tidak tuan, saya lah yang salah. Seharusnya saya lebih bisa memperhatikan langkah," ucap Anastasya kekeh. Mungkin memang dialah yang salah, batin Anastasya.


"Ah sudahlah, tidak usah dibahas. Jadi, kau benar-benar tidak terluka kan?" tanya Rangga sekali lagi.


Anastasya menjawab dengan gelengen kepala.


"Apa kau sudah tidak ingat denganku?" Pandangan Rangga tertuju pada Anastasya, yang mana membuat gadis itu mendongak.


Meski takut, namun gadis itu coba menatap wajah pria di depannya. Ia terkesiap, kala pandangan keduanya saling bertautan.


"Apakah tuan pria yang saya temui di depan gedung? Saat tanpa sengaja saya menabrak tubuh anda." Memori dikepa seperti terus berputar.


"Hem, rupanya kau juga masih mengingatku. Bukan hanya itu saja, kau juga orang yang pernah membantuku saat berbelanja di supermarket itu." Rangga mengulas senyum tipis, jantungnya bahkan berdetak dengan kencang.


Inces dan Maya saling sikut. Bagaimana Anastasya, bisa kenal dengan putra dari keluarga terpandang mengingat tingkat pergaulannya yang masih cukup minim di ibukota.


Anastasya mengerjap. Ya, kini dia bisa mengingat semuanya.


"Apa kau tinggal di sini?"


"Iya, tuan."


"Wah, aku rasa sepertinya ini bukan hanya kebetulan. Aku juga tinggal di sini, dan semoga kita bisa sering bertemu kembali."


Anastasya hanya tersenyum kikuk. Ia melirik kearah dua rekannya yang masih kompak membungkam.


Rangga tersenyum penuh kemenangan. Rupanya tak sia-sia mengancam stafnya. Ia bisa mendapat informasi data diri Anastasya dengan cepat dan tepat.


I unit apartemen yang berada di dekat apartemen milik Sarah, dengan mudah ia beli. Tentunya untuk apalagi, jika tidak untuk lebih dekat dengan Anastasya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2