
Langit mulai menggelap saat kuda besi milik Kenan memasuki gerbang nan tinggi menjulang di kediamannya. Wajah pria itu terlihat lelah selepas seharian berjibaku dengan rutinitas kerja ditambah pesan teror yang membuat penat ditubuhnya bertambah.
Begitu membuka pintu kendaraan, wajah cantik Anastasya sudah muncul untuk menyambutnya.
Lelah dan penat yang Kenan rasa, seakan menghilang begitu saja saat tangan ramping itu meraih tangan kanannya kemudian mencium punggung tangan itu takzim.
Kenan luar biasa senang. Ia usap puncak kepala sang istri dan mengecup keningnya lembut.
"Aku senang ketika pulang dan kau berlari menyambutku dengan senyuman." Kenan mecolek hidung Anastasya gemas kemudian merangkulnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Bukankah pekerjaan itu sudah menjadi rutinitasku beberapa minggu ini?" Anastasya tergelak selepas menjawab. Selama menikah Kenan memang tak pelit dalam menunjukan rasa cintanya. Tak seperti dulu saat awal-awal berkenalan, Kenan terlihat begitu hangat dan romantis selepas keduanya menikah.
Anastasya tentu merasakan kebahagiaan tak terkira. Kebahagiaan yang tak pernah ia dapat dari seorang Arka saat mereka membangun biduk rumahtangga. Anastasya yang dulunya tak pandai memasak, kini sedikit demi sedikit mulai belajar bahkan mengikuti kursus untuk bisa menyenangkan hati sang suami.
"Benar juga ya." Kenan tertawa riang. Kehadiran Anastasya dalam hidupnya mampu mematik gairah kehidupan saat sempat berada dalam keterpurukan.
Anastasya tampak melayaninya begitu baik. Mempersiapkan air hangat untuk Kenan membersihkan tubuh, dilanjutkan dengan menyiapkan hidangan di meja untuk sang suami makan malam. Hidup Kenan serasa sempurna, meski di luar itu semua dirinya menyimpan banyak ketakutan akan teror yang selalu dilancarkan oleh keluar mendiang Istrinya.
💗💗💗💗💗
__ADS_1
Benarkah ini jawaban dari rasa ketakutannya, ataukah hanya kebetulan semata?
Kenan masih duduk terpaku di kursi ruang kerjanya. Entah keadaan semacam apa ini? Sempat dilanda teror ancaman yang tak berkesudahan dari salah satu keluarga mendiang istrinya, kini dirinya justru mendapatkan proyek besar yang mengharuskannya untuk tinggal di luar negara dalam waktu cukup lama.
Amerika serikat, negara yang tentunya belum pernah Kenan sambangi sebelumnya. Ia sendiri ragu dan belum mengatakan pada Anastasya perihal adanya proyek besar dalam kepemimpinannya yang mengharuskan dirinya untuk menetap di negara tersebut untuk sementara waktu.
Kenan menekan pelipisnya yang berdenyut. Ada keinginan besar dari dalam dirinya untuk terus melindungi sang istri dari kejamnya dunia luar termasuk saudara mendiang Istrinya, yang sepertinya membeci Anastasya tanpa alasan.
Pria itu pun tak mampu berbuat banyak mengingat dirinya hanya seorang diri tanpa adanya sanak saudara. Hingga timbul sebuah rencana, yang tiba-tiba muncul di benaknya.
"Sayang, pihak perusahan sedang bekerja sama dengan perusahaan asing untuk pembangunan proyek yang berada di negara Amerika yang akan memakan waktu cukup lama. Jadi, maukah kau ikut bersamaku dan menemani hari-hariku di sana selama bekerja?"
Glek.
"Sayang," lirih Kenan begitu mendapati wajah terkejut Anastasya. "Ini hanya sementara waktu, tidak selamanya." Kenan meyakinkan sang istri, meski pria itu tak yakin jika sang istri akan menerima ajakannya.
Wajah Kenan sudah cemas, kedua tangannya sudah memengang tangan sang istri begitu erat. Anastasya sendiri tak menunjukan reaksi apa pun yang mana membuat pria itu kian was-was.
Anastasya pasti akan menolaknya. Aku sadar diri jika hanya pria yang baru saja menyandang status sebagai suaminya. Anastasya pasti berat meninggalkan kehidupan masalalunya dari pada menyongsong masa depan denganku di negara orang.
__ADS_1
Bibir terkatup rapat perempuan itu kini berganti dengan seulas senyum tipis yang pelahan kian melebar. Anastasya tersenyum senang sebelum menjawab, "Ya, aku akan ikut denganmu. Sebagaimana fitrah seorang istri yang rela mengikuti kemana sang suami pergi, begitu pula denganku yang bersedia mengikuti kemanapun langkah suamiku, yang mengandeng dan membawa tanganku dalam gengaman tanganmu. Percayalah, mas. Sebagai suami istri, kita adalah satu. Aku akan ikut kemana pun kau akan membawaku."
Persaan kenan membuncah dengan luapan kebahagiaan. Pria itu masih tak mengira jika Anastasya dengan mudah akan mengikuti permintaannya.
"Terimakasih sayang, aku sempat takut jika kau menolak. Bisa kau bayangkan betapa rindunya aku saat harus terpisah jarak mengingat keadaan kita yang masih bisa disebut pengantin baru."
Anastasya tergelak mendengar kata 'pengantin baru' yang seperti mengelitik teliga saat didengar. Mereka bahkan bukan perawan dan bujang, kenapa harus pakai istilah pengantin baru segala sih, gumam Anastasya setengah terkikik.
"Sayang, kau tertawa? Apanya yang lucu? Kau menertawakanku?" Gelak Anastasya diartikan aneh oleh Kenan. Pria itu menekuk wajah, setengah tak terima.
"Tidak, aku hanya geli saat mas mengucap kata pengantin baru. Aku jadi ingin tertawa mendengarnya."
Kenan mencebik kesal, tapi tak masalah mengingat Anastasya sudah menyetujui keinginannya.
Tiba-tiba Kenan mendekap tubuh sang istri dan mengucapkan kata-kata tepat di telingannya.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih. Kau adalah hadiah terindah yang tuhan kirimkan untukku. Terimakasih karna sudah memilihku." Terdengar begitu merdu di telinga Anastasya, perempuan itu hanya bisa mengangguk sekaligus menitikan air mata. Satu sisi ia bahagia namun di sisi lain ia pun merasakan kesedihan yang tak terkira.
*Mungkin su*dah saatnya.
__ADS_1
Kenan mungkin hanya mengatakan untuk sementara waktu, namun siapa tau jika sebenarnya pria itu sudah mempunyai rencana besar di baliknya. Bukan untuk sementara, namun sepertinya untuk selamanya.
Tbc.