Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Lamaran Mendadak


__ADS_3

Bulu mata lentik itu bergerak, seirama sepasang netra gadis yang perlahan mulai terbuka, mengerjap menyesuikan cahaya yang menyapa indra penglihatannya. Anastasya menatap ke sekeliling. Ruangan yang begitu asing, namun rasa sakit disekujur tubuh membuatnya seketika merintih.


"Nona sudah sadar?" Seseorang perempuan paruh baya dengan pakai pelayan mendekati ranjang.


Anastasya yang masih kebingungan hanya mengangguk.


"Tolong panggilkan tuan, beritahu beliau jika nona sudah sadar," titah pelayan tersebut pada pelayan lain.


"Di mana aku?" Anastasya memberanikan diri untuk bertanya. Ia menyentuh tangannyanya yang berbalut perban, merasakan sensasi sakit yang luar biasa di sana.


"Maaf nona. Mungkin nona lupa jika tuan mudalah yang membawa anda ke rumah ini."


Apa, tuan muda? Rumah? Di mana aku sebenarnya?.


Anastasya coba mengingat kejadian beberapa saat lalu sebelum ia sampai terbaring di ranjang empuk ini.


Bukankah aku....


Gadis itu menelan ludahnya kasar. Dia masih hidup, dia tidak mati. Tetapi siapa yang sudah menyelamatkan dan membawanya ke tempat ini.


Sial. Kenapa aku tak mati saja. Bukankah itu lebih baik dari pada janin ini lahir tanpa sosok ayah. Janin, bayiku..


Disentuhnya perut itu. Anastasya menghela nafas lega saat kandungannya baik-baik saja.


Derap langkah mendekat. Anastasya masih diliputi rasa penasaran pada sosok yang sudah membantunya. Akankah dia seseorang dari kalangan berada, terbukti dari kamar mewah yang ia tempati saat ini atau justru ia ditemukan oleh keluarga Rangga.


Tidak. Anastasya gemetar. Wajahnya ketakutan.


"Kau sudah sadar?" Suara bariton itu mengejutkan Anastasya yang ketakutan. Wajah yang tertunduk itu kini mengadah, hingga bertemu pandang dengan sosok pria tampan yang baru saja muncul dari balik pintu yang terbuka.


Anastasya tertegun. Ditatapnya pria tampan itu yang seperti masih asing baginya.


Dia siapa?

__ADS_1


"Kalian keluar, aku ingin bicara berdua dengannya." Pria itu meminta pada pelayan untuk lekas meninggalkan ruangan.


"Baik tuan."


Selepas memastikan para pelayan keluar dan pintu tertutup rapat, pria itu menarik satu buah kursi dan duduk mendekati Anastasya yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria yang tak lain adalah Arkana, sahabat Rangga. "Apa kau masih mengenaliku?" Tanya pria itu lagi.


Anastasya menatap lekat pria di hadapannya. Coba mengingat seraut wajah tampan, yang mungkin saja pernah ia temui.


"Tidak." Nihil, Anastasya tak mengingat apa pun tentang pria itu.


Arka pun mengulurkan tangan.


"Perkenalkan, Aku Arkana."


Anastasya mengangkat tangan ke udara, bersiap untuk menyambut uluran tangan Arka, namun satu kalimat susulan diucap, membuat gadis itu mengurungkan niat.


"Aku sahabat Arka."


"Kenapa anda menolongku? Atau anda juga bersekongkol dengan keluarga Rangga untuk berpura-pura menjadi penyelamat, kemudian membuangku kesuatu tempat?" Kilat Amarah tergambar jelas di wajah ayu Anastasya. Ia sudah muak dengan segala urusan yang bersangkutan dengan Rangga juga keluargannya.


"Bu-bukan, bukan begitu. Aku bukan pria seperti itu."


"Lalu apa? Bukankan lebih baik jika anda membiarkan aku mati saja." Anastasya hendak bangkit. Memaksa untuk bisa beranjak meski sekujur tubuh terasa sakit.


"Tetap di tempat." Arka menahan pergerakan tubuh Anastasya hingga tak sadar kedua tangan Arka menyentuh tubuh Anastasya.


"Maaf." Pria itu lekas menjauhkan tangan. "Aku mohon jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih lemah, begitu pun dengan janin yang sedang kau kandung."


Gadis itu berusaha tenang. Meredam emosi yang sempat meluap.


"Terimakasih sudah menolongku, tapi sekarang aku harus pergi." Lagi, Anastasya coba bangkit, meski susah payah.

__ADS_1


"Tidak," cegah Arka. "Jangan pergi, kau akan tetap di sini."


"Maaf tuan. Saya harus kembali. Saya punya rumah. Lagi pula tidak lumrah jika perempuan seperti saya tinggal di rumah seorang pria seperti anda, apa lagi jika istri anda mengetahuinya, pasti akan muncul kesalah fahaman."


"Saya belum menikah," jawab Arka cepat.


Hening. Untuk beberapa saat keduanya terdiam.


"Dan untuk itu, maukah kau menikah denganku?"


Anastasya terkesiap. Apa ia tak salah dengar. Belum reda keterkejutannya saat ditolong oleh Arka, kini pria itu justru mengucap sebait kata yang menurut Anastasya tak masuk akal. Bukankah itu terdengar seperti lamaran? Arka melamarnya? Sosok yang tak ia kenal kini memintanya untuk mau dinikahi. Benarkah?.


"Apa maksud anda?"


"Menikahlah denganku." Arka menjawab tegas tanpa keraguan.


"Tidak, saya tidak mengenal anda, begitu pun sebaliknya. Mohon jangan membuat lelucon yang sama sekali tak lucu untuk saya."


"Aku tidak berbohong. Aku benar-benar ingin menikahimu."


Anastasya tertawa miris. Bahkan sudut netranya mengeluarkan bulir bening akibat kepedihan hatinya.


"Anda adalah sahabat Rangga. Pasti anda juga tau tentang siapa saya, bahkan sampai siapa ayah dari janin yang ada dalam kandungan saya ini."


Arka spontan mengangguk.


"Jadi lupakan niat anda untuk menikahiku. Saya tidak ingin dikasihani."


"Stop! Hentikan pradugamu yang sama sekali tak berasas itu. Aku memang sahabat Rangga, tetapi aku ingin menikahimu pun atas keinginanku dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Rangga. Dengar, saat Rangga meninggalkanmu, dia pun juga meninggalku tanpa kabar. Aku menolongmu pun tentu bukan permintaannya, melainkan sebuah takdir yang sudah ditentukan oleh sang pencipta. Jadi aku mohon jangan mengikut sertakan nama Rangga dalam urusan pribadi kita."


Anastasya menghela nafas. Ia menunduk, dengan bulir bening yang masih mengalir.


"Maaf," ucapnya lirih. Akibat rasa kecewa yang mendalam pada Rangga, tanpa sadar ia melemparkan tudingan buruk pada Arka yang mungkin saja tak tau apa-apa.

__ADS_1


"Menikahlah denganku dan kita akan bahagia bersama." Arka menatap mata Anastasya lekat. Menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir perempuan itu.


Anastasya menimang, beberapa saat ia terlihat berfikir dalam. Hingga sebuah jawaban, "Ya, aku menerimanya." Membuat Arka menghela nafas lega.


__ADS_2