Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Hamil


__ADS_3

Pria tampan itu tertegun, mengingat kembali kejadian yang membuatnya terfokus pada sosok Anastasya. Hamil? Satu kata yang beberapa minggu ini terus berputar diotaknya. Apakah Anastasya sedang hamil? Tetapi kenapa gadis itu terus menyanggah saat dia mulai membahasnya?


Rangga menyugar rambutnya kasar. Ini tidak boleh dibiarkan. Bagaimana jika Anastasya hamil saat dirinya benar-benar dijodohkan dengan Amara. Lalu bagaimana dengan Anastasya?


Pria itu merasakan perubahan yang mencolok pada diri Anastasya. Mulai dari segala macam makanan yang dikonsumsi juga kondisi tubuhnya yang terlihat sedikit kurus dengan wajah memucat. Rangga pun kerap memergoki Anastasya muntah dipagi hari saat tanpa sengaja ia datang tanpa pemberi tahuan.


Ini sudah beberapa minggu berjalan selepas keduanya berhubungan. Andaikata Anastasya hamil, Rangga yakin jika janin yang dikandung gadis itu adalah benih darinya, mengingat selama ini Anastasya tak terlihat dengan pria lain selain dirinya.


Terdiam, pria tampan berbalut sweter berwarna gelap itu menatap pekatnya malam dari balkon kamar. Apa yang terjadi dengan hidupnya kelak andaikata ia dan Anastasya berpisah.


Rangga mengusap wajahnya kasar. Hanya dengan membayangkannya saja sudah terasa sakit, lalu bagaimana jika semua itu menjadi sebuah kenyataan? Akankah ia hanya bisa diam dan membiarkan terjadi begitu saja.


Tidak.


Tapi bagaimana. Amara bahkan sudah digadang-gadang menjadi mempelainya saat menuju pelaminan. Lalu bagaimana dengan wanitanya, saat secuil restu pun masih awan didapat dari kedua orang tuanya.


"Aku harus memastikannya."


Rangga mengusap wajah. Ia sudah tak sabar menanti hari esok. Malam pun kian larut, tetapi sepasang netra pria tampan itu seakan tak merasakan kantuk.


Pria bertubuh tegap itu kembali memasuki kamar, menutup pintu balkon di mana beberapa saat lalu ia gunakan untuk menghabiskan waktu, bergelut dengan fikirannya sendiri.


Di atas meja nakas, Rangga sengaja memajang foto Anastasya di sana. Pria itu mendaratkan tubuh di sisi ranjang, kemudian tangannya terulur untuk meraih figura foto, di mana wajah wanitanya terpampang dengan seuntai senyum manis yang selalu menggetarkan hatinya.


Rangga menata wajah dalam foto itu lekat. Diusapnya lembut foto tersebut seakan menyentuh wanitanya secara nyata.


"Tasya, apa kau tau seberharganya dirimu bagiku?" Rangga menatap dalam kearah lembar foto. Fikirnya melanglang jauh, mengingat kembali memori saat sepasang kekasih itu bertemu untuk pertama kali. Lengkung tebal Rangga mengukir senyum simpul. Anastasya adalah gadis pertama yang membuatnya mengerti akan arti cinta.


Sepanjang perjalan asmara, Rangga yang terkenal playboy memang kerap bergonta ganti pacar hanya sekedar untuk hiburan.


Begitu pun dengan para gadis yang coba mendekati, sebagian besar merupakan para putri dari pengusaha atau pun pejabat negara yang sejatinya mengukir suatu hubungan hanya demi kesenangan.


Rangga yang terbilang cukup selektif, hanya berniat memacari seorang gadis yang mandiri juga pekerja keras. Akan tetapi, selama beberapa tahun berpetulang, kriteria yang begitu diinginkan Rangga tak pernah ia temukan. Justru hanya gadis manja dan banyak mau_lah yang beberapa kali menjadi tambatan hatinya.


Akan tetapi, semua seakan berbeda saat mengenal sosok Anastasya. Gadis yatim piatu, yang membuat hatinya bergetar saat pertama kali menatapnya.

__ADS_1


"Tasya, Aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu." Dikecupnya bingkai tersebut sepenuh hati, kemudian didekap erat kedada. Malam ini Rangga tertidur dengan memeluk erat bingkai foto Anastasya. Menyalurkan Rasa rindu dan berharap memelukknya erat, meski dalam mimpi.


💜💜💜💜💜


"Tasya, ikut aku," titah Rangga seraya menarik tangan Anastasya, selepas pria itu mendapati sang kekasih lagi-lagi muntah di pagi hari.


"Kemana?" Anastasya yang masih kepayahan itu bertanya.


"Ikut saja, jangan banyak tanya." Rangga lebih dulu meraih tas milik milik sang kekasih juga menggandeng tanggannya sebelum gadis itu sempat menolak.


Rangga mengemudikan kuda besinya menuju sebuah klinik terdekat tentunya tanpa sepengetahuan Anastasya. Begitu sedan hitam itu memasuki area parkir klinik, wajah Anastasya yang memang pucat, kini bertambah pias.


"Sa-sayang, untuk apa kita datang ke tempat ini?" Setengah tergagap Anastasya melempar tanya.


"Untuk memeriksa kondisimu. Aku tau kau sedang tak baik-baik saja, walau kau terus menyangkalnya." Rangga menuruni mobil, kemudia dengan sigap ia membuka pintu untuk Anastasya.


"Terimakasih."


Pandangan keduanya kini beradu. Entah mengapa Rangga merasakan jika sepertinya Anastasya sudah mengetahui tentang kondisi tubuhnya, akan tetapi gadis itu memilih bungkam dan menyimpannya rapat, cukup untuk dirinya sendiri.


💜💜💜💜💜


Beberapa pertanyaan di ucapkan dokter berkacamata itu pada Anastasya. Seperti hanlnya pola makan, asupan makanan yang masuk kedalam tubuh hingga siklus haid.


Anastasya menjawab ragu kala dokter perempuan itu mulai menyinggung jadwal datang bulan dan mual serta pusing yang kerap melandanya akhir-akhir ini. Terlebih kini ada Rangga yang duduk bergeming di sampingnya.


"Apakah kalian pasangan suami istri?"


Anastasya terdiam, dia tampak kesusahan menjawab, namun dengan lantang Rangga menjawabnya.


"Ya, dok. Kami pasangan suami istri." Anastasya tercekat, tenggorokannya terasa kering seketika.


Dokter paruh baya itu pun mengangguk hingga mengulurkan sebuah benda pipih berwarna putih padanya.


Deru nafas Anastasya kian tak beraturan, terlebih dokter perempuan itu meminta padanya untuk mengunakan alat tersebut sesuai dengan intruksi darinya.

__ADS_1


Anastasya tak bisa menolak, dengan langkah pelan ia memasuki kamar mandi dengan alat tes yang tergengam di tangan. Tak ada yang mampu gadis itu perbuat selain berpasrah pada takdir yang entah mendukungnya atau tidak.


💜💜💜💜💜


"Selamat tuan, istri anda positif hamil, dan diperkirakan kini usia kandungan nyonya memasuki minggu ketujuh," ucap Dokter tersebut dengan seulas senyum yang terukir di bibir.


Bagai tersambar petir, ucapan sang dokter seakan menghancurkan tubuh Anastasya dalam sekejap. Begitu sakit hingga gadis itu sulit menerima. Beberapa tanda-tanda hamil muda memang kerap gadis itu rasa akhir-akhir ini. Hanya saja, ia selalu menyangkal sebab tak mampu menerima sebuah kenyataan pahit yang dipastikan menguncang akal sehatnya. Ia hanya menghubungkan mual dan muntah yang diderita sebagai efek dari penyakit lambung yang juga kerap ia rasa.


"Be-benarkah Dok?" Rangga masih tak percaya namun wajahnya menyiratkan kebahagiaan.


"Benar, tuan. Jika anda masih ragu, kita bisa melakukan tes USG untuk lebih memastikan. Tapi saya yakin jika isti tuan memang sedang mengandung saat ini." Keterangan meyakinkan sang dokter membuat Rangha tersenyum senang, diraihnya kedua tangan Anastasya kemudian menciuminya berulang.


"Sayang, kau dengar. Sebentar lagi kita akan jadi sepasang orang tua." Rangga menggengam tangan sang kekasih begitu erat. Anastasya pura-pura bahagia. Memasang wajah ceria dengan seulas senyum yang juga terkembang di bibir tipisnya.


Anastasya memandang sekilas kearah Rangha. Pria itu terlihat berbinar sekaligus terkejut. Gafis cantik itu hanya bisa menebak, apakah Ayah dari janin yang ia kandung itu benar-benar merasa bahagia, atau justru sebaliknya.


💜💜💜💜💜


"Jaga kandunganmu baik-baik. Dokter sudah memberikan beberapa resep obat juga vitamin untuk pertumbuhan calon adik bayi di dalam perut." Telapak tangan besar itu mengusap bagian perut Anastasya yang masih datar.


Anastasya hanya mengangguk. Kebahagiaan dalam dirinya seakan menguap begitu saja. Hilang tanpa sisa.


"Kita akan langsung menemui ibu, dan ayah."


"Untuk apa?" Anastasya menjawab seketika. Saat membahas tentang orang tua Rangga, nyali gadis itu seolah menciut seketika. Tubuhnya gemetar dengan ketakutan yang mendominasi.


"Ck." Rangga berdecak. " Kau bilang untuk apa, tentu untuk membicarakan hubungan kita kedepannya. Di dalam rahimmu bahkan sudah ada bayi, jadi mana mungkin aku membiarkan hubungan kita tanpa adanya kejelasan."


Ucapan Rangga seketika membungkam bibir Anastasya untuk sekedar menjawab apalagi menolak.


Sudut netra gadis bermata sendu bahkan sudah memanas. Hendak menjatuhkan bulir-bulir bening yang sebisa mungkin ia tahan.


Gamang, Anastasya sendiri tak yakin dengan kelanjutan hubungannya. Hamil lebih dulu, bukan jaminan meluluhkan sebongkah hati yang sudah lebih dulu membeku. Ia hanya bisa melapangkah hati seluas luasnya, berusaha menerima dengan ikhlas walau kehadirannya hanya akan disambut dengan caci makian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2