Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Pasrah


__ADS_3

Hentakan kaki menggema memunuhi kediaman mewah namun senyap di mana gadis cantik berusia 19 tahun dengan pakaian casual yang menempel di tubuh, berlari menuju ke arah dapur saat tak mendapati seseorang yang biasanya selalu menunggunya di ruang tamu.


"Ibu...," teriak sang gadis masih dengan berlari. "Aku pulang." Sambung sang gadis begitu menemukan wajah perempuan yang begitu ia sayang tengah berkutat dengan berbagai masakan di dapur.


"Wah, putri ibu sudah pulang?" Anastasya, perempuan yang sudah memiliki seorang putri remaja itu tersenyum simpul. Ia terkesiap saat tiba-tiba Natasya datang dan memeluknya dari belakang.


"Huum. Waaw." Sepasang mata Natasya berbinar menatap berbagai menu masakan buatan sang ibu yang begitu menggiurkan. "Ibu memang luar biasa," puji Natasya yang langsung duduk di salah satu kursi, bersiap untuk memulai acara makan siangnya.


"Nata, tunggu sebentar, Nak. Kau tidak ingin menunggu ayahmu lebih dulu?"


Natasya yang sudah hendak mengambil piring, mengurungkan niat.


"Memangnya ayah sudah pulang?" Natasya menatap ke sekeliling, mencari keberadaan sang ayah.


Anastasya menganggukkan kepala lantas menjawab, "Sudah."


"Loh, bukannya ayah selalu pulang sore hari, lagi pula ini bukan akhir pekan?" Gadis cantik itu menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Kenan memang selalu pulang sore hari, seperti itulah rutinitasnya. Sang ayah memang seorang yang pekerja keras, Natasya begitu memahaminya. Bahkan waktu yang sang ayah miliki untuk keluarga terbilang minim, akan tetapi Kenan sedari dulu selalu meluangkan waktu untuk memantau tumbuh kembang sang putri begitu pun dengan pendidikannya. Natasya sama sekali tak kekurangan kasih sayang, meski waktu yang punya untuk bisa bertemu dengan sang ayah begitu terbatas, tetapi Kenan selalu tak kehabisan akal hingga memanfaatkan waktu sempit itu sebaik mungkin.


"Apa ayah sakit?"


Anastasya mengangguk samar yang mana membuat putrinya spontan bangkit dari tempat duduknya dan berlari kecil menuju kamar yang selama ini ditempati oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Pintu kamar yang tak terkunci mempermudah Natasya untuk masuk. Begitu pintu bercat putih gading itu terbuka, Natasya bisa melihat tubuh sang ayah yang terbaring di ranjang dengan mata terpejam.


"Ayah," sapa Natasya. Gadis cantik itu lebih mendekat, hingga kini berdiri di sudut ranjang.


"Ayah, bangunlah. Ayo kita makan siang bersama." Natasya menyentuh kaki sang ayah. Tubuhnya bahkan terduduk, sementara kedua tangannya terulur untuk memijat kaki sang ayah.


"Nata?" Kenan terkesiap. Sepasang matanya kini terbuka dan membulat sempurna, terkejut akan kedatangan sang putri yang tiba-tiba.


"Ayah sakit?" Wajah cantik itu menatap cemas pada sang ayah. Sontak Kenan tersenyum, menatap wajah cantik sang putri yang terlihat begitu menggemaskan.


"Hanya sedikit, sayang. Sedikit sekali. Lihat, ayah bahkan bisa berdiri," ucap Kenan seraya bangkit dari pembaringan. Berdiri tegap dengan bibir tersenyum lebar.


"Ayah harus tetap sehat. Agar bisa selalu menjagaku dan juga ibu," ucap Natasya masih menyembunyikan wajahnya dikehangatan dada bidang sang ayah.


"Tentu, tentu sayang. Akan akan selalu sehat dan kuat untuk bisa menjagamu dan juga ibumu sampai kapan pun," jawab Kenan seraya mengecup puncak kepala putrinya penuh kasih sayang. Keduanya saling berpelukan begitu erat. Natasya memejamkan mata dengan bibir tak hentinya mengulas senyum. Sebagai putri sematawayang, Natasya merasa bersyukur sebab selalu dilimpahi kasih sayang dari kedua orang tuannya. Akan tetapi tanpa Natasya sadari, seorang pria yang kini ia dekap justru menitikkan air mata. Menikmati setiap momen demi momen yang ia ukir beserta sang putri juga istri tercintanya. Menikmati detik demi detik waktu yang masih tersisa untuk sebaik-baiknya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Di ruangan senyap, Kenan terduduk dengan fikiran berkecamuk. Sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Ia tak mengira jika tindakan yang ia ambil bertahun lalu, justru menjadi jurang kematian yang seolah sengaja ia gali untuk dirinya sendiri.


Sekitar satu tahun ini Kenan memang merasakan sedikit demi sedikit perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya. Diawal Kenan bahkan tak menyadarinya, hingga peristiwa pingsannya di area proyek seolah membuka tabir kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Obat penenang yang sejatinya dulu ia konsumsi untuk sekedar pereda depresi saat ditinggalkan oleh istri dan buah hatinya, kini menjadi penyakit mematikan saat dirinya sendiri tak bisa menghentikan penggunaan hingga harus terlepas beberapa tahun kemudian. Bahkan saat sudah menikah dengan Anastasya pun Kenan secara diam-diam masih mengonsumsi tablet tersebut.


Kenan meremas amplop berlogo salah satu rumasakit di kota Washington DC. Anastasya bahkan masih tak tau akan masalah ini. Kenan takut, pria itu takut menghadapi kenyataan. Kenyataan yang pastinya bisa melukai dirinya juga orang-orang terdekatnya.


"Maafkan aku, Anastasya. Maafkan Ayah, putriku. Ayah sejujurnya tak menginginkan hal seperti ini terjadi, tetapi ayah pun tak kuasa untuk menolaknya."


Tubuh Kenan terlihat sedikit kurus. Begitu pun staminanya yang mulai berkurang. Obat penenang tersebut rupanya mampu merusak sel saraf tubuh secara perlahan. Meramat dan semakin hari kian menjalar disekujur tubuh.


Huh


Kenan menghela nafas dalam. Ia bahkan sudah memasrahkan diri akan garis hidup yang sejatinya sudah digariskan untuk dirinya sendiri.


Segala aset pun sudah ia persiapkan, agar anak dan istrinya tak kekurangan andai dirinya tinggalkan.


Tbc.


Wah ada apalagi nih tor. Kok ceritanya jadi kaya gini. Terus Anastasya kapan bahagianya??😑😑


Tenang☺☺


Autor pasti sudah menyusun konsep jauh-jauh hari. Jadi jangan khawatir. Anastasya pastinya akan bahagia dan tentunya bersama seseorang yang tepat pula. So.. tetap pantengin.

__ADS_1


__ADS_2