Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Belum menginginkan pasangan


__ADS_3

Terombang ambing tanpa pegangan, hidup Anastasya limbung tak tentu arah seperti layangan putus yang bergerak ke mana arah angin membawa.


Alkohol dan dunia malam kini menjadi teman menghabiskan hari-harinya. Bersama Sarah, ia membangun kehidupan yang sejatinya tak sejalan dengan kata hatinya. Namun, apa mau dikata, rasa kecewa dan sakit hati membuat gadis itu buta, hingga memilih sebuah jalan yang dianggapnya paling menyenangkan.


"Lupakan masalah dan bersenang-senanglah." Begitulah kalimat yang Sarah bisikkan kala Anastasya ragu dengan keputusan yang diambil.


Pada saat segelas minuman laknat itu menyapa tenggorokkan, Anastasya sempat menitikkan air mata. Sesal, pasti sangat, namun banyangan beberapa wajah yang sudah menghancurkan hidup berkelebatan, justru membuat gadis itu kalap dan tertagih untuk meminumnya lagi dan lagi.


Rangga. Satu nama yang membuat Anastasya meradang saat nama itu disebutkan. Rasa marah, kecewa, benci dan terkhianati bercampur menjadi satu.


Akan tetapi, dari sudut hati terdalam Anastasya pun tak menampik jika masih menyimpan rasa rindu yang terdalam pada sosok cinta pertama yang pernah membuatnya mabuk kepayang, namun tiba-tiba menghilang.


Seperti halnya malam ini, Anastasya dan Sarah tengah mengunjungi sebuah klub malam yang terletak di pinggir kota. Anastasya menggunakan wig untuk menyamarkan penampilan, meski gadis itu yakin jika saat ini tak ada lagi orang yang mengenalnya sebagai model, atau bintang iklan selepas dirinya didepak dari Wiratama management juga dari dunia hiburan.


Karir yang meredup, serupa dengan penghasilan yang tak lagi ia dapatkan. Untuk menopang hidup, Anastasya hanya mengandalkan pada tabungan yang kian hari kian menipis saldonya.


Di sebuah meja, Sarah berkumpul bersama beberapa rekan, juga Anastasya. Mereka berbincang apa saja, di temani beberapa bungkus rokok juga beberapa botol minuman beralkohol.


Di awal, Anastasya cukup risih. Sebab hampir setiap hari sarah selalu membawanya untuk berkumpul bersama teman-temannya yang juga memiliki hobi sama. Mencari kesenangan, namun dengan cara yang salah.


Akal Anastasya memang masih bisa dipergunakan dengan baik. Mengerti jika hal yang ia lakukan saat ini tidaklah benar. Akan tetapi, ia pun butuh tempat pelampiasan sebagai bentuk luapan emosi serta kekecewaannya pada hidup yang seakan tak pernah berpihak padanya.


Tuhan tak adil. Begitulah sisi iblis Anastasya berbicara.

__ADS_1


"Ana, kau tidak minum?" Salah satu teman Sarah melempar tanya. Perempuan berusia matang itu terlihat mulai mabuk selepas menenggak beberapa gelas alkohol.


Anastasya mengangguk samar. Sedari tadi ia memang tak terlihat meminum seteguk pun alkohol.


"Kenapa?" Giliran Sarah bertanya. "Malam ini kau tak seperti biasa. Apa kau sakit?"


Lagi, Anastasya menggeleng.


"Tidak kak, aku baik-baik saja," dusta Anastasya, padahal sedari tadi ia menahan rasa nyeri di bagian perutnya.


Anastasya mengusap pinggang hingga ke perut. Sepasang netranya pun membeliak.


Ya tuhan, janin, janinku. Apa terjadi masalah dengannya hingga perutku sakit seperti ini.


"Kak, aku pulang dulu. Badanku tiba-tiba tak nyaman." Anastasya meraih tas tangan dan bangkit. Ia berniat untuk keluar dari club itu sekarang.


"Ah, mungkin hanya masuk angin biasa. Ya sudah, aku pamit lebih dulu. Bersenang-senanglah." Tanpa banyak bicara, Anastasya cepat-cepat keluar dari tempat itu seraya mendekap perutnya, menahan sakit.


Sementara itu dilain tempat.


Sepasang netra seorang pria terpaku pada layar lembaran surat kabar juga sesekali melirik pada layar televisi yang menyiarkan berita malam tentang skandal pengusaha muda dan seorang model, yang akhir-akhir hampir memenuhi setiap pemberitaan. Baik media cetak atau pun elektronik.


Rangga, Anastasya.

__ADS_1


Beberapa hari selepas Rangga berlutut dan dibawa paksa pengawal, kabar kehamilan Anastasya mulai mencuat dan menggegerkan banyak orang. Termasuk keluarga besar Wiratama management.


Arka tak menyangka, jika hidup Rangga akan berubah seperti ini.


Sahabatnya itu memang terkenal playboy. Kerap bergonta ganti kekasih. Akan tetapi, Arka pun yakin jika selama menjalani hubungan Rangga tak akan bertindak jauh hingga menodai pasangannya sebelum dihalalkan. Lalu, kenapa semua berbeda saat ia bersama Anastasya?.


Terlebih, Rangga kini lebih pantas menyadang sebutan pria pengecut, sebab memilih pergi ketimbang menyelesaikan masalah yang tengah terjadi. Ya, walau pun semua atas ikut andilnya Sofyan yang sengaja memisahkan keduanya.


"Bagaimana nasib perempuan itu sekarang. Apakah dia baik-baik saja, atau..."


Arka masih terpaku menatap layar televisi. Semenjak juru bicara keluarga Rangga mengadakan konfrensi pers dan menyangkal seluruh tuduhan yang anda, Anastasya seolah lenyap. Namanya tak lagi terdengar, begitu pun dengan wajahnya yang tak lagi muncul di layar kaca.


"Benar-benar licik," gumam Arka geram.


"Rangga sendiri bahkan mengakui jika sudah menghamili gadis itu, tetapi kenapa mereka seolah memutar balik fakta jika Gadis itu sengaja memanfaatkan nama Rangga untuk bisnis semata."


Pria tampan itu berdecak.


"Tapi, mustahil bagiku untuk menikahi seorang gadis yang sudah hamil, terlebih hamil oleh sahabatku sendiri."


Arka menghela nafas panjang.


Wanita. Pernikahan. Masih jauh dari rencana hidupnya saat ini. Sebagai pria yang memiliki usia cukup matang, ia kerap mendapat permintaan dari sang ibu untuk lekas melepas masa lajang. Hanya saja, dengan tegas ia menolak.

__ADS_1


Baginya, Cemerlangnya karir diusia muda menjadi pencampaian tersendiri yang patut dibanggakan. Kini, ia masih begitu mencintai dunia kerja, dan menganggap urusan Asmara hanya berada diurutan kesekian, yang belum begitu ia inginkan kehadirannya.


Bersambung..


__ADS_2