
Hidup nyaman dan bergelimang harta menjadi kehidupan yang Anastasya rasakan saat ini. Menjadi istri seorang Arka membuat hidupnya bak ratu yang seluruh aktifitasnya dilanyani.
Meski tak pernah tidur bersama, namun Arka begitu memperhatikannya. Mulai dari segala kebutuhan, asupan makan dan kunjungan rutin setiap bulan pada dokter ahli kandungan demi memantau janin yang tengah bertumbuh dirahim istrinya kini.
Kebagian Arka kian terpancar saat dokter menyebutkan jika kemungkinan besar janin yang dikandung Anastasya berjenis kelamin laki-laki.
Sesaat Anastasya terhenyak, sementara pandangannya lekat tertuju pada sosok pria yang duduk sembari menatap kearah pantulan layar ultrasonografi dengan netra berbinar. Dada Anastasya seolah teremas, tertampar pada kenyataan jika sosok Rangga tak lebih baik dari pada Arka yang sejatinya bukanlah ayah biologis dari janin yang dikandungnya.
Sudut netra perempuan itu memanas. Merasa bersalah sebab selama ini abai dan terkesan tak tau terimakasih pada pria yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Anastasya akui jika pernikahan mereka terjadi bukan karna cinta, hingga ia jarang sekali berinteraksi atau pun melayani Arka seperti layaknya serang istri. Seluruh kebutuhan Arka masih surti yang mempersiapkan, meski Anastasya sudah beberapa bulan menjadi istrinya.
Anastasya menyesali semua. Di mana otaknya masih tertuju pada Rangga hingga lalai menjalani kodratnya sebagai istri Arka.
💜💜💜💜💜
"Bagaimana jika yang ini? Ini, atau yang ini?" Arka menenteng dua pakaian berbeda di kedua tangan. Meminta Anastasya untuk memilih satu diantaranya.
Anastasya berfikir sejenak, kemudian menatap kearah beberapa troli yang sudah terisi penuh bakaian bayi. Arka seolah kalap. Begitu antusias memilih bakaian bayi hingga nyaris memborong seisi toko.
__ADS_1
"Em, bukankah ini sudah terlalu banyak?" Ragu Anastasya berucap. Takut jika pria itu kecewa.
Arka meringis. Seolah mengiyakan selepas menatap beberapa troli yang sudah dipenuhi barang pilihannya.
"Maaf, aku terlalu senang."
Hem, manis sekali. Ada yang berdesir dalam diri Anastasya. Semakin lama, sosok Arka kian mempesona. Pria itu begitu perhatian, juga lembut dalam bertutur kata.
Tanpa ragu perempuan itu mendekat dan mengengam tangan Arka untuk pertama kalinya.
"Terimakasih banyak, hari ini aku luar biasa senang." Kalimat itu terucap tulus dari lubuk hati Anastasya yang terdalam.
Mereka pulang dengan bergandengan tangan dari pusat perbelanjaan hingga menuju area parkir. Arka begitu melindungi Anastasya dengan keadaan perutnya yang kian membesar. Selalu di sisinya dan memastikan perempuan itu aman saat bersamanya.
Begitu sampai dikediaman megah Arka, beberapa pelayan memindahkan seluruh belanjaan dari bagasi mobil menuju ruangan yang sudah dipersiapkan untuk bayi Anastasya kelak.
Anastasya mengusap pelan perut buncitnya yang sudah berusia sembilan bulan. Tak hentinya berucap syukur dengan nasib baik yang menaungi hidupnya kini. Sempat menyesali diri disaat keterpurukan menerpa diri hingga mengisi hari-hari dengan alkohol dan asap nikotin tanpa memperdulikan janin yang ia kandung. Beruntung janin itu cukup tangguh, hingga mampu bertahan saat sang ibu diambang kegilaan.
"Maafkan ibu, nak," lirih Anastasya. "Setelah ini, ibu berjanji untuk menjaga dan memberi banyak cinta. Ibu berjanji," sambung Anastasya seraya mengusap lembut perutnya. Seolah bisa mendengar ucapan sang ibu, ada pergerakan dari dalam sana yang membuat Anastasya tersenyum penuh keharuan.
__ADS_1
Segala bentuk keperdulian Arka, rasanya masih kurang saat Mirah, ibu mertuanya yang sepertinya masih menjaga jarak dengannya. Terlebih perempuan paruh baya tersebut memiliki hubungan dekat dengan Siska, ibu dari Rangga.
Hubungan keduanya tak cukup dekat, terlihat ada jarak diantara keduanya hingga tak bisa dekat seperti mertua dan menatu pada umumnya. Anastasya sungkan untuk lebih dulu mendekat, sementara Mirah juga terkesan menjauh dan hanya berbicara sebutuhnya saja.
Anastasya cukup sadar. Jika dirinya bukanlah sosok menantu yang bisa dibanggakan. 'Dibanggakan'? Begitu pedih saat harus mengucapnya. Apa yang bisa dia banggakan. Hamil bukan dari darah daging suaminya. Itu saja seakan sudah mencoreng nama baik keluarga Atmadja, lalu bagaimana Mirah akan menyayanginya. Belum lagi hasutan dari keluarga Rangga, Anastasya yakin jika Ibu mertuanya itu tak mungkin menutup telinga rapat. Ia pasti akan mendengar, bahkan menimang setiap ucapan hingga selalu ragu untuk memperbaiki keadaan dan menerima tulus Anastasya sebagai menantunya.
Ah entahlah. Anastasya tak terlalu ambil pusing. Dengan mendapat perhatian Arka, itu pun lebih sudah lebih dari cukup untuk kehidupannya.
Anastasya terkesiap saat janin dalam perutnya bergerak aktif hingga menimbulkan rasa sakit juga denyutan diarea pinggang dan perut bawahnya.
Ada apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali.
Perempuan itu mencoba tetap tenang. Seperti anjuran dokter jika sewaktu-waktu kontraksi palsu datang menyerang.
"Tenang, tarik nafas perlahan, dan buang." Berulang Anastasya mempraktekkan. Akan tetapi rasa sakit justru kian menghunjam. Terlebih saat cairan bening justru mengalir dari arah jalan lahir calon bayinya.
Anastasya panik dan takut dalam waktu bersamaan.
"Bi, to-tolong." Setengah berteriak Anastasya memangil siapa saja yang mampu mendengar suaranya.
__ADS_1
"To-tolong." Anastasya meringis menahan sakit, dia yakin jika apa yang dialaminya kini adalah ciri-ciri ibu hamil hendak melahirkan.