
"Lalu apa rencanamu, untuknya?" tanya sesosok pria bertubuh gempal dengan perut membuncit itu menyesap vodka dari gelas kristal sementara pandanganya tertuju pada perempuan berpakaian minim yang bergelanyut manja di lengannya.
"Banyak," jawab si perempuan seraya mengusap perut sang pria lembut.
"Banyak? Apa saja?" Sang pria meraba ucapan perempuan yang sudah menjadi istri simpanannya beberapa tahun belakangan.
Terdengar perempuan itu tergelak. Mungkin tingkat kewarasan berangsur menghilang akibat beberapa botol alkohol yang sudah berhasil ia tenggak.
Sarah sesekali meracau. Di apartemen milik Broto, suami sirinya, ia kerap menghabiskan waktu untuk sekedar menyalurkan hasrat atau pun berpesta alkohol.
"Mengikuti jejakku."
"Maksudmu?" Broto mengerutkan dahi. Pria paruh baya itu berfikir sejenak. "Sebagai model pria dewasa?"
"Tidak. Tidak salah lagi." Sarah tergelak kencang hingga memenuhi ruangan yang sunyi senyap.
Broto hanya mampu menggelengkan kepala. Meski di sisi lain ia juga mengharapkan hal yang sama. Anastasya cantik, usianya pun masih sangat muda. Sebagai produser kenamaan yang sudah malang melintang di industri perfilman, ia tahu benar bakat terpedam yang dimiliki gadis cantik itu diluar dari dunia model.
"Apa dia juga sudah tau pekerjaanmu yang sebenarnya?" Broto mencondongkan wajahnya kearah Sarah yang masih bergelanyut manja di bahunya. Mencium puncak kepala berulang, menghirup aroma lembut sampo pada rambut wanitanya yang masih setengah basah.
__ADS_1
Sarah mendongak, melepaskan rengkuhan pada lengan suami sirihnya, kemudian bangit guna mengisi kembali gelas kristal kosong miliknya dengan alkohol.
"Setahu dia, aku hanyalah model majalah biasa. Bukankah kau tau jika dia hanya gadis kampung yang polos, juga lugu. Tak susah untuk membawanya sedikit bermain-main, dengan iming-iming kepopuleran dan uang." Tersenyum miring. Sarah bahkan sangat yakin dengan ucapannya.
"Sejujurnya aku tak berharap Ana ada dalam gengaman Wiratama management. Awalnya aku hanya bercanda untuk memasukanya ke dalam Agensi model, berharap dia akan gagal mengikuti audisi dan tak mampu kemana-mana, sebab terikat hutang budi padaku." Sarah menjeda ucapan. Menghela nafas dalam, menyuplai oksigen kedalam tubuhnya lantas menghembuskannya perlahan.
"Sayang, kenyataan justru tak sesuai keinginanku. Gadis itu bahkan menyabet penghargaan dan masuk dalam tiga model terbaik Wiratama management."
"Bukankah sedari awal sudah kukatakan jika dia bukanlah gadis sembarangan." Broto bersuara. Menyalakan sebatang rokok, lantas menghisapnya dalam. Menikmati sari tembakau dengan campuran asap yang memenuhi rongga mulut juga hidungnya.
"Kenapa, apa kau tertarik dengan gadis kampungan itu?" Sarah menatap tajam kearah Broto yang terhanyut dalam dunianya. Sebatang rokok dengan segelas alkohol menjadi teman terbaiknya dikala lelah menyapa.
"Kenapa diam? Ayo jawab, apa kau menyukai Ana?" Perempuan dengan pakaian kurang bahan itu bertanya sinis. Raut wajahnya suram seketika.
"Ya, aku menyukainya."
Sarah mengepalkan tangan.
"Tapi hanya sebatas suka, tak lebih." Broto menarik tangan Sarah hingga perempuan itu terjatuh di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih aku inginkan selain kamu, sayang," bisik Broto mesra tepat di daun telinga Sarah. Perempuan itu tersenyum bangga. Tak ingin melepaskan mangsa, ia pun membalas dengan mencium kedua pipi suami sirinya.
"Kau pasti tau sebesar apa perjuangan kita hingga sampai tahap ini. Jadi jangan berfikir macam-macam," ucap Broto lembut. Membuat Sarah mengangguk dan memeluk pria paruh baya itu erat.
Dalam pelukan sang pria, dalam hati, Sarah merasa muak. Jika bukan karna Karir cemerlang dan uang berlimpah yang ditawarkan, tak mungkin ia sudi untuk menjadi istri siri dari pria tua bangka yang sepadan dengan usia ayahnya.
Hanya saja, tuntutan juga gaya hidup di kota besar memaksanya untuk menjadi wanita murahan dengan menawarkan diri pada pria-pria kaya yang haus akan belaian.
Karirnya sebagai model hanyalah sebuah kedok guna menutupi skandal pribadinya sebagai istri siri dari seorang produser film yang cukup terkenal di ibukota.
Di samping itu, Sarah memang berprofesi sebagai model majalah, namun bukan majalah biasa melainkan majalah dewasa yang kerap mempertontonkan Aurat dalam setiap sesi pemotretan.
Wajah rupawan juga kepolosan Anastasya rupanya ingin Sarah gunakan untuk mencapai tujuannya. Menjadikan gadis itu ladang bisnis, memeras, dan memanfaatkannya dengan dalih membalas hutang budi.
Sedari awal Sarah memang sengaja memfasilitasi seluruh kebutuhan Anastasya hingga rela menampung di apartemen miliknya. Tentu bukan tanpa alasan. Ia ingin jika hidup Anasrasya ada dalam bayang-bayang dirinya. Hingga gadis itu tak berdaya untuk bisa menolak keinginannya.
Bersambung...
Kalo ada yang tanya. Sebenarnya siapa sih Sarah? Kok kesannya memanfaatkan Anastasya banget?
__ADS_1
ππππ Coba baca ulang "Terjerat dua Cincin Sang CEO" pada bab-bab awal. Nama Sarah juga sudah tertulis di sana ya kakak-kakak. Selamat membacaππ