
Berada pada dua pilihan yang tak mampu ditingalkan. Orang tua atau Anastasya. Posisi Rangga terjepit. Di satu sisi ia begitu menghormati orang tua namun di sisi lain ia pun tak kuasa meninggalkan Anastasya begitu saja.
Rangga tak akan menyerah pada keputusan. Pria itu akan tetap berjuang, untuk mendapatkan sang pujaan hati juga doa restu kedua orang tuanya.
Begitu cekatan Rangga membuka bungkus styrofoam, kemudian mengaduk bubur ayam dengan sendok plastik berwarna putih.
"Buka mulutmu," titah Sang pria seraya menciduk sesendok bubur dan mendekatkannya pada bibir sang gadis yang masih terkatup.
Tak menolak, Anastasya membuka mulut dan menikmati suapan dari tangan sang kekasih.
"Terimakasih," jawab Anastasya lembut.
Rangga tersenyum. Hatinya menghangat seketika. Kehadiran Anastasya, sungguh memiliki peranan penting dalam mengisi hari-harinya.
"Tentang apartemen itu, apa kau benar berminat untuk membelinya?" Rangga menyiduk kembali bubur dan menyuapkannya kembali pada Anastasya.
Gadis itu mengangguk.
"Ya. Setidaknya aku punya tempat untuk bersembunyi." Gadis itu tergelak selepas berucap.
"Tak usah bermain-main." Ekspresi wajah Rangga berubah mendung. Nampak tak suka dengan jawaban Anastasya.
Anastasya hanya tersenyum tipis. Ia ambil alih styrofoam dari gengaman rangga, kemudian menyuapkan satu sendok penuh bubur ke mulut sang pria.
hup
"Terimakasih, sayang." Wajah Rangga kembali berbinar. Satu kotak bubur pun mereka habiskan bersama. Diselingi canda tawa saat mentari pagi mulai beranjak terik.
"Seperti yang kukatakan tadi, terkadang aku butuh tempat untuk menyendiri. Disebuah tempat yang tak banyak orang tau atau kunjungi"
__ADS_1
Sebagai publik figur, Anastasya sadar jika kehidupan pribadinya kerap menjadi santapan kaum paparazi. Karirnya memang cemerlang, akan tetapi tak sedikit kalangan yang beranggapan jika prestasi yang ia dapat hanya dengan cara instan atau tanpa kerja keras.
Gadis itu sendiri tak menampik, jika ia bisa mendapatkan posisinya sekarang dengan cara cukup mudah atau bisa dikatakan hoki. Akan tetapi Anastasya pun enggan disebut menumpang tenar, akibat hubungannya dengan putra keluarga Wiratama yang mulai terendus media.
"Ya, aku faham tujuanmu."
Rangga merogoh saku celana bahan, dan menarik benda pipih yang tersimpan di dalamnya. Pria berkemeja abu dengan lengan di atas siku itu memainkan benda tersebut beberapa saat.
"Lihatlah." Rangga memberikan ponsel tersebut pada Anastasya.
Gadis itu pun menerima dan memeriksanya. Terlihat gadis itu mengerutkan kening. Seolah hendak membuka suara, namun tertahan.
"Dia Amara. Gadis yang menjadi pilihan ibu untuk bersanding denganku."
Diam. Undara membeku seketika.
Rangga menatap wajah sang kekasih lekat. Wajah cantik itu terlihat tenang, meski diterpa keterkejutan.
"Dia cantik, dan sepadan denganmu," pangkas Anastasya cepat.
"Tasya," lirih Rangga.
"Kenapa tidak akhiri saja hubungan kita?"
"Tasya!" pekik Rangga yang spontan bangkit dari posisi duduknya.
Gadis itu menahan saliva berat. Tak menyangka jika tanggapan Rangga semurka ini.
"Harus berapa kali aku mengatakan untuk tetap bertahan. Kau adalah calon istriku dan selamanya pun akan seperti itu."
__ADS_1
Sepasang bola mata indah itu mulai berkaca. Rangga yang mulai tersadar pun berhambur mendekap tubuh sang kekasih dalam pelukan.
"Tasya, ma-maafkan aku sayang," ucap Rangga setengah terbata. Ia usap lembut surai panjang Anastasya kemudian mencium puncak kepalanya penuh sayang.
"Ini sungguh berat. Aku tidak yakin untuk tetap bisa bertahan." Terisak lirih, Anastasya menumpahkan tangis dalam dada bidang berbalut kemeja milik sang kekasih.
Rangga tak terima. Ia mendorong lembut tubuh langsing itu, agar mampu menatap paras ayu wanitanya.
"Apa kau berniat untuk menyerah tanpa memikirkan perasaanku?"
"Tapi orang tua tetap tak menyukaiku dan akan menikahkanmu dengan gadis lain."
Rangga mulai tersulut emosi. Kecewa dengan ucapan Anastasya yang seakan meragukan rasa cintanya.
"Orang tuaku bebas berencana, tapi tetap aku yang akan memutuskan. Lagi pula aku tidak mencintainya. Di hatiku tetap hanya ada kamu, baik sekarang dan seterusnya." Rangga mengusap sisa bulir bening yang membasahi pipi Anastasya. Menenangkannya dan memeluknya kembali erat.
"Andai kau tau, cintaku padamu tak akan lekang oleh waktu. Walau sekeras apa pun orang tuaku menentang, aku akan berjuang agar kita tetap bisa bersama entah sekarang atau berpuluh tahun mendatang."
Anastasya tak menjawab. Ia lebih memilih memejamkan mata dan menikmat kehangatan dalam dekapan Rangga.
"Kau sudah memutuskan apartemen mana yang ingin kau beli?"
Gadis itu mengangguk.
"Aku sudah meminta pada seseorang untuk mengurusnya."
"Bagus. Selebihnya, biar aku yang mengurusnya."
"Tapi?" Gadis itu mendongak, menatap mata elang Rangga.
__ADS_1
"Aku tidak ingin dengar penolakan." Rangga membingkai wajah Anastasya dengan kedua tangan. Ia pun coba mengikis jarak diantara keduanya. Mengangkat dagu gadis itu lembut kemudian mempertemukan benda kenyal merah muda keduanya dalam beberapa saat.
Bersambung