
"Kak, ayo makan dulu." Wina datang mengejutkan Anastasya yang duduk termenung di balkon kamar. Gadis itu membawa nampan berisi makan malam untuk Anastasya.
"Taruh saja. Aku akan makan sebentar lagi," tolak Anastasya yang nampak tak berselera.
Wina menghela nafas, ia pun mendaratkan nampan tersebut ke atas meja.
"Mau aku temani," tawar Wina.
"Tidak usah. Pergilah." Anastasya menatap kosong kearah lagit malam. Enggan menatap Wina, sebab tak ingin jika gadis itu menangkap kesedihan di netranya.
"Baik, kak. Aku akan pergi, tetapi makanlah lebih dulu."
Anastasya hanya mengangguk.
Wina pun beranjak. Ia meninggalkan Anastasya yang sepertinya ingin menyendiri.
Bulir bening hangat tanpa terasa luruh dikedua sudut netra Anastasya. Beberapa hari berlalu semenjak Rangga membawa kekediaman mewahnya, pria itu sama sekali tak menunjukkan keberadaannya. Tanpa kabar dan menghilang bak ditelan bumi.
Ditatapnya layar ponsel yang teronggok di atas meja. Sunyi senyap, tak ada dering pesan atau pun panggilan dari pria yang ia cinta.
__ADS_1
Apakah Rangga mulai meninggalkannya?.
Selama menjalani rutinitas pekerjaan, Anastasya seperti kehilangan separuh jiwa dan fikirannya. Begitu tak bersemangat hingga kerap mendapat teguran dari rumah produksi yang menaungi karir modelnya.
Begitu berpengaruhnya Rangga bagi hidup Anastasya, hingga gadis itu seakan tak mampu untuk sekedar melangkah. Terlebih dalam rahimnya kini bertumbuh janin dari pria yang sudah beberapa hari menghilang tanpa kabar itu.
Ya tuhan, bagaimana Anastasya melanjutkan hidup jika tiang penyangga tempat ia bersandar kini menghindar?.
Pernah suatu ketika, Anastasya mendatangi gedung Wiratama Management untuk bisa bertemu dengan Rangga, namun jawaban yang ia dapatkan justru menghancurkan perasaannya.
Rangga tak lagi memegang kendali pada perusahaan tersebut dan dari pihak perusahaan pun tak dapat memastikan di mana keberadaan pria itu saat ini.
Hancur lebur segalanya. Setelah tak ada kabar, kenyataan yang Anastasya dapatkan membuat tubuhnya lemah seketika.
Anastasya terisak. Dalam senyap dan dinginnya malam, gadis itu meringkuk memeluk kedua lututnya sendiri. Tangisnya pecah mengiring sesak di dada yang tak mampu untuk ditahan.
Tidakkah Rangga berfikir sedikit saja tentang hidupnya saat melangkah meninggalkannya?. Tidakkah Rangga memiliki secuil kepedulian untuk calon bayi yang masih belum mengerti siapa ayahnya?.
Tangisan lirih itu kini berganti Raungan yang menyayat hati. Anastasya mencengkeram kuat pakaiannya. Seakan meremas wajah Rangga yang masih terngiang di benaknya.
__ADS_1
Wina yang samar mendengar raungan Anastasya, meluruhkan tubuhnya di atas kursi. Tubuhnya lemah, saat tangisan pilu itu tertangkap kembali oleh indra pendengarannya. Wina tahu benar bagaimana perasaan Anastasya kini. Cukup lama menjadi asisten pribadi Anastasya, Wina tahu seperti apa hubungan cinta yang terjalin antara Anastasya dan Rangga.
Mereka terlihat begitu kompak dan saling melengkapi satu sama lain. Keduanya yang memiliki kesibukan di dunianya masing-masing, selalu menyempatkan waktu untuk tetap bisa bertemu setiap harinya meski terkadang hanya untuk sekedar makan bersama saja.
Wina pun tau sebesar apa cinta Rangga untuk Anastasya, meski gadis itu hanya dari kalangan biasa. Bahkan Rangga selalu memperlakukan Anastasya layaknya seorang putri saat mereka bersama.
Kehamilan Anastasya pun juga diketahui oleh Wina. Saat tanpa sengaja ia menemukan sebuah tespack yang tergeletak di kamar mandu milik gadis itu.
Saat coba mengkonfimasi, awalnya Anastasya hanya diam, namun beberapa saat kemudian gadis itu memeluk dan menangis dalam dekapannya.
Wina terkesiap. Saat bait demi bait kata terucap dari bibir Anastasya tentang bagaimana awal peristiwa itu terjadi. Wina ikut menangis, saat mendapati jika Rangga menggauli Anastasya saat dalam pengaruh minuman keras.
Wina menajamkan pendengaran. Tangis Anastasya dari arah kamar tak lagi terdengar. Mungkin saja gadis itu sudah tertidur sebab kelelahan menagis, atau...
Gafis itu tersentak, fikirnya menerawang andaikan Anastasya melakukan hal-hal nekat yang berujung merengut nyawa.
Tidak!!
Wina bergegas bangkit. Menapaki setiap anak tangga dengan fikiran tak tenang.
__ADS_1
"Tidak, kak. Tidak, jangan lakukan itu. Aku mohon," ucap Wina disela langkah kakinya.
Bersambung