Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 11. Rindu Sosok yang Menyakiti


__ADS_3

Berada di sebuah kamar berukuran besar, seorang laki-laki yang berbulan-bulan tidak pernah pulang tiba-tiba kembali begitu saja. Seolah sudah lelah dengan petualangan cintanya.


Ya, Rylee kembali pulang ke rumah keluarganya. Sebenarnya ini sangat bertentangan dengan papa dan mamanya yang tidak setuju dengan keputusan Rylee menikmati kebebasan. Sudah saatnya dia bekerja dan mengurus perusahaan.


"Rylee, bangun!" teriak Dixie Catherine, mama Rylee.


Sebenarnya Rylee bukanlah anak tunggal. Dia memiliki seorang kakak yang belum menikah. Namanya Eric Filbert yang usianya baru 30 tahun.


Perbedaan antara Eric dan Rylee sangat jelas. Sosok pria yang peduli pada perusahaan papanya dan mencoba mengembangkan dengan bekal pendidikan tinggi dari luar negeri. Sementara Rylee, sosok yang cerdas, tetapi menyukai kebebasan.


"Mama, ini masih pagi!" tolak Rylee dengan menutup tubuhnya menggunakan selimut.


Dixie menarik selimut itu dan meminta Rylee untuk segera turun. Kemarahan wanita paruh baya itu sudah tidak bisa ditoleransi lagi.


"Rylee, bangun! Jangan sampai papamu datang ke sini lalu membuat kamarmu porak-poranda!" Ancam Dixie.


"Mama! Kenapa setiap aku pulang harus seperti ini? Aku butuh kebebasan, Mam!"


"Rylee, kamu adalah anak laki-laki. Kamu harus bekerja keras. Kalau kamu tidak punya apa-apa, bagaimana bisa menikah? Sedangkan modal saja kamu tidak punya!" jelas Dixie.


Mendengar kata menikah, ingatannya kembali pada Abbey. Sejak diusir wanita itu, Rylee merasa bersalah. Harusnya dia bisa lebih menahan diri lagi. Sayang, semua itu sudah terlanjur terjadi. Rylee tidak bisa mengembalikan keadaan. Mungkin dengan kembali ke rumah, sedikit mengurangi beban pikirannya.


"Kenapa diam? Setelah Eric, mama berencana menjodohkanmu. Kamu harus siap!" tegas Dixie.


Lagi-lagi Rylee terjebak dalam aturan keluarganya. Dia memutuskan untuk menato beberapa bagian tubuhnya karena kesal pada papanya. Dia menyukai seni lukis, tetapi papanya tidak memberikan kesempatan.

__ADS_1


Setelah urusannya di kamar Rylee selesai, Dixie segera menuju ke ruang makan. Di sana anak dan suaminya sedang menunggu.


"Tumben anak itu pulang," ujar Philo Neuman, kepala rumah tangga.


"Entahlah. Mungkin sudah lelah dan kehabisan uang. Hobinya berfoya-foya. Mama heran, kenapa dia bisa seperti itu?" keluh Dixie.


"Jangan terlalu dipaksakan, Mam. Nanti malah semakin memberontak dan berbuat sesuka hatinya. Andaikan saja ada satu orang yang bisa membuatnya sadar bahwa kehidupan yang dijalaninya itu tidak benar," sahut Eric yang sebenarnya peduli pada adiknya.


Sepertinya mereka lebih dulu menikmati sarapan pagi ketimbang menunggu Rylee turun. Ketika hampir selesai, anak bungsu keluarga itu baru saja turun dengan menggunakan kaos berlengan pendek. Tentu saja sebagian kecil lengannya menunjukkan betapa kotornya tato-tato itu terlihat di mata papanya.


"Eric, cari orang yang bisa menghapus tato. Papa jijik melihat tubuh adikmu!" tegas Philo.


"Ck, ini seni, Pa. Berulang kali sudah kujelaskan bahwa aku tidak menyukai bisnis. Aku hanya menyukai bakat melukisku, Pa." Rylee duduk di tempat yang berbulan-bulan telah ditinggalkan.


"Ini rumah papa. Semua tempat punya aturan. Kalau kamu mau dianggap sebagai anak yang baik, ikuti aturannya! Jangan sampai kamu menyesal karena mengabaikan nasihatku," tegas Philo kemudian pergi ke kantor bersama Eric.


Hanya berdua dengan mamanya di rumah. Sebenarnya Rylee bosan. Dia ingin adik perempuan, tetapi mamanya sudah tidak bisa memiliki anak lagi dengan alasan cukup 2 saja.


"Rylee, cobalah dengar apa kata papamu sekali saja. Mungkin dia ingin kamu menjadi laki-laki yang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab. Kamu tahu alasannya, kan? Kamu anak laki-laki yang akan bertanggung jawab pada istri dan anakmu nanti."


Bayangannya terus saja mengingatkan dirinya pada Abbey. Apa kabar wanita itu? Apakah dia sangat membenci Rylee? Terlihat sekali saat mengusirnya kala itu.


"Rylee! Mama berbicara sama kamu. Kenapa kamu diam saja?"


"Aku tidak apa-apa, Mam. Oh, ya, kapan Eric akan menikah?"

__ADS_1


Mungkin Rylee perlu mendengar kata papanya untuk terjun ke perusahaan. Sementara itu, dia juga harus melupakan Abbey dan kesalahannya. Wanita itu pasti akan bangga saat tahu kalau dirinya bukanlah anak muda yang suka sekali berfoya-foya.


"Secepatnya, Sayang. Hanya beberapa bulan lagi calon tunangan kakakmu akan datang. Mama menyukai wanita berumur. Setidaknya bisa mengarahkan Eric untuk lebih baik lagi," ucap Dixie sambil tersenyum.


Lagi-lagi ucapan mamanya menggiring opini bahwa seperti Rylee saja yang akan dijodohkan. Namun, mengingat penolakan Abbey kala itu membuatnya khawatir kalau suatu hari nanti langsung ditolak dan pura-pura tidak kenal.


"Mam, bisa bantu aku?" Rylee meletakkan garpu dan pisau di tangannya.


"Tentu jika itu berhubungan dengan kebaikan."


"Tolong sampaikan pada Papa kalau besok aku akan pergi ke kantor, tetapi minta Eric untuk mengajariku bekerja. Mungkin aku memang harus berubah agar Papa tidak menghakimi tatoku!"


Kabar ini membuat Dixie senang. Awalnya dia ragu, tetapi apa salahnya mempercayai putranya. Namun, dia tidak tahu di balik rencananya bekerja ada dosa masa lalu yang membayangi putranya.


Sementara itu, di kamar apartemen, Abbey termenung. Dia duduk di lantai karena mengingat betapa kasarnya Rylee saat itu. Sebenarnya wajar untuk ukuran laki-laki muda sepertinya, tetapi mengapa dia memaksakan kehendak untuk meniduri Abbey?


"Kenapa kamu tega padaku, Rylee? Bukankah sudah kujelaskan sejak awal kalau kamu dan aku berada di jalan yang berbeda. Walaupun aku belum menikah, tetapi masih memiliki harga diri. Lalu, semua itu kamu renggut dalam beberapa menit saja. Aku sudah menolaknya dan berupaya untuk menghindar. Kekuatanmu yang melemahkan aku, Rylee. Sekarang kamu menghilang. Dasar laki-laki tidak tahu diri!" maki Abbey meratapi nasibnya.


Jejak kepemilikan yang ditinggalkan pun sudah tidak terlihat lagi. Abbey yang memutuskan resign, dia masih ingin menikmati kehidupannya tanpa beban. Terlebih lagi beberapa minggu yang akan datang, dia dan teman-temannya akan pergi ke villa.


"Mungkin sebaiknya aku memang menyendiri saja. Lagi pula, semua laki-laki sama di mataku. Thanos yang brengsek. Van mata keranjang. Rylee yang kurang ajar. Mereka tidak ada bedanya. Pantas saja Zaylin lebih memilih hidup menjanda daripada memiliki pasangan yang kenyataannya membuat hidup sengsara. Bagaimana dengan Helen kalau sampai dia tahu kebusukan suaminya? Apakah dia masih bersikap tinggi hati dan membanggakan Van di mata semua orang?"


Dari dalam lubuk hatinya, Abbey sebenarnya merindukan sosok Rylee. Walaupun laki-laki itu telah memerkosanya, tetapi tidak sekali pun Abbey ingin melaporkan pada pihak kepolisian. Dia merasa pernah mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki lain walaupun dilakukan secara paksa.


"Rylee, kamu di mana? Kenapa kamu menghilang?" gumam Abbey sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


__ADS_2