
Eric, sebagai seorang pria yang bertanggung jawab penuh pada wanita yang dibawanya. Pasca melamar wanita itu secara pribadi, kini mereka telah berada di negara pria itu.
Helen semakin gugup ketika Eric memintanya untuk datang ke rumah. Mereka akan menghadap orang tua Eric lalu meminta izin untuk menikah.
Sementara itu, di kediaman Eric, semua orang sedang mempersiapkan makanan. Sesuai perintah nyonya rumah, yaitu Dixie.
"Sebenarnya Eric akan membawa siapa, sih, Pa? Mengapa sangat misterius sekali?" tanya Dixie pada suaminya, Philo.
"Bukankah kau ini mamanya? Mengapa malah tanya seperti itu kepadaku? Sangat aneh sekali!"
"Philo! Kupikir kalau Eric sangat dekat denganmu, makanya aku bertanya!" Dixie terlihat sangat kesal. Biasanya dia yang sangat cepat menerima kabar atau kejutan, tetapi kali ini dia harus menahan diri sebab tidak seorang pun yang bisa memberikan klu kejutan hari ini.
Sebuah suara pelayan mengejutkan Dixie sehingga membuat pasangan suami istri itu segera menyambut kedatangan tuan mudanya.
"Tuan! Nyonya! Tuan Eric sudah datang! Dia bersama pasangannya!" ujar pelayan tersebut.
"Hei, bagaimana kau tahu kalau itu pasangan putraku?" Dixie penasaran.
"Tuan Eric menggandengnya begitu mesra, Nyonya."
Setelah perjodohan Eric yang gagal itu, Philo melarang istrinya untuk menjodohkan putra sulungnya lagi. Biarkan anak itu mencari jodohnya sendiri.
Namun, ketika Dixie menyambut kedatangan Eric, rupanya dia sangat tidak asing dengan wanita yang dibawanya. Lebih tepatnya, Dixie sudah pernah mengenal wanita itu sebelumnya. Hanya saja, Dixie mencoba mengingat kembali siapa sebenarnya wanita itu.
"Eric, selamat datang!" Dixie segera memeluk putranya sehingga genggaman tangan kedua insan berlainan jenis itu langsung terlepas begitu saja.
"Terima kasih, Ma. Maaf, sudah membuatmu menunggu lama. Kami mampir sebentar di penginapan."
"Penginapan?" Dixie mencoba mengingat nama wanita yang bersama putranya itu.
"Ya, Ma. Aku baru saja memesan kamar untuk Helen bermalam selama beberapa hari di sini," jelas Eric.
__ADS_1
Ya, namanya Helen. Dixie baru ingat. Beberapa waktu lalu ketika pernikahan Rylee, Abbey pernah memperkenalkan wanita itu sebagai seorang wanita yang hendak diceraikan oleh suaminya. Itu artinya, Helen adalah seorang janda. Betapa menderitanya Eric selama ini. Gagal menikah, merelakan wanita pilihan orang tuanya untuk sang adik, dan sekarang membawa janda ke rumah untuk diperkenalkan pada orang tuanya.
Semula Dixie enggan mempersilakan wanita itu untuk masuk ke rumah, tetapi setelah Philo memberikan kode padanya, wanita itu akhirnya mempersilakan Helen untuk masuk.
Helen juga merasa tidak nyaman sebab melihat wajah mama Eric yang terlihat tidak bersahabat sama sekali. Seperti halnya dengan Eric, tetapi pria itu mencoba mengabaikannya.
Berada di meja makan, seperti sedang berada di sebuah ruang sidang menunggu keputusan. Helen cemas. Dia memilin ujung gaunnya yang bisa diraih dengan mudah. Tidak menutup kemungkinan bahwa dia sedang gugup dan ketakutan.
"Eric, sebaiknya kita kembali saja!" bisik Helen.
"Tenangkan dirimu! Biarkan aku yang berbicara!" ujar Eric menenangkan dengan genggaman tangan pria itu pada tangan Helen.
"Ayo, langsung dimakan saja! Keburu dingin makanannya," ujar Dixie mempersilakan pasangan itu untuk makan.
Eric tidak menunggu lama. Dia segera mengisi piringnya dengan beberapa makanan yang terhidang di meja. Setelah itu, dia mengambilkan makanan untuk Helen. Namun, seketika Dixie mencegahnya.
"Biarkan saja Helen mengambil makanannya sendiri! Pria tidak harus melayani wanita!" tegur Dixie.
"Tamu kita cukup pemalu, Ma. Jadi, tidak ada salahnya kalau aku melayaninya!"
Seketika Dixie membeku. Wanita itu bahkan tidak tahu sejak kapan putranya dekat. Setahu Dixie, setelah pesta pernikahan adiknya, Eric semakin sibuk dengan urusan bisnis. Tentu saja setelah Rylee menyatakan mundur dari perusahaan dan memilih hidup mandiri bersama sang istri.
Makan malam terasa cepat bagi Dixie sebab wanita itu ingin membawa anak dan tamunya itu ke ruang tamu, bukan lagi ruang keluarga. Namun, bagi Helen serasa lama sekali waktu berputar di sekelilingnya. Ketiga orang itu sudah menghabiskan makanannya, berbeda dengan Helen yang masih setengah lagi.
"Selesaikan makanmu! Setelah itu susul kami ke ruang tamu!" tegas Dixie yang kemudian diikuti Philo di belakangnya.
Tinggallah Eric yang tetap sabar menunggu Helen selesai makan. Pria itu tetap bertanggung jawab pada wanita yang akan dinikahi beberapa hari kemudian. Namun, dia harus meminta restu pada orang tuanya terlebih dahulu. Setidaknya mereka tahu dan Eric tidak menganut sistem kawin lari.
"Kau sangat gugup, ya?"
"Aku tidak lagi gugup, Eric. Bagaimana kalau mamamu menolak hubungan kita?"
__ADS_1
"Jangan khawatir, Helen. Aku akan mengupayakan agar rencana kita berhasil. Jangan pesimis, ya! Ayo, segera selesaikan makanmu lalu kita pergi ke orang tuaku!"
Walaupun usia Eric berbeda beberapa tahun di bawahnya, tetapi pria itu sangat pengertian sekali.
Setelah beberapa menit kemudian, Eric dan Helen sudah berada di hadapan kedua orang tua pria itu. Helen tampak menundukkan kepala sebab dia sadar diri kalau Dixie pasti menolaknya.
"Helen, jangan tundukkan kepalamu! Jangan takut pada kami," ujar Philo mengurai kegugupan wanita itu.
"Terima kasih, Om." Helen mencoba berinteraksi, tetapi tenggorokannya seakan tercekat.
"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanpa basa-basi, Dixie lalu meminta Eric untuk bicara ke intinya.
"Kami akan menikah dalam waktu dekat, Ma. Kuharap Mama dan Papa menyetujuinya tanpa memberikan syarat apa pun!" tegas Eric.
Dixie menoleh ke arah suaminya. Wanita paruh baya itu menarik napas berat kemudian menghembuskannya. Seolah semua berjalan begitu saja tanpa kendalinya.
"Mengapa terkesan terburu-buru seperti itu? Apakah kau juga menghamili wanita ini seperti yang dilakukan Rylee?"
Pertanyaan Dixie sangat menohok sekali. Rasanya seperti pertanyaan intimidasi dan menuding hal sekeji itu. Jangankan hamil, menyentuhnya saja belum pernah dilakukan.
Helen berniat untuk pergi, tetapi Eric menahannya. Bagaimanapun pria itu sudah berjanji untuk menikahi Helen dan tidak bisa dimundurkan lagi.
"Ma, aku bukan Rylee! Aku selalu menghormati wanita dan memperlakukannya dengan sangat baik. Kalau Mama bertanya seperti itu, sama saja dengan merendahkan putramu sendiri. Aku benar, 'kan, Pa?" Eric menoleh ke arah Philo kemudian dibalas anggukan kepala olehnya.
"Mam, kali ini kita tidak bisa memaksakan kehendak. Semakin Mama larang Eric untuk menikah, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Eric akan memilih kawin lari atau pilihan terjeleknya bahwa seumur hidup dia akan membujang," ujar Philo kepada sang istri.
Dixie tampak manggut-manggut saja. Entah apa yang ada di benak wanita itu? Eric dan Helen tidak bisa menerkanya. Namun, Eric sudah yakin untuk menikahi Helen. Kalaupun sampai mendapatkan penolakan, dia akan melakukan hal yang sama seperti adiknya, yaitu keluar dari rumah dan hidup mandiri.
"Jadi, apa keputusan Mama?" tanya Eric.
__ADS_1