Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 30. Bukan Zaylin


__ADS_3

Jajaran kursi bandara tidak begitu ramai. Mungkin karena bukan hari libur atau akhir pekan. Ya, Abbey menikmati perjalanan ini. Sebenarnya bukan karena itu, tetapi keberadaan Rylee dan pengakuan hatinya.


"Rylee, bisakah kamu membelikan aku kopi? Rasanya aku butuh itu. Aku sangat mengantuk sekali."


"Lebih baik kamu tidur sebentar. Kopi tidak bagus untukmu." Rylee mulai mengatur.


"Kenapa? Aku biasanya menikmati secangkir kopi dan aku merasa jauh lebih baik," tegas Abbey.


"Itu dulu. Sebelum kamu hamil, tetapi sekarang pikirkan orang lain. Ingat, kamu berdua sekarang!"


Seketika Abbey bungkam. Mungkin efek setres mendekati pernikahan sehingga dia lupa ada janin yang sedang tumbuh di rahimnya. Abbey tidak boleh egois. Dia mencintai Rylee, tentunya dia juga harus memikirkan janinnya. Buah dari cintanya. Bukan juga, tetapi lebih kepada hasil peluh pemaksaan Rylee padanya saat itu.


"Baiklah. Belikan aku susu rasa coklat. Mungkin itu jauh lebih baik."


"Baiklah. Tunggu di sini dan jangan pindah ke mana pun. Tidak lucu kalau sampai aku mencarimu melalui pengeras suara bandara ini." Rylee tersenyum.


"Kamu pikir aku anak-anak?"


"Bukan, tetapi kamu adalah wanita yang sedang mengandung anakku."


"No! Anak kita!" tegas Abbey.


Rylee membalikkan badannya lalu melangkah meninggalkan Abbey. Dia tersenyum sekilas karena Abbey tidak menolak, bahkan kali ini dia melibatkan Rylee dalam perjalanan menemui teman-temannya.


Beberapa kotak susu coklat, roti sobek, dan sedikit keju. Mungkin itu yang bisa dikonsumsi untuk beberapa jam ke depan sampai mereka naik ke pesawat. Setelah itu, mereka akan sampai di tempat tujuan. Namun, apakah mereka akan tinggal di hotel atau apartemen lama Abbey? Rylee perlu memastikan itu.


"Maaf, aku terlalu lama meninggalkanmu. Susu coklat, roti, dan–"


"Terima kasih. Aku sangat lapar." Abbey mengambil susu coklat dan roti, tetapi tidak dengan kejunya.


Walaupun menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Kalau posisinya seperti ini, Rylee rela menunggu puluhan tahun asalkan bisa melihat wajah Abbey sepanjang waktu.


Giliran pesawat mereka akan lepas landas setelah beberapa jam menunggu. Saat ini, mereka sudah berada di dalam dan duduk berdampingan.


"Abbey, kita akan menginap di hotel atau apartemen lamamu."


"Kurasa tempat Helen. Apartemenku ada penyewanya."

__ADS_1


Mengingat Helen, dia jelas tidak lupa pada suaminya yang tukang selingkuh itu. Mungkin juga posisi mereka sudah bercerai saat ini juga.


"Kamu tidak takut bertemu Van?"


Pertanyaan konyol terlepas begitu saja dari mulut Rylee.


"Tidak. Dia tidak berselera padaku. Lagi pula, Anne jauh lebih menarik, bukan? Kecantikan dan pesonanya lebih unggul dariku."


"Ya. Kurasa Helen mempertimbangkan lagi hubungannya dengan Van setelah dia tahu kalau pria itu berselingkuh."


Abbey menggeleng. "Helen cinta mati pada Van."


"Cinta dan bodoh beda tipis, Abbey. Kurasa Helen perlu bertemu dengan para pria di luaran sana."


Abbey tertawa. "Ya, kamu benar. Apakah kita perlu memberikan sedikit syok terapi untuk Van?"


"Aku bisa melakukannya. Serahkan saja padaku!"


Sepanjang perjalanan menuju ke negara X, mereka tampak terlihat akrab dan tidak berjarak. Pada dini hari, mereka rela mencari keberadaan taksi dengan berjalan agak jauh dari bandara. Rylee sebenarnya ingin agar Abbey bertahan dan tidur dulu di kursi tunggu, tetapi dia sudah tidak sabar untuk pergi ke rumah Helen.


"Justru itu. Aku ingin memberikan kejutan padanya. Walaupun dia selalu membenciku, tetapi saat aku tahu Van mengkhianatinya, aku peduli padanya."


Luar biasa, bukan? Kebaikannya begitu nyata. Setelah berdebat sebentar, mereka menemukan taksi. Langsung saja Abbey menyebutkan alamat Helen. Dia bahkan cukup detail menyebutnya tanpa membuka catatan atau apa pun.


Masih pagi, cahaya matahari pun belum muncul. Mereka telah sampai di halaman rumah Helen. Masih sepi. Tidak terlihat seorang pun yang lewat di sana.


"Masih pagi, Abbey. Kurasa Helen atau Van belum bangun."


"Aku akan menekan belnya. Sedikit mengganggu di pagi hari bukan kriminalitas, kan?" canda Abbey.


Rylee rasa sebentar lagi dia pasti sakit. Setiap melihat ke wajah Abbey, senyuman itu tidak pernah hilang. Sanggupkah dia melihat pernikahan kakaknya beberapa minggu lagi?


Helen membuka mata setelah mendengar bunyi bel berulang kali. Dia melirik ke arah jam, ternyata masih pagi. Van juga masih tertidur di sebelahnya dengan dengkuran halus.


"Mungkin hanya pengganggu!" gumam Helen, tetapi dia segera turun lalu melihatnya.


Membuka tirai jendela dan terpaku pada seseorang yang beberapa hari terakhir ini tidak muncul. Ya, Abbey berada di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Tumben dia datang sepagi ini," gumam Helen. Pintu segera dibuka dan melihat senyum dari wajah Abbey yang tidak pernah disadari selama ini.


"Hai, Helen! Maaf, pagi-pagi sudah mengganggumu. Aku dan–"


"Rylee. Kalian datang ke rumahku bersama-sama. Apakah ada kabar bahagia?" tanya Helen setelah melihat Rylee mengeluarkan koper dan tas dari taksi lalu membayar ongkosnya.


"Tidak juga. Apakah kami boleh masuk?" tanya Abbey.


"Oh, ya, ampun! Ayo, masuk! Maklum, aku baru bangun tidur. Van juga ada di kamarnya. Dia masih tidur."


Ada perasaan lega yang muncul di dada Rylee dan Abbey. Itu artinya, mereka baik-baik saja.


"Duduklah! Aku akan mencuci muka dulu."


"Tidak perlu, Helen. Kita mengobrol saja sebentar. Aku sengaja ke sini karena aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Abbey pelan. Dia hanya tidak ingin saat Van bangun lalu mendengar pembicaraan mereka.


"Ya, kamu benar. Dia mengelak lagi walaupun aku sudah memiliki buktinya." Ada penyesalan dari wajah Helen saat ini. "Kamu tahukan kalau aku bodoh dan payah!"


"Lalu, Anne? Thanos?" Abbey penasaran.


"Kurasa Thanos tidak tahu, tetapi Anne, dia bisa bersikap biasa saja saat bertemu kami di beberapa pesta penting. Kurasa ke mana pun kami pergi, Anne selalu ada di sana."


Sebenarnya Abbey bersimpati pada Helen karena dia juga pernah menjadi korban perselingkuhan antara Anne dan Thanos. Mereka kemudian menikah, sedangkan Abbey tenggelam dalam masa lalu yang tidak berkesudahan.


"Ah, sebaiknya jangan dengarkan kisah sedih dariku. Kalian mau minum apa? Oh, atau kalian datang karena ingin mengumumkan pernikahan?" Helen melihat cincin di jari manis Abbey.


"Tidak. Kami hanya ingin mampir. Abbey rindu padamu dan semua teman-teman kalian. Mengadakan pesta kecil-kecilan akan menjadi solusi untuk itu," balas Rylee.


"Ya, kamu benar. Terima kasih sudah datang ke sini." Helen tersenyum. Dia seperti mendapatkan kejutan saat suasana hatinya tidak baik-baik saja.


Van terbangun. Dia mendengar ada suara orang berbincang di pagi hari. Suasana itu jarang sekali ditemui Van beberapa bulan terakhir ini. Dulu, paling Zaylin yang sering kali mengganggu Helen. Mungkin wanita itu sudah kembali.


"Sayang! Siapa yang datang?" teriak Van dari dalam.


"Abbey, Sayang!" balas Helen.


__ADS_1


__ADS_2