Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 8. Memeras Thanos


__ADS_3

Rylee duduk manis di meja makan. Melihat Abbey memasak dengan cekatan, tidak lupa mencoba merayu wanita itu. Walaupun pada akhirnya berujung pertengkaran, Rylee tidak peduli.


"Kamu sangat cocok, Abbey," ujar Rylee.


"Cocok bagaimana?" Fokus Abbey pada spatula dan penggorengan.


"Cocok menjadi wanita yang akan melahirkan anak-anakku."


"Omong kosong, Rylee! Jangan mencoba merayuku. Kamu masih kecil. Tidak pantas berpikiran sedewasa itu," cibir Abbey.


"Ck, merendahkan sekali! Aku kecil, tapi aku bisa membuat bayi. Kamu paham, kan?"


"Jangan kurang ajar di apartemenku! Jaga batasanmu karena aku tidak akan terlena oleh bujuk rayumu," ujar Abbey sambil meletakkan dua piring di meja makan.


Orak-arik telur dan sayuran mendarat sempurna di sana. Selain itu, ada sebotol saos sambal di letakkan di sampingnya.


"Mana sup ayam? Katamu mau buat itu."


"Kamu tidak lihat kalau aku sedang membuatnya." Abbey juga kelaparan sehingga memutuskan membuat makanan tercepat sepanjang sejarah hidupnya.


"Oh, baiklah, Sayang."


Bahkan Abbey tidak melakukan protes saat berulang kali Rylee memanggilnya sayang. Setelah sup ayam telah siap, Abbey meninggalkan Rylee untuk mengambil ponselnya. Dia ingin melihat pemandangan segar di pagi hari, yaitu mendapatkan transfer secara cuma-cuma dari Van.


"Dari mana?"


"Mengambil ponselku. Katamu aku harus segera menghubungi Van. Bukankah kita akan mendapatkan uang dari sana?" tanya Abbey dengan senyum merekah di bibirnya.


Pemandangan sempurna di pagi hari. Ternyata Abbey jauh lebih cantik dengan senyumannya seperti itu.


Abbey lekas mendial nomor mantan bosnya itu. Kalau menunggu lama lagi, Abbey khawatir dipermainkan seperti sebelumnya. Maka dari itu, sesegera mungkin Abbey harus mengingatkannya.


Panggilan pertama tidak direspon. Abbey mencoba panggilan kedua. Masih sama dan hampir saja Abbey kesal.


"Kenapa?" tanya Rylee.


"Belum diangkat."

__ADS_1


"Coba lagi, Sayang! Mungkin dia belum bangun. Semalam dia kan pergi ke bandara mengantar Anne."


Abbey hampir lupa. Van tidak mungkin mau melakukan itu tanpa sebuah alasan. Bos brengseknya itu sudah bisa terbaca dengan mudah, tetapi Helen selalu mengagungkannya dan menganggap Van sosok bos yang bijak.


Akhirnya, pada panggilan ketiga, sebuah suara serak khas pria yang baru bangun tidur.


"Halo, ada apa? Ini masih pagi dan kamu sudah menggangguku," protes Van di seberang sana.


Rylee bisa mendengar karena Abbey menekan tombol loud speaker. Jelas sekali suara pria itu masih bermalas-malasan di atas ranjang.


"Maaf, Tuan Van. Aku hanya bermaksud mengingatkan reward yang sudah dijanjikan istrimu semalam. Jadi, kapan aku bisa menerimanya?" tanya Abbey.


Bukannya mendapat jawaban, Abbey malah mendengar suara yang lain. Suara wanita yang tidak asing di telinganya.


"Siapa yang mengganggu sepagi ini, Sayang?" tanya wanita itu pada Van.


Abbey semula tertegun. Beberapa detik kemudian dia baru menyadari kalau itu adalah suara Anne. Tidak salah lagi.


"Wah, Tuan Van. Kejutan apalagi ini? Apakah aku perlu menyampaikan kabar ini pada Nyonya Helen?" tanya Abbey lagi.


"Tunggu, Abbey! Aku minta maaf. Aku berjanji akan segera mentransfer uangnya 2 kali lipat. Cuma aku tidak mau kamu mengatakan pada Helen ataupun Thanos." Terdengar kalau Van sangat panik sekali.


"Abbey? Rylee? Kalian!" pekik Van di balik teleponnya.


"Tidak masalah, Tuan. Asalkan transfer masuk hari ini, semuanya akan aman," ujar Rylee kemudian memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Kenapa dimatikan, Rylee? Kita belum mendengarnya," sesal Abbey.


"Itu lebih dari cukup, Baby. Kenapa kamu lebih nakal daripada aku? Memeras adalah pekerjaan mudah, bukan? Kita punya tambang emas sekarang. Jadi, apakah kamu tidak ingin seperti Anne?"


Abbey meletakkan ponselnya. Dia kembali memegang sendok untuk menikmati sarapan paginya yang tertunda.


"Kamu pikir aku punya cita-cita menjadi orang ketiga di dalam hubungan Van dan Helen. Tidak, Rylee. Itu bukan tipeku sama sekali. Walaupun Van pernah merayuku, tetapi aku terus saja menolaknya."


"Wow, wanita baik-baik. Kurasa aku sangat beruntung bisa mengenalmu, Abbey. Seperti sebuah kebetulan atau bisa dibilang takdir. Aku laki-laki baik-baik dan kamu adalah wanita yang baik. Klop dan kita jodoh!" seru Rylee.


Rylee terlalu percaya diri. Walaupun dia tidak terlihat kurang ajar, lama-lama Abbey merasa nyaman. Merasa satu frekuensi dan memiliki kesamaan tujuan. Mungkinkah ini pertanda bahwa Abbey akan serius dengan Rylee? Sementara status laki-laki berondong itu saja tidak jelas.

__ADS_1


"Rylee, bolehkah aku bertanya padamu?" Abbey menunduk.


"Tentu saja. Itu pun kalau aku bisa menjawabnya."


"Sebenarnya kamu siapa? Berasal dari mana? Tujuanmu apa?" Rentetan pertanyaan itu langsung dilontarkan oleh Abbey.


"Aku Rylee. Asalku dari mana saja. Tujuanku hidup dengan seorang wanita yang bisa membuatku berubah. Jujur aku sangat menyukai hubungan yang sangat intim dari para gadis di luaran sana. Cuma setelah aku bertemu denganmu, ternyata mendapat wanita itu tidak seperti yang kujalani sebelumnya. Cuma kamu yang belum berhasil aku taklukkan. Makanya aku bertahan di sini. Kenapa? Apakah aku sangat misterius?"


Abbey mengangguk. "Terlepas dari itu semua, aku sangat penasaran padamu, Rylee."


"Lupakan saja. Tidak penting siapa aku. Urusan yang paling penting sekarang, kita pergi ke rumah Thanos dan meminta uangnya."


"Hah? Ide apalagi itu, Rylee?"


"Minta uangnya sekarang atau dia akan melupakan ucapannya semalam."


Justru dengan kedatangan Abbey secara mendadak membuat Thanos terkejut. Dia baru saja bangun dari tidur. Rasanya berat sekali, tetapi setelah beberapa tahun tidak pernah didatangi Abbey, Thanos merasa bangga pada dirinya sendiri.


"Pada akhirnya kamu juga mencariku, Abbey," gumam Thanos.


Padahal Abbey datang bersama Rylee, tetapi laki-laki itu sengaja membiarkan wanitanya masuk sendiri.


"Halo, Abbey. Apa kabar? Senang rasanya kamu datang. Ada apa? Apakah kamu merindukan aku?" tanya Thanos yang terlihat seperti baru bangun tidur.


"Mungkin saja, Thanos. Bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan pria yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Rasa cinta itu pasti masih ada, tetapi kamu yang sudah menutupnya bersama Anne. Aku tidak cemburu, tetapi aku sangat bodoh percaya pada pria sepertimu."


Thanos tertawa kecil. "Mau bagaimana lagi. Aku mencintai Anne. Dia seorang model. Cantik, menarik, muda, dan berbakat."


"Wow, sesempurna itu Anne di matamu. Lalu, bagaimana denganku? Tidak adakah rasa cinta sedikit pun untukku?"


"Pernah ada, tetapi sebelum Anne masuk ke dalam kehidupanku. Dia gadis muda yang berhasil membawaku terbang ke awang-awang dengan kebersamaan kami."


"Ya, aku paham. Cuma aku yang tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Oh, ya, aku ke sini selain untuk bertemu denganmu. Aku juga berharap kamu tidak melupakan kesepakatan kita semalam. Kamu janji akan memberikan uang, bukan? Kamu kalah dari Rylee!" jelas Abbey.


Thanos memang ingat, tetapi sepertinya dia enggan memberikan uang itu karena merasa dicurangi. Namun, Abbey tidak kekurangan akal. Dia memanfaatkan nama Anne untuk mendapatkan uang.


"Kurasa kamu enggan sekali memberikan uang itu. Tidak masalah, tetapi kamu akan menerima kabar yang jauh lebih besar lagi ketimbang merelakan uangmu untuk diberikan pada Rylee karena menang taruhan semalam," lanjut Abbey.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin melepaskan uangku hanya untuk permainan murahan semalam. Tidak akan!" tegas Thanos.


"Oh, ya? Bagaimana kalau ternyata Anne selingkuh di belakangmu?"


__ADS_2