Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 31. Anne Hamil


__ADS_3

Keheningan terasa di ruang makan. Helen sengaja mengajak Abbey dan Rylee untuk menikmati sarapan pagi bersama. Mereka tidak menolak, tetapi Van merasa tidak nyaman.


Beberapa minggu tidak bertemu dengan Abbey, maka hari ini mereka bertemu kembali dengan suasana yang sama sekali tidak nyaman.


"Van, ini Abbey temanku. Kenapa seakan kamu tidak peduli padanya? Dia juga mantan sekretaris di perusahaanmu," ucap Helen.


"Aku tahu, tetapi kurasa kami tidak perlu berbincang. Dia datang ke sini untuk menemuimu, bukan aku!" Van melirik dengan tatapan nyalang dan terlihat kesal sekali.


Abbey tidak peduli. Justru Rylee-lah yang terlihat kesal saat ini. Dia merasa Van menganggap Abbey adalah masalah baginya.


"Van,–"


"Rylee, hentikan! Aku tidak suka tindakanmu." Abbey sengaja mencegahnya supaya tidak terjadi keributan. "Kami ke sini hanya untuk mengadakan pesta di klub malam saja. Aku mengundang kalian."


Mata Rylee langsung melotot. Keputusan Abbey tampaknya sangat mengada-ada. Kondisinya sedang hamil dan dia sudah bisa dipastikan tidak akan mengkonsumsi minuman beralkohol.


"Abbey, kamukan tidak bisa mengkonsumsi alkohol. Ingat, kamu sedang hamil!" tegur Rylee.


"Iya, Abbey. Mengapa harus klub malam? Kalau kamu merindukan teman-teman, aku siap menyediakan tempat di sini. Kalau hanya sekadar makan minum, tidak masalah." Helen mencoba memberikan masukan. Apalagi ini adalah rencana yang bagus untuk membuat Van terlibat hubungan langsung dengan Anne.


"Lupakan saja tentang membuat acara di rumah, Helen. Hari ini aku akan pulang malam!" Van beranjak dari tempat duduknya berniat untuk masuk ke kamar lalu pergi ke kantor.


"Kurasa tidak ada salahnya mengundang Thanos dan Anne. Mereka juga bagian dari pertemanan kami!" Helen sengaja menyebutnya.


Van berhenti sejenak. Dia tersenyum sambil berjalan kembali ke kamarnya. Sudah lama setelah pergi ke toko perhiasan bersama Anne tempo hari sehingga membuat Helen curiga. Namun, Van terus saja mengelak tuduhan tersebut.


"Bukan masalah yang serius, kan?" tanya Abbey.

__ADS_1


Helen menggeleng. Dia melanjutkan sarapan paginya dengan tenang. Sesekali dia melirik ke arah Abbey dan Rylee. Keduanya terlihat tenang dan sama sekali tidak ribut. Namun, tatapan mata Helen menyapu cincin di jari manis tangan Abbey. Setelah sekian lama jari itu kosong dan sekarang sudah terisi.


"Kalian sudah bertunangan?" tanya Helen. Tidak dipungkiri bahwa rasa penasarannya cukup tinggi.


Abbey menoleh pada Rylee. Laki-laki muda itu tetap tenang. Lalu, beberapa detik kemudian wajahnya terangkat lalu bibirnya berucap.


"Ya, Abbey memang sudah bertunangan. Hanya saja bukan denganku," jawab Rylee.


Abbey berharap Rylee mengakuinya, tetapi ternyata dia mengatakan apa adanya. Kenyataannya memang demikian, bukan?


"Abbey, kamu berutang banyak penjelasan kepadaku!" tegas Helen.


Sejak terbukti bukan Abbey yang menjadi selingkuhan Van, sikapnya melunak. Terlebih kekacauan yang pernah ditimbulkan oleh Helen saat berada di vila hari itu.


"Itu tidak penting, Helen. Siapa pun yang akan menikah denganku, pasti sudah menjadi pilihan yang tepat bagi semua orang. Ya, terutama orang tuaku dan ... kau tahukan, orang tua pihak pria juga harus setuju. Anggap saja ini adalah perjodohan konyol di dunia modern seperti sekarang."


Van melewati mereka, tetapi tidak ada lagi kata pamit. Dia terus saja pergi sampai masuk ke mobilnya.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Rylee. Tentu saja dia peduli. Terlebih kelakuan Van sudah keterlaluan.


"Aku berusaha berpura-pura tidak ada masalah, Rylee. Terima kasih sudah menemaniku waktu itu. Aku berutang padamu." Helen tidak akan melupakan betapa baiknya Rylee.


"Oh, ya, sudah kusepakati kalau makan malam akan diadakan di sini. Biar aku yang mengirim pesan pada Thanos dan Zaylin. Aku peduli padamu, Abbey. Kurasa klub bukan tempat yang tepat karena kamu–"


"Yeah, semua orang peduli pada kehamilanku. Terima kasih, Helen." Abbey tersenyum karena berhasil memutus ucapan temannya.


Helen mengambil ponsel di samping tangannya yang sudah diletakkan sejak sarapan pagi baru dimulai. Dia langsung mengetikkan dua pesan yang dikirim secara bersamaan kepada Thanos dan Zaylin.

__ADS_1


Bunyi ponsel yang menggema di pagi hari dengan ringtone terpanjang yang di-setting di ponselnya membuat Thanos segera membuka pesan itu. Baginya setiap nada-nada panjang itu akan memberikan peluang pekerjaan, kekerabatan, dan urusan tambahan. Walaupun terkadang itu tidak penting.


"Siapa, Sayang?" tanya Anne yang baru saja membuka matanya. Dia merasa bahwa tubuhnya sangat berat hari ini. Rasanya malas sekali untuk bangun. Namun, perutnya seakan memberikan sinyal agar dia segera turun dari ranjang lalu memuntahkan isinya.


"Anne, kamu kenapa?" tanya Thanos yang melihat istrinya buru-buru pergi ke kamar mandi.


Thanos mengikutinya. Dia melihat Anne mual lalu muntah. Gejala ini tidak biasa ditemui selama mereka hidup bersama.


"Kamu sakit?" tanya Thanos lagi.


"Kurasa aku hanya kelelahan, Thanos."


"Ya, baiklah. Kalau kamu memang tidak ada pemotretan, beristirahat saja. Mereka pasti bisa menunggu untuk beberapa hari sampai kamu membaik. Hari ini ada undangan makan malam. Jam 7 di rumah Helen." Thanos kemudian pergi meninggalkan Anne begitu saja. Seperti hari-hari sebelumnya.


Anne tersenyum memandang cermin. Ya, dia merindukan Van. Beberapa hari ini dia sulit sekali untuk dihubungi. Seperti sengaja menghindar.


"Aku akan pergi ke rumah sakit hari ini. Jangan sampai dokter memberikan diagnosis penyakit berbahaya untukku," ucap Anne sambil merasakan getirnya indra perasa.


Dia segera menghubungi agensi yang menaunginya sebagai seorang model di negara bagian X. Padahal beberapa hari lagi dia harus menjalani pemotretan untuk rancangan gaun pengantin yang baru, tetapi sepertinya dia akan memilih absen selama beberapa minggu sampai kondisinya membaik.


Anne sangat terkejut saat mendengar diagnosa dari dokter yang mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. Itu tidak mungkin terjadi karena Anne yakin kalau ini adalah sebuah kesalahan. Dia dan Thanos melakukannya dengan sangat hati-hati. Mereka memang belum memiliki anak karena merasa komitmen ini bukan tentang anak, tetapi pada kebersamaan. Sekarang dia hamil.


"Van? Apakah ini karenanya?" gumam Anne. Dia terlalu terlena pada hubungan itu. Apalagi sikap Van sangat hangat dan peduli kepadanya. Dia bahkan mau menjadi pendengar yang baik.


Dia teringat pada ucapan Thanos pagi ini bahwa nanti malam akan ada acara di rumah Helen. Itu merupakan saat yang tepat untuk mengatakan kebenarannya pada Van bahwa dia hamil. Namun, agaknya ini bukan perkara yang mudah karena Anne harus mempertaruhkan dirinya untuk memilih antara dunia model atau mengandung anak pria lain.


"Aku bingung sekarang," gumam Anne.

__ADS_1



__ADS_2