Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 60. Harapan Zaylin


__ADS_3

"Mama memutuskan untuk menyetujui pernikahan kalian!" ujar Dixie membuat pasangan itu begitu bahagia.


"Benarkah?" tanya Eric tidak percaya.


Tentunya ini adalah kabar yang sangat menarik. Sebelum benar-benar mengumumkan kabar tersebut, Eric dan Helen terlihat sangat bahagia sekali. Pria itu langsung memeluk orang tuanya secara bergantian.


"Terima kasih, Ma! Pa! Aku sangat bahagia sekali!" ujar Eric.


"Semua itu tidak ada yang gratis, Eric!"


Seketika pasangan itu membeku ketika mendengar ucapan Dixie barusan. Beberapa menit yang lalu, wanita itu berhasil memberikan kebahagiaan. Lalu beberapa menit berikutnya, kebahagiaan itu langsung dipatahkan dengan ucapannya sendiri.


"Apa maksudnya?" Eric bertanya.


"Tentu saja kalian bisa menikah asalkan setelah tiga bulan, Helen harus sudah hamil!"


Dixie tidak menerima penolakan lagi. Keputusannya sudah bulat, sedangkan Helen tidak tahu harus menyikapi syarat itu, seperti apa? Tentunya ada hal yang begitu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata.


Apakah Helen harus mencoba dulu, seperti yang dilakukan Abbey dan Rylee? Ataukah dia memilih untuk berjuang seusai pernikahan? Dia bingung sebab pernikahannya dengan Van kandas karena Helen tak kunjung hamil.


"Baik, Tante. Aku setuju!" jawab Helen yakin.


Saat ini tidak ada gunanya mendebat, selain menyetujui syarat gila itu. Setidaknya Helen akan mendapatkan kebahagiaan tiga bulan pertama, selanjutnya terserah keputusan Dixie.


Kabar itu pun segera disampaikan kepada Abbey dan Rylee. Tentu saja mereka terkejut ketika mendengar pembicaraan itu melalui sambungan telepon sebab Helen tidak akan pulang lagi. Lebih tepatnya, Eric dan Helen akan menikah seminggu lagi.


"Apa? Mengapa syarat mama begitu memberatkan?" Nada suara Rylee tidak bisa dikontrol lagi.


"Rylee, dengarkan Eric dulu!" tegur Abbey.


"Tidak masalah, Rylee. Aku sudah menyepakatinya," balas Helen dengan nada suara bergetar. Tentu saja sebab semua tergantung pada takdir Tuhan.


"Helen, kau jangan khawatir! Kami akan mendukungmu. Apa pun, aku akan membantu untuk mengatasi segalanya!" sahut Abbey. Dia tahu betul bagaimana Helen membencinya kala itu, tetapi sebentar lagi mereka akan menjadi saudara ipar. Apakah Abbey tega membuatnya terluka? Terlebih Abbey sudah memiliki kebahagiaan di dalam rahimnya yang sudah tumbuh semakin besar.


"Datanglah ke pernikahan kami selagi ada waktu luang!" ujar Eric yang rupanya berada di sebelah Helen.


"Tentu, Kak! Kami akan datang." Rylee meyakininya.

__ADS_1


Namun, tatapan mata Abbey mengubah segalanya. Dia tahu kalau Rylee bekerja di bengkel dan tidak semudah itu untuk ambil cuti. Apalagi dia karyawan baru, sedangkan membiarkan Abbey pergi sendirian ke pernikahan itu juga tidak mungkin.


"Baiklah, Eric. Kirimkan saja kapan kalian akan menikah. Aku akan berunding dulu dengan Rylee." Abbey memikirkan tentang suaminya.


"Baiklah. Sampai jumpa lagi!" balas pasangan itu bersamaan.


Abbey memindai Rylee dari atas sampai ke bawah. Ada kecurigaan bahwa suaminya itu berbohong. Dia mungkin bekerja di bengkel, tetapi seperti tidak memiliki beban sebagai seorang pekerja. Dia juga tidak banyak mengeluh, bahkan terkesan biasa saja.


"Kau mau kita pergi bersama, bukan?" Abbey memelototi suaminya.


"Tentu. Kakakku menikah dan aku harus berada di sana. Aku benar, bukan?"


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau akan dipecat lebih cepat! Apalagi kau hanyalah karyawan baru yang minim pengalaman." Tentu saja Abbey sangat menyepelekan suaminya. Dari segi pengalaman, Abbey jauh lebih paham daripada suaminya yang masih berusia di bawah 30 tahun itu.


"Tidak masalah. Satu atau dua hari, aku bisa minta izin." Rylee benar-benar menganggap enteng pekerjaannya.


Abbey memukul dada bidang suaminya. Dia benar-benar kesal sebab Rylee seakan tidak memiliki tanggung jawab.


"Bagaimana kalau kau dipecat?"


"Apa maksudmu?" Nada suara Abbey memuncak.


"Dipecat satu, maka cari yang lainnya!"


Abbey benar-benar semakin kesal. Namun, dia juga tidak peduli lagi. Sebelum pergi ke rumah mertuanya untuk menghadiri pernikahan Eric, Abbey harus kontrol kehamilannya. Dia juga meminta izin terbang dan dokter menyatakan sehat. Tentunya dia bisa pergi dengan tenang.


Abbey juga pamit pada Van, tetapi malah mendapat banyak sekali pertanyaan dari pria itu. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya tidak bisa berhenti bicara.


"Jadi, kau mau ambil cuti hanya untuk keluarga suamimu? Memangnya ada apa?" tanya Van memindai wajah senior sekretarisnya tersebut.


"Bos, tidak semua urusan pribadi dibicarakan di sini. Aku meminta izin cuti karena aku butuh. Kalau memang Anda tidak mengizinkan, tidak masalah. Aku bisa libur tanpa Anda gaji. Mudah, bukan?"


"Abbey, aku tahu. Namun, kau adalah bagian penting dari perusahaanku. Jadi, aku berhak tahu alasannya kau mengambil liburmu!"


Van masih berusaha keras untuk mengetahui urusan orang lain. Abbey kehilangan kesabaran kali ini. Dia beranjak dari tempat duduknya lalu menatap tajam wajah bosnya.


"Setuju atau tidak, aku ambil cuti itu! Kakak iparku mau menikah dan aku harus di sana!" Abbey meninggalkan ruangan Van dengan kemarahan.

__ADS_1


Sebagai seorang bos, Van selalu saja ingin tahu urusan orang lain. Itulah sebabnya Abbey harus tegas. Dia pikir bisa terus menindas Abbey. Kali ini Van kalah.


"Menikah? Eric akan menikah? Siapa calonnya?" gumam Van.


Beberapa waktu kemudian, Anne datang. Dia baru pulang dari belanja kemudian mampir untuk menjemput suaminya.


"Mengapa terlihat kesal begitu?"


"Abbey akan mengambil cuti selama beberapa hari, Anne. Aku tanya alasannya mengambil cuti, dia tidak mau mengaku. Pada akhirnya, dia mengatakan kalau Eric akan menikah. Menurutmu, pria itu akan menikah dengan siapa?" Van meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan harapan Anne bisa memberikan jawaban yang masuk akal.


"Zaylin baru saja update status. Helen akan menikah. Dia akan pergi ke pernikahan itu."


"Helen?"


"Mengapa kau terlihat terkejut begitu, Van? Apakah kau masih mencintainya?" tanya Anne seolah kecemburuan itu menjadi miliknya sekarang.


"Tidak, bukan begitu. Maksudmu, Helen akan menikah dengan Eric?"


"Aku tidak peduli dia menikah dengan siapa pun! Jadi, apa masalahmu sekarang?"


Anne menatap suaminya semakin tajam. Van merasa kalau Helen mendapatkan pria yang jauh lebih baik ketimbang dirinya.


"Tidak ada, Anne. Tolong jangan membuat kesalahpahaman lagi!"


Sebenarnya yang membuat kesalahpahaman adalah Van, bukan Anne. Pria itu terkadang tidak rela kalau mantannya mendapatkan pria yang lebih baik. Itulah sebabnya dia ingin tahu kabar terbaru Helen selama ini. Tentunya diam-diam tanpa sepengetahuan Anne.


"Aku akan menggagalkan pernikahanmu, Helen!" gumam Van.


Sementara itu, persiapan keberangkatan menuju bandara sedang terjadi di apartemen Abbey. Menurut informasi, malam ini mereka akan berangkat. Tidak hanya pasangan suami istri itu, tetapi juga Zaylin.


"Akhirnya, temanku akan melepaskan status jandanya!" ujar Zaylin.


"Iya, Zaylin. Kalau Helen sudah menemukan pasangannya, bagaimana denganmu?" Abbey tersenyum ke arahnya.


"Tunggu takdir saja, Abbey! Semoga pria itu menyukaiku!"


__ADS_1


__ADS_2