Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 46. Syarat dari Papa


__ADS_3

Menerobos keluar dari rumah itu dari hadangan mama mertua adalah sesuatu yang takjub. Tentu saja Abbey bangga akan hal itu. Lagi pula, siapa yang menyuruh wanita itu mengekang semua yang diinginkan Abbey?


Pertemuannya di halaman dengan Eric membuat pria itu tersenyum simpul. Tidak mengerti dengan kejadian yang sebenarnya, tetapi malah mengeluarkan candaan yang membuat Abbey semakin marah.


"Kamu mau kabur ke mana? Ini baru hari pertama menikah. Mengapa sudah seperti itu?" tanya Eric.


"Kupikir kalau kamu dan mamamu adalah satu spesies yang sama. Menyebalkan! Lebih baik minggir atau aku akan–"


"Abbey, tunggu!"


Panggilan Rylee membuat kedua manusia itu menoleh. Terlihat seorang lelaki muda menarik koper dengan menggunakan baju tidur. Terlihat lucu dan menggelitik sehingga membuat Eric mengejek mereka lagi.


"Prahara rumah tangga sedang terjadi. Ada apa? Apakah malam pertama yang tidak berkesan atau sesuatu telah terjadi?" tanya Eric.


"Diam!" teriak keduanya.


Kalau boleh memilih, rasanya Rylee ingin meninju wajah kakak laki-lakinya. Bukannya membantu menenangkan Abbey, dia malah meledek istrinya hingga meledak-ledak.


"Ya, baiklah. Aku minta maaf. Memangnya kalian mau ke mana?" tanya Eric.


Abbey sudah tidak bisa diajak bercanda lagi. Dia segera menarik kopernya keluar halaman menuju gerbang. Dia berharap mendapatkan taksi di sana. Namun, tidak semudah bayangannya.


Rylee mencekal lengan Abbey saat dirinya berhasil mendekat. Emosinya sungguh meledak sehingga membuat Rylee kewalahan.


"Kamu mau ke mana? Kita akan pergi bersama-sama. Jangan seperti itu!"


"Aku hanya tidak mau berlama-lama di dalam rumah yang menyebalkan itu. Mamamu terlalu ikut campur. Ini tidak boleh, itu tidak boleh."


"Oke, sekarang tenangkan dirimu! Kamu mau ke mana dengan kondisi seperti ini? Apakah mau menyusul orang tuamu ke hotel?"


Abbey hampir lupa. Jelas sekali kalau mereka masih berada di sana. Tidak mungkin secepat itu kembali ke rumah. Apalagi setelah pesta yang cukup melelahkan.


"Pesankan tiket pesawat! Kita akan pergi ke tempat di mana tidak seorang pun melarang apa pun yang ingin kita lakukan."

__ADS_1


Ini baru pilihan yang luar biasa. Rylee menanggapinya dengan senang hati. Apalagi ini merupakan cita-cita yang dibayangkan sebelumnya. Rupanya baik dirinya maupun Abbey merasa satu frekuensi.


Ketika ada taksi yang lewat tidak jauh dari tempatnya, Rylee melambaikan tangan dengan harapan taksi itu tidak berpenumpang.


"Ah, akhirnya. Lebih baik kita naik taksi dulu. Kamu mau ke penginapan atau langsung ke bandara? Kalaupun kita mendapatkan tiket, kemungkinan baru nanti malam. Apa kamu tidak lelah? Oh, atau lebih baik kamu hubungi Zaylin saja. Kurasa mereka masih ada di sini, bukan? Eric pasti memberikan tiket kembali pada esok hari. Jadi, kamu juga masih bisa bertemu dengan Mama dan Papa. Setidaknya untuk menyampaikan salam perpisahan."


"Hotel X, Sir!" ucap Abbey tanpa menunggu persetujuan Rylee.


Sesegera mungkin Abbey mengirim pesan kepada Helen supaya menunggunya di sana. Menurut balasan yang dia dapat, Helen dan orang tua Abbey memang masih berada di hotel karena nanti malam Eric masih mengajak mereka untuk makan malam sebelum berpisah.


"Oh, ya, ampun! Apa yang ingin ditunjukkan Eric kepada semua orang?" tanya Abbey membuat Rylee yang sedang fokus memandangi ke luar jendela segera menoleh ke arah sang istri.


"Ada apa?"


"Eric meminta mereka untuk hadir pada dinner nanti malam. Kurasa pasti ada mamamu juga di sana. Bagaimana aku bisa menampakkan wajahku?"


"Jangan khawatir! Harusnya Mama tahu kalau kamu sangat sensitif. Bukan karena kamu, tetapi kehamilan yang sedang terjadi. Aku benar, bukan?"


Perjalanan menuju hotel terasa sangat singkat sekali. Helen dan Zaylin memang menyambutnya di depan resepsionis.


"Hai, pengantin baru! Mengapa kalian terlihat menggemaskan begitu? Satunya masih belum menggunakan pakaian normal dan satunya lagi terlihat seperti seorang anak yang kabur dari orang tuanya," canda Helen.


"Jangan menggangguku! Oh, ya, mamaku masih ada di sini, bukan? Aku akan menemuinya."


Abbey meninggalkan koper yang dibawa agar dibantu Zaylin memasukkan ke kamar Rylee. Saat ini laki-laki itu sedang memesan satu kamar untuk bermalam sampai besok pagi. Kemungkinan dia dan Abbey akan mendapatkan tiket penerbangan yang sama dengan kedua temannya. Namun, berada di kelas yang berbeda.


"Flo, kamu di sini, Nak?" sapa Blair saat membuka pintu.


Abbey langsung memeluk mamanya dengan perasaan yang sangat rindu. Bertahun-tahun berpisah lalu dipertemukan dalam momen mengharukan seperti itu.


"Ajak Flo masuk!" perintah Arthur.


Blair kembali menutup pintu. Dia membimbing Abbey untuk duduk di sofa lalu mengambil air minum. Dia menyerahkan segelas air itu pada putrinya.

__ADS_1


"Minumlah! Kamu kelihatan lelah sekali."


"Terima kasih, Mam. Aku belum sarapan pagi."


Tentu saja Blair terkejut. Dia melihat ponselnya dan menyadari bahwa ini sudah melewati jam makan pagi.


"Lain kali jangan seperti itu! Kamu sedang hamil dan tidak seharusnya melewatkan sarapan pagi," tegur Blair.


Abbey jelas tidak akan menceritakan bahwa dia kabur dari mama mertuanya karena sesuatu hal. Dia tetap diam sambil memerhatikan mamanya menelepon untuk meminta room service pengantaran makanan sekarang. Beruntung tidak terlalu sibuk sehingga beberapa menit lagi mereka akan datang.


"Kamu beruntung. Mereka akan segera mengantarkan makanan. Oh, ya, kamu mau ke mana?" tanya Blair.


Arthur hanya melihat dari jauh interaksi yang terbangun antara istri dan anaknya. Mereka memang memiliki kemiripan. Jadi, Arthur sudah bisa membaca bahwa Flo pasti kabur dari rumah mertuanya. Hanya saja Arthur menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun.


"Flo, kamu mau ke mana?" tanya Arthur saat mengetahui istrinya tidak mendapatkan jawaban apa pun.


"Aku mau pergi ke tempat lamaku, Pa. Aku ingin hidup mandiri bersama Rylee."


Blair dan Arthur berpandangan. Rencananya Rylee yang akan mengurus perusahaan, tetapi Arthur harus menghormati keputusan putrinya.


"Pergilah ke mana pun yang kamu mau, tetapi papa punya syarat untukmu."


Abbey mencondongkan badannya ke arah mamanya seakan menelisik bahwa ini atas permintaan wanita itu. Namun, Blair tampak menggelengkan kepala pertanda bahwa dia tidak mengetahui apa pun.


"Apa, Pa?" tanya Abbey setelah kembali mundur dan menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Buktikan bahwa Rylee layak sebagai suami! Papa tidak mau dia mengecewakan keluarga kita. Kalau sampai itu terjadi, kamu tahukan konsekuensinya apa?"


Rasanya Abbey sedang bertemu dengan seorang pengacara. Papanya seakan menuding bahwa Rylee adalah sosok jahat yang tidak layak untuk dijadikan pasangan hidup. Lebih tepatnya merendahkan posisi Rylee saat ini. Beruntung suaminya tidak mendengar perbincangan ini. Mungkin dia juga akan kabur seperti yang dilakukan Abbey pagi ini.


"Deal, aku setuju!" ucap Abbey yakin.


__ADS_1


__ADS_2