
Tidak butuh waktu lama untuk memutuskan sesuatu. Ternyata Abbey memang hamil dengan dibuktikan test pack yang dibelinya dari apotek. Urusan apartemen sudah diserahkan pada pengembang. Sementara mobilnya dijual untuk menambah tabungan di tempat baru.
Abbey memutuskan pergi ke sebuah negara yang menurutnya cocok dengan kondisinya saat ini. Dia butuh ketenangan dan juga kedamaian hidup. Sementara itu, Abbey hanya pamit pada Zaylin karena cuma wanita itu yang bisa dipercaya.
"Kamu yakin akan meninggalkan semua ini? Kenapa tidak meminta pertanggungjawaban dari ayah biologisnya, Abbey?" tanya Zaylin yang membantu mengantarkan Abbey ke bandara.
"Andaikan aku tahu, Zaylin. Dia menghilang."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Silakan!"
"Apa kamu melakukannya dengan cinta? Maksudku hubungan kalian apakah didasarkan pada cinta dan perasaan?"
"Tidak, Zaylin. Ah, sudahlah. Lebih baik lupakan saja. Kita akan tetap berkomunikasi. Sewaktu-waktu urusanku sudah selesai, aku akan kembali."
Zaylin tersenyum melepaskan temannya. Keputusan yang diambil Abbey ini jauh lebih baik ketimbang apa yang dialami Helen saat ini.
Sementara itu, seorang laki-laki baru saja keluar dari pesawat yang membawanya untuk bertemu kembali dengan Abbey. Ya, Rylee segera mencari taksi menuju ke apartemen wanita itu. Penampilannya sama seperti sebelumnya. Terlihat seperti bad boy, tetapi cukup rupawan.
"Semoga kamu masih memaafkan aku, Abbey," gumamnya saat berada di dalam taksi.
Dia tidak akan menyangka jika kedatangan akan semakin menambah luka dan rasa bersalahnya pada Abbey. Ketika baru saja turun dari taksi lalu memutuskan segera naik ke unit apartemen yang pernah ditempati selama beberapa hari bersama Abbey.
Kenyataannya sampai di sana, Rylee menekan bel berulang kali. Tidak ada jawaban dan tidak seorang pun keluar dari sana.
"Ke mana kamu, Abbey?" gumam Rylee.
Di dalam hatinya hanya ada beberapa pilihan. Mungkin juga dia sudah kembali bekerja dan belum pulang. Opsi selanjutnya bahwa Abbey pergi bersama teman-temannya.
"Oh, apa aku pergi ke kantor Van saja? Istrinya juga tahu kalau Abbey pernah bekerja di sana. Mungkin juga Van tahu ke mana perginya Abbey."
Rasa cemas mulai menyelimuti hati Rylee. Dia memutuskan segera mencari taksi lalu pergi ke perusahaan Van. Mengapa harus Van, bukan Thanos? Hubungan Abbey dan Van masih lebih baik ketimbang dengan Thanos walaupun Rylee juga tahu di mana rumah pria itu.
Ketika sampai di depan resepsionis, Rylee dipersulit untuk masuk karena penampilannya bukan seperti seorang pengusaha. Terlihat seperti seorang preman yang tidak tahu tempat. Berbeda saat datang bersama dengan Abbey saat itu.
"Maaf, bos kami tidak memiliki kepentingan dengan orang seperti Anda!" tegas resepsionis.
"Katakan padanya bahwa aku adalah teman Abbey. Mantan sekretaris di perusahaan tuanmu ini." Rylee mencoba memaksa, tetapi tidak mudah.
__ADS_1
Sepertinya Rylee harus mundur. Saat tahu Van keluar pun tetap tidak diizinkan untuk menemuinya. Van pergi menggunakan mobilnya tanpa tahu kalau Rylee sedang mencarinya.
"Sial!" maki Rylee.
Saat rasa putus asanya memuncak, tiba-tiba Helen datang. Wanita itu berjalan dengan elegan untuk menemui suaminya.
Rylee tidak butuh waktu lama sehingga memutuskan untuk mengejar Helen.
"Helen!"
Helen pun segera menoleh dan menemukan keberadaan laki-laki yang pernah bersama Abbey.
"Rylee?"
"Ya, aku datang ke sini untuk mencari Abbey. Cuma saat aku mau masuk ke ruangan suamimu, resepsionis tidak mengizinkan karena aku tidak memiliki janji temu dengannya."
"Kalau begitu kita masuk bersama-sama."
"Ke mana?" tanya Rylee heran.
"Bertemu Van. Kamu bilang ingin bertemu dengannya."
Seketika Helen terdiam. Mungkinkah Van menemui wanita itu? Helen buru-buru kembali ke mobil untuk menyusul ke mana perginya Van.
"Helen, kenapa buru-buru?" tanya Rylee yang ikut mengekor di belakangnya.
"Rylee, aku harus memergokinya. Suamiku selingkuh!" Helen terlihat kacau. Dia harus menemukan bukti perselingkuhan itu.
"Oh, dengan Anne?"
Seketika Helen membeku. Jadi, Rylee malah jauh lebih tahu ketimbang dirinya. Helen malah salah paham pada Abbey dan mengira temannya sendiri yang jahat. Dia juga sudah membuat Abbey dipermalukan karena tamparannya.
"Kamu tahu?"
"Bukan aku, tetapi Abbey. Sekitar sebulan yang lalu. Cuma kalau mereka mulai sejak kapan, aku tidak tahu. Lagi pula, Abbey tidak ingin mengatakan itu padamu karena dia takut salah paham."
"Aku sudah salah pada Abbey, Rylee. Aku sudah mengiranya telah berselingkuh dengan suamiku."
"Abbey tidak serendah itu. Jadi, apa aku boleh ikut denganmu."
__ADS_1
"Ayo!"
Helen sebenarnya ingin mengemudikan mobilnya sendiri, tetapi Rylee melarangnya. Sebagai seorang wanita yang sedang panik, kondisi Helen tidak stabil. Takut terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya saat berkendara.
"Jadi, kamu mau mencarinya ke mana?" tanya Rylee.
"Pusat kota di mana banyak hotel di sana. Aku yakin kalau Van tidak akan membawa wanita itu di sembarang tempat."
Rylee mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan, tetapi stabil. Mobil mewah yang dimiliki Helen saat ini tidak sulit dikemudian Rylee. Di rumahnya pun banyak sekali.
"Helen, sambil mencari keberadaan Van, aku ingin bertanya padamu. Kamu tahu di mana Abbey?"
Helen masih terpusat pada ponselnya untuk menghubungi Van. Dia tidak fokus pada pertanyaan Rylee kali ini.
"Baiklah, Helen. Kamu masih sibuk rupanya," ujar Rylee melanjutkan.
Sementara Helen terus saja mendial nomor suaminya. Sampai pada bukti yang menunjukkan bahwa Van dan Anne benar-benar terbukti selingkuh.
"Rylee, hentikan mobilnya!"
Rylee memang tidak tahu kalau Helen sudah menemukan jawabannya. Dia menepikan mobil dan mencari tempat parkir.
Rupanya Van membawa Anne ke toko perhiasan terbesar di kota itu. Sudah jelas terlihat berselingkuh, tetapi Van tidak segan bermesraan dengan Anne yang terlihat seperti dirangkul dari samping.
"Aku akan turun sekarang, Rylee. Dia wanita kurang ajar. Aku harus memberikan pelajaran padanya. Buka pintunya!"
Ya, Rylee sengaja mengunci pintu mobil itu agar Helen tidak keluar. Bukan seperti itu caranya membalas suaminya yang nakal.
"Jangan lakukan apa pun, Helen! Tetap di mobil dan dengarkan aku. Kalau kamu turun, justru itu akan mempermalukan dirimu. Van akan semakin jijik padamu. Gunakan cara lain yang menurutmu baik dan cukup elegan. Kumohon, Helen!" pinta Rylee.
Seketika Helen menjadi tenang. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil itu. Dia memejamkan matanya sejenak.
"Kamu benar, Rylee. Kalau begitu kita kembali saja," ujar Helen. "Oh, ya, kamu mau mencari Abbey?"
"Ya, aku terpaksa meninggalkannya karena ada pekerjaan penting. Sekarang semua urusanku beres, makanya aku kembali lagi."
"Aku tidak tahu ke mana Abbey pergi, tetapi saat ini dia sedang hamil."
Seketika Rylee menghentikan mobilnya sampai pengemudi di belakangnya membunyikan klakson berulang kali.
__ADS_1
"Abbey hamil?" Rylee masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.