
Helen membuktikan kesungguhannya untuk menyiapkan pesta malam ini. Zaylin juga sudah memberikan jawaban bahwa dia bisa hadir, tetapi sedikit terlambat.
"Helen, apa kamu yakin kalau Van akan pulang tepat waktu?" Abbey merasa tidak enak hati pada mantan bosnya itu.
"Tunggu saja. Dia pasti pulang."
"Mengapa seyakin itu?" tanya Abbey.
Rylee sedang beristirahat di kamar tamu, sedangkan Abbey menemani Helen untuk menyiapkan beberapa makanan dan minuman. Beberapa minuman beralkohol juga disiapkan, tetapi Helen sudah memberitahukan bahwa Abbey tidak boleh menyentuhnya.
"Gara-gara Anne," sambung Abbey.
"Ya. Kurasa aku akan mendapatkan bukti itu, Abbey. Aku minta maaf sudah curiga kalau kamu menjalin hubungan dengan suamiku."
"Aku bukan penggoda, Helen. Kalau aku mau, sudah sejak lama saat aku bekerja di sana. Kesempatanku jauh lebih besar karena memiliki jadwal pekerjaan Van dengan jelas. Di mana dia akan berada beberapa menit kemudian. Lalu, dia pergi dengan siapa saja. Semuanya ada di tanganku dan terstruktur dengan baik."
Benar juga. Abbey sudah seperti teman dekat bagi Van, tetapi karena Van pernah merayunya dan Abbey menolak, pantas saja kalau Van agak menjaga jarak dengan Abbey.
"Kalau ternyata mereka benar-benar terbukti malam ini, apa yang akan kamu lakukan? Maaf, bukan maksudku ikut campur." Abbey tidak sabar untuk melihat Van mendapatkan hukumannya.
"Aku belum tahu, Abbey. Aku tidak sekuat dirimu."
Kata siapa? Abbey sedang rapuh. Dia sedang memikirkan Eric dan Rylee di waktu yang berbeda. Terkadang dia tidak bisa menerima Eric karena Rylee-lah papa biologis bayinya. Namun, bagaimana mungkin Abbey bisa menikmati kehidupannya kalau mereka tinggal di dalam rumah yang sama?
"Aku tidak sekuat yang kamu bayangkan, Helen. Semua punya titik terendah masing-masing."
"Benarkah? Bukannya kamu dan Rylee sudah bertunangan?"
"Oh, ya, ampun, Helen! Sudah kuulang berapa kali? Aku tidak bertunangan dengannya, tetapi dengan kakaknya, Eric. Orang tuaku tidak setuju kalau aku menikah dengan Rylee."
"Oh, ya, ampun! Semoga saja ada keajaiban untuk mempersatukan kalian berdua. Aku melihatmu saja tidak sanggup."
Mendekati makan malam, Thanos dan Anne datang lebih dulu. Mereka agak terkejut melihat kehadiran Abbey dan Rylee. Selama ini yang mereka tahu kalau Abbey sudah kembali ke rumah orang tuanya.
"Kukira kamu tidak akan kembali," ucap Thanos.
__ADS_1
"Aku berhak datang ke tempat ini kapan pun yang ku mau. Helen juga tidak masalah, tetapi mengapa kamu yang bingung?" tanya Abbey.
"Tidak. Bukan seperti itu, Abbey. Apartemen dan mobilmu sudah–"
"Ck, kabar itu cepat sekali menyebar!" seru Abbey. "Aku menjual dan menyewakannya bukan berarti kehidupanku sudah terjun bebas ke kasta terendah dari pertemanan ini. Aku hanya pulang, Thanos. Kurasa jangan bahas masalah pribadi. Apa kabar kalian?" Abbey terlihat tidak suka.
"Kami baik dan–" sahut Anne. Dia hampir saja keceplosan bahwa dirinya sedang hamil.
"Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya," sahut Helen yang berusaha bersikap ramah.
Zaylin juga datang tidak lama setelah kedatangan Thanos dan istrinya. Dia membawa beberapa kantung belanjaan.
"Aku membawa semua pesananmu, Helen. Daging, beberapa anggur, dan sedikit buah-buahan," ucap Zaylin.
"Berapa uangnya?" Helen memang meminta untuk membelikan, tetapi bukan bermaksud untuk memintanya membayar juga.
"Tidak perlu. Ini tidak seberapa mahal dibandingkan pertemuan ini," balas Zaylin. Dia mendekati Abbey lalu memeluknya. "Aku merindukanmu, Sayang. Bagaimana dengan kandunganmu?"
Zaylin memegangi perut temannya yang masih rata. Hal itu tidak luput dari pandangan Rylee, Thanos, dan Anne. Tanpa dia sadari, Anne pun mengelus perutnya dengan tersenyum. Namun, dia sama sekali tidak menyadari kalau Helen memperhatikannya.
Tiga wanita cukup cekatan untuk menyiapkan makan malam itu. Helen berulang kali melihat ke depan seakan menanti seseorang. Lebih tepatnya Van belum pulang sampai pada waktu makan malam tiba.
"Apakah Van sedang lembur di kantor?" tanya Thanos.
"Kurasa. Akhir-akhir ini dia pergi pagi dan pulang sangat larut. Dia hanya ingin bekerja keras untuk istrinya." Helen tersenyum.
Anne memerhatikan setiap gerak-gerik Helen. Kilatan cemburu mendera. Rupanya ini yang membuat Van sibuk akhir-akhir ini. Dia bahkan tidak mengirimkan pesan sama sekali.
"Bisakah aku mendapatkan tambahan makanan itu?" Rylee menunjuk steak buatan Zaylin yang rasanya lumayan enak.
"Wah, kali ini kamu berhasil membuat laki-laki muda jatuh cinta pada makananmu, Zaylin!" puji Abbey.
Zaylin tersenyum. Dia menyediakan beberapa steak, sedangkan Helen menyiapkan beberapa gelas anggur.
"Helen, aku tidak minum!" tolak Abbey.
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Anne, Thanos, silakan!" ucap Helen.
Anne yang biasanya menggilai segala macam jenis alkohol, kali ini dia menolaknya. Terlebih dia tahu kalau sudah hamil, tetapi belum memberitahukan kepada Thanos. Orang pertama yang harus tahu adalah Van.
"Kali ini aku tidak minum," tolak Anne.
"Tumben, Anne. Kamu seperti wanita hamil saja," sindir Zaylin.
"Tidak, Zaylin. Aku hanya berusaha untuk hidup sehat saja. Kamu tahukan kalau aku dan Thanos sedang berkomitmen untuk tidak memiliki anak dalam jarak dekat, tetapi bukan berarti kami akan melegalkan childfree." Anne hanya mempertahankan jawabannya saja.
Sebenarnya Anne sangat cemas. Semenjak dia datang sampai makan malam hampir usai, Van tidak kunjung terlihat. Mungkin pria itu sengaja menghindar atau tidak ingin bertemu dengannya.
"Van ke mana? Apa dia benar-benar ingin meninggalkan aku?" batin Anne.
Melihat istrinya tidak nyaman, Thanos menunjukkan perhatian kepadanya.
"Sayang, kamu terlihat cemas sekali. Ada apa? Apakah kamu melewatkan jadwal pemotretan atau apa?" tanya Thanos.
"Tidak ada, Thanos. Aku baik-baik saja."
Bohong! Thanos bisa melihat kecemasan itu di wajah sang istri, tetapi percuma juga memaksanya berbicara selagi dia tidak ingin.
Van yang sebenarnya malas untuk pulang ke rumah mendadak ingin pulang. Beberapa hari menghindari Anne adalah cara untuk meyakinkan Helen bahwa mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Nyatanya perasaan rindu itu memaksanya untuk kembali ke rumah hanya ingin melihat Anne lebih dekat.
"Oh, Anne, aku bisa gila! Setiap detik di kantor, rasanya butuh waktu jutaan tahun untuk melupakanmu. Aku menghindar bukan karena aku ingin menjauh darimu, tetapi aku hanya ingin memberikan ruang bagi Helen agar melepaskan kecurigaan itu. Maafkan aku, Anne. Aku merindukanmu dan sekarang kita akan bertemu kembali," gumam Van.
Beberapa menit lagi, mobilnya sampai di rumah. Sesegera mungkin Van turun lalu masuk ke kamar walau hanya melewati Helen dan teman-temannya. Perasaan ragu untuk turun semakin besar karena mobil Thanos juga ada di sana.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Helen menyapa suaminya yang baru saja terlihat.
"Ah, iya, Sayang. Aku ke kamar sebentar," pamit Van.
"Helen, toilet di sebelah mana? Rasanya aku ingin mencuci muka. Aku sedikit mengantuk." Anne mencari alasan untuk bertemu dengan Van.
"Kurasa kamu sudah hafal seluruh letak toilet di rumah ini, Anne. Jadi, aku tidak mungkin menunjukkan di mana letak toilet itu, kecuali kamu ingin masuk ke toilet yang ada di kamar pribadi kami," sindir Helen.
__ADS_1