
Hari ini jadwal begitu padat. Diam-diam Eric memberikan kabar bahwa orang tua Abbey akan segera sampai di sini. Penerbangan siang dan akan sampai di sini pada malam hari.
Sementara itu, hubungan Abbey dan Rylee sedang tidak baik-baik saja. Rylee mengakui bahwa itu memang foto mantannya, tetapi sudah tidak ada hubungan lagi.
"Om, aku minta izin agar Eric mau mengantarkan aku ke rumah sakit siang ini." Abbey memberanikan diri untuk berbicara pada Philo.
"Tentu saja. Ajak calon suamimu." Philo tentu menyetujuinya.
Sementara Eric merasa tidak nyaman akan hal ini, tetapi dia mencoba berdamai dengan keadaan. Lagi pula, tinggal beberapa hari mereka akan menikah. Semakin mendekati hari H pernikahan, Rylee seperti sedang menjauh darinya.
"Baiklah kalau Papa mengizinkan," ucap Eric pelan.
Tangan Rylee sudah mengepal bersiap untuk meninju Eric, tetapi Philo keburu mengingatkannya untuk datang ke kantor lebih awal. Ada persiapan rapat pada pagi hari karena Eric harus pergi.
"Rylee, ikut papa ke kantor! Gantikan Eric untuk meeting hari ini," ajak Philo.
Rylee rasanya seperti anak tiri. Saat saudaranya akan menikah, justru dia diperlakukan seperti itu. Namun, kali ini dia tidak banyak bicara sehingga langsung mengekor di belakang papanya.
Sementara itu, Dixie ingin bertanya pada Eric dan Abbey sebelum mereka pergi ke rumah sakit. Bukan pertanyaan sulit, tetapi cukup menjebak.
"Jadi, Flo, kamu mau ke rumah sakit, bukan? Pasti untuk melihat kondisi calon cucuku. Jangan lupa katakan pada dokter bahwa Eric adalah calon suamimu. Itu akan lebih baik daripada kalian hanya berpura-pura. Cepat atau lambat, hubungan kalian akan disahkan."
Dixie seolah sudah memberikan ultimatum bahwa buah hatinya nanti akan menjadi hak milik Eric, bukan Rylee. Hatinya ingin menangis, bahkan grandmother-nya saja menginginkan hal seperti itu.
"Mam, ini hanya pemeriksaan biasa," balas Eric.
"Ya, tetapi ini akan sangat istimewa untuk pasangan suami istri. Dulu mama dan Papa juga sepertimu, Eric. Sangat bahagia mendapati kehamilan pertama mama. Begitu juga saat mama hamil adikmu, Rylee. Mama bahagia juga. Hanya saja keinginan mama untuk memiliki anak perempuan belum pernah dikabulkan. Mama harap kalau cucu mama adalah perempuan," jelas Dixie.
Abbey diam. Dalam hatinya dia menginginkan anak laki-laki yang gagah, tampan, dan berotot seperti Rylee. Dia cukup tampan untuk ukuran pria seperti itu. Menarik dan menyebalkan, tetapi Abbey suka.
"Ya, Tante. Akan kuusahakan seperti yang Tante minta," balas Abbey.
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Eric lebih banyak diam. Sementara Abbey, dia hanya ingin berbicara untuk menguraikan rasa gugup yang tengah dirasakan saat ini.
"Eric, aku ingin bicara dari hati ke hati."
__ADS_1
"Tentang apa?"
"Kamu tidak ingin mengakui anak ini, bukan? Mengapa tidak mencoba bicara sama mamamu untuk melepaskan hubungan kita?"
Eric ingin melakukan, tetapi tidak ingin mematahkan hatinya. Hati orang tuanya akan terasa menyakitkan bagi Eric. Dia tidak tega.
"Tidak semudah itu, Abbey. Mungkin ini juga sulit bagimu. Sama halnya yang kurasakan saat ini. Aku berada di persimpangan. Di sisi lain aku mendukung hubungan ini karena orang tua kita. Lalu, aku harus bermusuhan dengan adikku tanpa sebab walaupun kami semua tahu bahwa penyebabnya adalah bayimu. Bayimu dengan Rylee. Aku juga dilema telah memisahkan hubungan papa, mama, dan anaknya dalam satu waktu. Aku tidak berdaya, Abbey. Tolong mengertilah posisiku."
Abbey menarik napas panjang. Dia merasa kalau pernikahannya dengan Eric akan berjalan dengan lancar. Terlebih orang tuanya juga akan datang.
"Oh, ya, kedua temanku sudah mengkonfirmasi kalau mereka akan datang. Kuharap kamu tidak melupakan akomodasi untuk mereka."
"Hanya dua? Tidak ada yang lainnya?"
"Cuma itu."
"Suaminya? Tidak mungkin mereka datang ke sini tanpa suami, bukan?"
Agak rumit, tetapi Abbey harus menjelaskan.
"Oh, aku minta maaf."
Memasuki area rumah sakit, mereka langsung masuk ke klinik dokter kandungan. Sebagai calon suami yang baik, Eric rupanya sudah meminta pihak rumah sakit untuk memberikan jadwal selagi mereka sampai.
"Kita tidak perlu mengantre?" Abbey sedikit terkejut.
"Tidak perlu. Aku sudah meneleponnya sebelum kemari."
Hati Abbey dibuat gundah. Eric adalah pria yang baik. Terkadang dia benci dengan keputusan ini, tetapi dia juga tahu bahwa orang tuanya ingin yang terbaik. Eric-lah yang bisa memberikan semua itu.
Berada di ruang dokter. Lalu, menjalani pemeriksaan sampai pada proses USG, rasanya Eric ikut hanyut dalam kebahagiaan itu. Belum pernah dia melihat sesuatu yang sangat luar biasa bergerak-gerak di dalam perut seseorang.
"Janinnya sehat. Tetap jaga pola makan dengan baik. Sering lakukan pemeriksaan rutin."
"Baik, Dokter. Terima kasih," jawab Abbey.
__ADS_1
"Anda beruntung, Tuan Eric. Jarang pria yang bertanggung jawab seperti ini. Semoga pernikahan kalian lancar," ujar dokter tersebut.
Eric sama sekali tidak mengatakan apa pun, tetapi dokter itu seakan tahu segalanya.
"Terima kasih, dokter. Jadi, apakah aku harus menebus obat atau apa pun?" Eric sebenarnya hanya ingin tahu saja.
"Tentu saja, Tuan. Aku sedang meresepkan vitamin untuk Nyonya Eric Filbert. Jangan lupa tebus di apotek sebelum pulang."
"Terima kasih, Dokter," sahut Abbey.
Keduanya keluar dengan perasaan berkecamuk di dadanya. Eric tidak mengatakan apa pun, tetapi dokter itu benar-benar seperti membuat keduanya dalam situasi yang sulit.
"Kamu senang, Eric?"
"Aku tidak melakukan apa pun, Abbey. Aku hanya menelepon dokter untuk diberikan akses masuk dengan cepat."
"Benarkah? Jangan bohong, Eric!"
"Kurasa bukan aku, tetapi Mama." Eric masih bersikeras pada pendiriannya.
Tidak salah lagi. Dixie-lah penyebab semua ini terjadi. Untuk membuat segalanya mudah, tentu saja Abbey butuh teman. Satu-satunya cara agar dia terbebas dari Dixie adalah membawa Zaylin dan Helen dalam waktu yang tepat.
"Baiklah. Kali ini aku percaya. Namun, aku ingin meminta satu hal padamu. Datangkan kedua temanku setelah orang tuaku datang. Aku butuh pendampingan mereka. Bisakah kamu lakukan itu untukku?"
"Tentu saja. Selepas dari rumah sakit, kita urus penerbangan mereka. Bukan hal yang sulit, tetapi bisakah kamu pikirkan di mana mereka akan tinggal?"
Tidak salah lagi. Paviliun akan menjadi pilihan yang tepat. Sementara para orang tua akan tinggal di rumah yang sama. Sementara Abbey, dia mungkin berencana untuk membuat pernikahan ini gagal bersama kedua temannya.
"Paviliun kurasa tempat yang tepat, Eric. Itu pun kalau orang tuamu setuju?"
"Baiklah. Besok malam kupastikan mereka akan tiba dan tinggal bersama denganmu."
"Terima kasih, Eric. Kamu adalah pria yang luar biasa," puji Abbey.
Maafkan aku, Eric. Rasa cintaku pada Rylee akan mengubah segalanya setelah kedua teman-temanku datang. Terima kasih.
__ADS_1