Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 40. Kekesalan Rylee


__ADS_3

Kesibukan seluruh anggota keluarga Dixie semakin terlihat. Ditambah lagi dengan kedatangan Zaylin dan Helen. Mereka tiba pada siang hari dan langsung diantarkan untuk menempati paviliun.


"Jadi, dia itu Eric? Pria yang akan menikah denganmu, Abbey," ucap Helen.


"Ya, kamu sudah bertemu dengannya di depan, bukan?" Abbey mengembang kempiskan pipinya. Ada rasa sesal bahwa sebentar lagi mereka akan menikah.


"Dia pria yang manis," puji Zaylin.


"Sangat manis, Zaylin. Sayangnya hatiku sudah bertaut pada adiknya. Ini agak rumit, tetapi kenyataannya begitu."


Abbey menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang. Ya, mereka berada di kamar yang sama atas permintaan Abbey. Menjelang pernikahan, Abbey akan pindah ke kamar hotel di mana pernikahan akan dilangsungkan.


"Oh, Abbey, rupanya kamu menyukai badboy daripada pria hangat itu. Terlihat sekali sangat perhatian padamu. Buktinya sudah jelas karena biaya akomodasi kami dan segala keperluan ditanggung olehnya. Oh, andaikan ada lagi pria model seperti itu, aku pun mau," sahut Zaylin.


Tanpa sepengetahuan Abbey dan Zaylin, Helen memandangi wajah Eric dari kejauhan. Andaikan Van seperti itu, mungkin mereka akan hidup bahagia sekarang. Sayangnya hubungan mereka sudah dalam keadaan hancur tidak tersisa. Perceraiannya pun sudah tinggal menunggu keputusan terakhir.


Siang itu, Eric mengajak Abbey dan kedua temannya untuk makan siang bersama. Bukan di rumah, tetapi di sebuah restoran mewah di pusat kota.


"Terima kasih sudah datang," kata Eric.


"Kami yang berterima kasih padamu, Eric. Kamu sudah memberikan sesuatu yang luar biasa untuk kami. Oh, ya, kami akan menjadi pendamping pengantin wanita kalau kamu menginginkannya," ujar Zaylin antusias.


"Tentu saja. Kalian di sini sangat dibutuhkan. Bukan begitu, Abbey?" tanya Eric.


Abbey tersenyum. Dia menikmati makan siangnya yang lumayan enak dan masuk ke perutnya dengan mudah. Selain itu, Abbey juga mencoba memikirkan hal yang mungkin bisa mengubah pandangan orang tuanya untuk memutuskan hubungan dengan Eric. Bila Abbey berhasil. Bila tidak, maka dia akan terjebak selamanya dalam pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan.

__ADS_1


Belum lagi tentang Rylee yang semakin menjauh dan susah digapai. Laki-laki itu lebih sering pulang larut dalam keadaan mabuk. Sebenarnya Abbey kesal padanya. Bukannya memikirkan cara untuk bersama? Dia malah larut dalam kehidupan pribadinya. Benar-benar menjengkelkan.


"Abbey, apa yang kamu pikirkan?" tanya Eric.


"Ya, Rylee? Ada apa?" Abbey malah merespon dengan menyebut nama laki-laki itu, bukan kakaknya.


"Abbey, ini Eric, bukan Rylee. Kurasa kalian perlu membicarakan ini sebelum pernikahan benar-benar digelar. Jangan sampai orang tua kalian menyesal telah menikahkan kalian." Zaylin tidak ingin kehidupannya terulang pada kehidupan temannya.


Sebenarnya makan siang mereka hampir usai, tetapi karena Abbey melakukan satu kali kesalahan. Maka Zaylin memutuskan untuk membiarkan Eric dan Abbey berbicara sebelum mereka pulang bersama.


"Kami akan pindah ke sana. Kurasa kalian harus benar-benar berbicara. Kumohon," pinta Zaylin. "Jangan sampai pernikahan kalian hancur seperti pernikahanku."


Hening setelah Zaylin dan Helen memutuskan pindah meja. Eric memindai seluruh wajah Abbey. Dia terlihat lemah dan tidak berdaya.


"Kurasa kita tidak perlu melanjutkan pernikahan ini, Eric. Aku, kamu, dan Rylee pasti akan saling menyakiti."


"Lalu, apakah kamu tidak akan menyakiti keempat orang tua yang sedang berada di rumah? Mereka pasti jauh lebih kecewa daripada aku, kamu, dan Rylee. Jadi, jangan macam-macam atau berencana kabur. Pastikan Rylee berada di acara pernikahan kita!" tegas Eric. "Oh, ya, satu lagi, pernikahan kita sudah terdaftar. Jangan coba-coba menghindar! Sebaiknya aku pulang sekarang. Kamu bisa pergi berbelanja dengan teman-temanmu untuk kebutuhan pernikahan kita. Satu gaun beserta aksesorisnya. Terserah kamu butuh berapa. Ini debit card-nya. Password-nya tanggal lahirmu."


Abbey benar-benar tertekan. Setelah Eric meninggalkan mejanya, kedua temannya pun kembali menatap wajah Abbey dengan sendu.


"Kamu gagal bernegosiasi dengannya?" Selidik Zaylin.


"Sudah kuduga dari raut wajahmu, Abbey," sahut Helen.


"Ya, seperti ucapan kalian. Aku harus membayar tagihan ini lalu kita berbelanja. Eric menitipkan ini untuk kita habiskan," canda Abbey yang beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke toilet sebelum membereskan tagihan makan siang mereka.

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah ruangan di dalam gedung perkantoran, seorang laki-laki muda tampak frustasi. Siapa lagi kalau bukan Rylee. Beberapa hari ini otaknya dipenuhi dengan kegagalan hubungannya dengan Abbey. Kesempatan untuk mendapatkan wanita itu sekitar 0.1 persen saja. Sisanya adalah kegagalan.


"Oh, ya ampun! Apa yang akan kulakukan sekarang? Membawa kabur Abbey bukan solusi," gumam Rylee.


Waktu makan siang bagi Rylee adalah sesuatu yang menyebalkan. Terlebih dengan kondisinya seperti ini. Jadi, dia memutuskan tetap berada di dalam ruangan sambil mengerjakan beberapa data yang diminta papanya.


Tanpa Rylee tahu, Eric rupanya datang. Dia mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan adiknya.


"Maaf, aku mendadak datang ke sini. Aku baru saja pergi bersama Abbey dan teman-temannya," kata Eric.


"Tidak penting! Mau apa kamu ke sini? Hanya untuk mengejekku bahwa kamu telah menang mendapatkan Abbey. Ck, caramu sungguh tidak masuk akal!" sindir Rylee. Dia menganggap bahwa Eric berlindung di balik kedua orang tuanya.


"Aku ke sini hanya untuk memastikan bahwa kamu akan datang pada prosesi pernikahan kami. Kuharap kamu tidak akan membuat kekacauan karena teman-teman Abbey juga ada di sana. Pastikan gunakan pakaian yang rapi dan tidak terkesan urakan. Ya, walaupun aku tahu bahwa hatimu sedang sakit, tetapi menghadiri pernikahan kakak sendiri adalah sesuatu yang mutlak. Oke, Rylee?"


"Terserah! Kalau kamu memang ingin membuatku semakin emosional, lebih baik kamu keluar sekarang! Kamu tahu di mana pintu keluarnya, bukan?"


Terus terang saja bahwa perasaan Rylee saat ini seperti diombang-ambingkan. Dia terjebak dalam drama percintaan yang rumit. Ingin kabur, dia pasti berhadapan dengan semua orang.


"Aku pastikan akan datang di pernikahanmu. Sekarang lebih baik kalau kamu keluar! Aku ingin sendiri," ujar Rylee lagi setelah melihat Eric yang masih berada di tempat semula.


"Baguslah! Aku akan menyiapkan pakaianmu karena aku tidak mau kamu menggunakan sesuatu yang tidak layak dan akan mempermalukan keluarga kita. Oh, ya, satu hal lagi, teman-teman Abbey juga tidak kalah cantiknya. Mungkin kamu tertarik pada salah satunya."


Ejekan macam apa ini? Mereka berdua sudah janda dan Rylee tidak memiliki perasaan apa pun pada mereka. Cintanya hanya untuk Abbey dan tidak akan tergantikan.


"Kalau kamu merasa menang sudah mendapatkan Abbey, tidak perlu membuatku merasa tidak memiliki harga diri. Mereka teman-teman Abbey dan juga temanku. Aku tidak mungkin mengencani salah satunya hanya untuk menutup rasa sakit hatiku. Keluar sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2