
Thanos sebenarnya enggan bertemu dengan Anne. Namun, sosial media Zaylin membuat pria itu merasa harus memainkan drama sebelum benar-benar meninggalkan Anne. Selama ini rasa putus asa, frustrasi, dan segala kegundahan hatinya disebabkan oleh Anne. Ketika Thanos berniat melabuhkan cintanya pada Helen, pria itu sudah didahului oleh pria lain, yaitu Eric.
"Mari kita bertemu, Anne! Entah sampai kapan kau akan mempermainkan banyak pria di luaran sana."
Thanos bergegas menemui Anne di sebuah hotel. Bukan di hotel lebih tepatnya, tetapi di lobi hotel sebab wanita itu sedang kabur dari suaminya.
Penampilan Anne kali ini berubah drastis. Sebagai istri pengusaha kaya raya, Van terus saja memberikan banyak hadiah mewah. Salah satunya baju, gaun, dan segala tentang kecantikan.
"Wow, kau sekarang berbeda, Anne! Apakah suami barumu itu sangat memanjakan dirimu?"
"Well, awalnya iya. Hanya saja semakin hari aku menyadari bahwa aku tidak memiliki perasaan apa pun pada dirinya."
Thanos tidak heran. Anne pasti akan melakukan hal yang tidak mudah dipikirkan oleh orang lain, terutama Van.
"Oh, ya? Bagaimana dengan kehamilanmu? Apakah kau akan menyerah begitu saja? Bukankah dia darah daging Van?"
Thanos menyadari bahwa pernikahan yang dibangun selama ini tak kunjung membuahkan hasil. Namun, ketika perselingkuhan Anne mencuat ke permukaan, Thanos merasa ada yang salah dengan dirinya. Namun, Thanos tak cukup berani untuk memeriksakan kesehatannya sendiri.
"Aku tak peduli, Thanos. Aku ingin kembali padamu dan hanya kau yang bisa memahami aku sepenuhnya."
Tersirat maksud yang lucu, tetapi Thanos benar-benar menahan tawa. Mungkin Anne lupa kalau Thanos tidak akan mau kembali ke masa lalu, seperti yang dilakukan dulu pada Abbey. Harusnya mereka memiliki perasaan yang sama, tetapi Anne menjadi orang ketiga yang mampu memenangkan hati Thanos.
Semakin ke sini, kebencian Abbey terlihat begitu nyata. Wanita itu sampai enggan menjalin hubungan dengan pria lain, meskipun pria itu memaksa. Cuma Rylee yang mengambil jalan pintas untuk menghamili wanita itu. Sebenarnya tanpa perencanaan dan kenyataannya itu terjadi.
"Kau terlambat, Anne!"
Wanita hamil itu lantas mendongak. Rasa keterkejutannya kali ini benar-benar di ambang batas dan dirinya tidak menyangka kalau Thanos akan secepat itu berpaling.
"Apa maksudmu? Apakah kau sudah memiliki pasangan lain? Ehm, maksudku apakah kau tertarik pada wanita selain diriku?"
__ADS_1
Thanos tertawa. Dia mencari tempat duduk yang tidak jauh dari lobi. Hanya itu yang bisa dilakukan sekarang. Membalas perbuatan Anne dengan sesuatu yang mengejutkan.
Anne menyusul lalu menggenggam tangan pria itu. Tidak tahu lagi dengan cara apa untuk meyakinkan pria tersebut. Meskipun Anne belum tahu siapa wanita itu, tetapi tidak ada salahnya bertarung lebih dulu untuk meyakinkan Thanos.
"Siapa wanita beruntung itu? Apakah aku mengenalnya? Tidak mungkin Helen, 'kan? Dia sudah menikah dengan Eric. Kakak ipar Abbey." Anne semakin penasaran.
"Tentunya bukan Helen ataupun Abbey. Pasti akan ada wanita lain, Anne. Jadi, kalau kau ingin rujuk, lebih baik pikirkan ulang. Van sangat memanjakan dirimu dan aku bukan tandingannya. Jadi, aku minta maaf."
Sia-sia upaya Anne untuk menyakiti Van. Nyatanya pria itu tidak bisa dikalahkan. Ah, bukan seperti itu. Thanos lah yang sudah tidak mau kembali.
"Kau benar-benar sudah membuangku, Thanos?"
Thanos menggeleng. "Bukan aku yang membuangmu, tetapi kau sendiri yang mencari masalah, Anne. Andaikan kau tidak bermain hati dengan Van, mungkin saat ini kita masih bersama. Masih mau menyangkalnya lagi? Oh, atau kau mau menuduh orang lain?"
Pupus sudah harapan Anne. Dia kembali dengan tangan kosong, sedangkan seseorang di seberang sana tampak terlihat bahagia. Meskipun sedang mendampingi sahabatnya menikah, Zaylin tak kalah bahagianya.
"Hei, kau terus saja tersenyum memandangi ponselmu. Ada apa?" Abbey menyadari perubahan sikap itu ketika pesta pernikahan belum usai.
"Oh, ya? Dengan siapa, Zaylin? Apakah aku mengenal pria itu?" Rasa penasaran Abbey sekaligus kebahagiaan untuk temannya tidak bisa dikendalikan.
"Nanti kalau ada kesempatan, aku akan memperkenalkan kalian semua. Doakan aku, Abbey!"
Abbey memeluk Zaylin walaupun perutnya tampak buncit. Kehamilannya memang sudah terlihat besar dan sebentar lagi dia tidak mungkin diizinkan untuk terbang ke sana kemari. Dia ingin fokus melahirkan dan mengurus pekerjaan di kantor Van.
"Ya, baiklah. Aku turut berbahagia atas apa yang kau dapat hari ini. Semoga aku, kau, dan Helen selalu mendapatkan kebahagiaan." Abbey memang pernah berseteru dengan Helen, tetapi tidak dengan Zaylin.
Acara pada malam itu terasa begitu indah sebab Eric terus memberikan kejutan pada pengantin wanitanya. Sementara itu, Rylee yang sedang bertengkar dengan papanya sebab tidak mau mengurus perusahaan. Justru malah mengatakan bahwa dia bekerja di sebuah bengkel sampai membuat pria itu marah tanpa jeda.
Philo menarik Rylee ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan para tamu. Pria tua itu menampar pipi Rylee dengan cukup keras seolah berhasil mempermalukan keluarga besarnya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Kau seharusnya memilih bekerja di perusahaan milik papamu sendiri atau mertuamu. Bukannya malah memilih pekerjaan rendahan itu!" tuntut Philo.
Sambil memegangi pipinya, Rylee siap memberikan pembelaan. "Aku tidak serendah itu, Pa. Aku masih bisa bekerja dengan keinginanku sendiri."
"Ya, aku tahu. Apa kau tidak ingat bahwa Abbey masih bekerja? Sebagai pria, di mana harga dirimu, hah?"
Entah sejak kapan papanya tahu kalau Abbey bekerja lagi. Mungkinkah istrinya itu sudah mengatakan pada Philo bahwa anak bungsunya itu tidak sepenuhnya bertanggung jawab pada pernikahan.
"Maaf, memangnya siapa yang bercerita pada Papa? Apakah Abbey?"
"Istrimu itu tidak gampang mengaku pada papa. Justru papa tahu dari orang lain. Papa benar-benar tidak habis pikir dengan cara pandangmu! Oh, ya, setelah kau kembali ke apartemen, pikirkan lagi masa depanmu! Jangan sering menyusahkan Abbey. Ada cucu papa di rahimnya. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, papa tidak akan pernah memaafkanmu."
Philo lekas menghilang setelah Abbey kembali. Entah kemunculan wanita itu dari mana sehingga mengejutkan Rylee. Mungkinkah Abbey tahu kalau papanya baru saja memaki dan menamparnya?
"Hei, kenapa di sini? Eric mencarimu."
Melihat Abbey bertanya seperti itu membuat Rylee yakin kalau dia tidak tahu apa pun. Terlihat kelegaan dari wajah Rylee kemudian menggenggam tangan Abbey.
"Aku minta maaf. Ayo, segera ke sana!" ajak Rylee.
"Tunggu!"
"Ada apa, Abbey?"
"Mengapa papa memarahimu? Maaf, aku mendengar pembicaraan kalian."
Seketika wajah Rylee berubah menjadi muram. Harga dirinya juga hancur di hadapan papa sekaligus istrinya.
"Jangan pikirkan apa pun! Mungkin papa hanya rindu saja, Abbey. Dia memang seperti itu."
__ADS_1
"Aku tidak percaya itu, Rylee. Kau harus mengubah cara pandangmu!"
Rylee mengeratkan genggaman tangannya. Dia merasa gagal dan harus mengubah segalanya, terutama untuk melarang Abbey bekerja.