Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 39. Mengalihkan Situasi


__ADS_3

Para orang tua sedang berkumpul di meja makan. Eric dan Abbey kembali pada malam hari. Mereka mampir ke suatu tempat terlebih dahulu. Namun, saat memasuki ruang makan, Rylee langsung meninggalkan meja makan. Seolah menghindari kakaknya.


"Rylee, kamu mau ke mana?" tanya Philo.


"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," pamit Rylee.


"Rylee, kita harus bicara!" ucap Eric.


Eric merasa tidak enak diabaikan seperti itu. Terlebih mendekati hari H, rasanya seperti berhubungan dengan orang asing.


"Eric, biarkan saja. Bicaralah dengan Arthur dan Blair. Mereka baru datang," ucap Dixie.


Blair beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Abbey, memberikan pelukan, dan kecupan. Rasanya seperti sudah lama tidak bertemu.


"Apa kabar, Sayang?" tanya Blair.


Abbey diam. Dia hanya menikmati pelukan, kecupan, dan membimbing Blair kembali ke kursinya. Tampaknya bukan Abbey yang perlu bicara dengan mereka, tetapi Eric saja.


"Aku akan pergi beristirahat. Eric, aku pergi ke kamarku." Abbey bingung. Dia sungguh tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka.


Eric berniat menyusul, tetapi ditahan oleh orang tuanya.


"Kamu mau ke mana? Calon mertuamu baru saja sampai. Jadi, tolong berada di sini sampai beberapa waktu ke depan," pinta Dixie.


Eric duduk. Dia yang tidak nyaman karena dari beberapa orang yang ada di sana, cuma dia yang paling muda. Selain itu, dia merasa tidak banyak yang perlu dibicarakan.


"Bagaimana kabarmu, Eric?" tanya Arthur.


Eric memberikan senyum pertamanya. Dia mengambil beberapa makanan lalu menatap wajah Arthur. Terlihat betapa bahagianya wajah itu membalas pandangan Eric.


"Baik, Om. Hari ini kami baru saja dari rumah sakit. Kondisi kehamilan Abbey sehat. Dokter menyarankan agar dia datang ke rumah sakit setiap bulan."


"Itu bukan masalah, Eric. Sudah lumrah wanita hamil akan berkunjung ke rumah sakit setiap bulan. Tante harap agar kondisinya baik-baik saja. Apalagi ini baru trimester pertama. Jadi, masih perlu pengawasan yang cukup ketat. Jangan sampai Flo stres sehingga memengaruhi kehamilannya," jelas Blair.


Walaupun mereka semua tahu bahwa Abbey hamil anak dari Rylee, tetapi sepertinya mereka tidak peduli. Asalkan pernikahan tetap berjalan seperti semula.

__ADS_1


Persiapan yang dilakukan oleh Dixie juga hampir selesai. Undangan sudah disebar. Gaun pengantin telah siap dan foto pra-wedding juga sudah dilakukan.


Tinggal mereka pergi berbulan madu yang belum dipikirkan. Mungkin kalaupun Eric mau, Abbey jelas menolaknya. Terlebih wanita itu sedang hamil.


"Hadiah bulan madu akan om berikan ke mana pun yang kalian inginkan. Kalau soal tempat tinggal, om harap bisa tinggal di rumah kami. Tidak ada lagi yang akan menempati, kecuali kalian." Arthur menunjukkan betapa besar pengaruh Eric untuknya.


Eric belum bisa memutuskan apa pun. Apalagi ini soal bulan madu yang tidak penting menurutnya. Apa yang akan dilakukan saat kedua orang tidak saling mencintai, tetapi berada di tempat yang sama.


"Nah, Eric, tinggal kamu putuskan ke mana kalian akan pergi," ujar Philo.


"Kami belum tahu, Pa. Apalagi Abbey sedang hamil. Jadi, kupikir tanpa bulan madu pun tidak akan menjadi masalah. Aku khawatir pada kehamilannya. Ini masih trimester pertama. Aku hanya tidak ingin membuat mood-nya berantakan," tegas Eric.


Sementara itu, di sebuah kamar, Abbey tampak melamun. Dia sendirian sekarang. Tidak mungkin pergi ke kamar Rylee karena laki-laki itu sudah mengibarkan bendera peperangan. Tidak mau berbicara dan semuanya serba salah.


Tiba-tiba suara pintu kamarnya diketuk. Abbey mengira itu adalah orang tuanya atau mungkin Eric yang datang. Bergegas Abbey menuju pintu karena dia menguncinya dari dalam. Setelah pintu dibuka, Rylee menerobos masuk kemudian mengunci pintunya kembali.


"Rylee?"


"Senang bisa pergi berduaan dengan kakakku?"


Rylee duduk di sofa. Dia mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan lalu mengisapnya.


"Rylee, hentikan tindakan konyolmu itu! Kamu bisa membunuhku dan anak kita!" Abbey mengambil paksa rokok itu lalu membawanya ke tempat sampah dalam keadaan sudah dimatikan.


"Rupanya kamu masih peduli padaku. Jadi, apakah kamu berubah pikiran? Bagaimana kalau kita kabur? Demi anak kita!"


Begitu rumit rasanya. Tidak mungkin memutuskan hal yang sudah menjadi keputusan semua orang. Menikah dengan Eric adalah hal yang harus dijalani saat ini. Beberapa kali mendapati pria itu begitu peduli dan membuat Abbey merasa nyaman.


"Kurasa sebaiknya ikuti alur kehidupan kita, Rylee. Kamu tahukan kalau semua orang sudah mengharap pernikahan ini. Aku tidak mungkin mengecewakan mereka."


"Persetan dengan rasa kecewa itu, Abbey! Mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana nasib anak kita. Dia yang akan jauh lebih menderita daripada kita berdua atau siapa pun!"


Kali ini Rylee benar. Namun, Abbey belum punya jalan keluar sebelum kedua temannya itu datang. Ini memang agak rumit, tetapi mencari solusinya jauh lebih rumit lagi. Tentang keluarga, hubungan darah, dan cinta.


"Aku minta maaf, Rylee." Abbey tertunduk.

__ADS_1


Rylee berdiri lalu membanting beberapa benda pecah belah yang ada di kamar itu, yaitu beberapa guci hias sehingga membuat gaduh.


"Rylee, apa yang kamu lakukan?"


Di luar banyak yang mengetuk pintu kamar Abbey dan berteriak. Mereka mengkhawatirkan kondisi Abbey yang ada di dalam.


"Flo, ada apa?" teriak Blair.


"Abbey, buka pintunya!" teriak Eric.


Sementara itu, Abbey bingung. Dia ingin menyembunyikan Rylee agar semua orang tidak salah paham pada mereka, tetapi Rylee menolak.


"Biarkan saja mereka tahu, Abbey!"


"Jangan bodoh, Rylee! Tolong mengertilah posisiku. Masuk saja ke kamar mandi. Setelah semuanya beres, kamu bisa keluar lagi," pinta Abbey dengan menarik tangan laki-laki itu.


Dalam amarahnya pun, Rylee masih menyempatkan mengecup bibir Abbey kemudian pergi ke luar melalui jendela. Itu tidak akan sulit karena kamar itu bisa terhubung langsung dengan balkon kamarnya.


"Ada apa, Abbey?" tanya Eric saat pintu baru saja dibuka.


"Aku tidak sengaja menyenggol beberapa guci itu, Eric. Aku minta maaf," ujar Abbey.


Eric segera merengkuh Abbey ke dalam pelukannya. Tidak mungkin dia melakukan hal itu karena selama berada di sini sikapnya biasa saja.


Beruntung karena Rylee sudah keluar dari sana. Bila tidak, bisa saja laki-laki itu akan mengamuk di tempat. Para orang tua yang melihatnya pun segera meninggalkan tempat itu. Membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.


Eric segera melepaskan pelukan itu lalu meminta pelayan membersikan pecahan guci tersebut.


"Pasti Rylee, bukan?" tanya Eric.


Ya, Eric membawanya ke balkon sementara kamar sedang dibersihkan.


"Kenapa kamu lakukan itu?" Abbey melakukan protes saat Eric memberikan pelukan.


"Hanya ingin mengalihkan situasi. Memangnya kamu mau dicecar pertanyaan?"

__ADS_1


Eric benar, tetapi caranya tidak harus seperti itu. Lagi pula, itu sangat menyakiti hatinya dan juga Rylee. Rasanya seperti berkhianat dari laki-laki itu.


__ADS_2