
Anne panik saat tahu kalau Abbey mendengar dan mengenali suaranya. Sesegera mungkin Van memeluk, mengecup kening, dan menenangkannya.
"Kamu jangan khawatir karena Abbey tidak akan berani mengatakan itu pada siapa pun. Aku mengenal Abbey cukup lama." Van mengeratkan pelukannya.
Semalam rencananya berangkat ke luar negeri, tetapi rayuan Van untuk pergi ke hotel. Lalu, menikmati malam panas bersama membuat Anne lupa diri. Pertama kali dirayu Van dan pertama pula tidur dengannya.
Selama ini Anne selalu mencintai Thanos tanpa memikirkan pria lain. Namun, Van malah menawarkan kenikmatan dunia dengan embel-embel hadiah perhiasan mewah. Rupanya Anne silau dan masuk ke dalam rayuan Van.
"Bagaimana kalau Thanos menceraikan aku? Aku sangat mencintainya, van."
"Maka buka hatimu untukku, Anne. Aku bisa menerimamu apa adanya dan kapan pun." Janji Van.
"Bagaimana dengan Helen? Dia pasti marah kalau tahu kita mengkhianatinya."
"Sudahlah, Anne. Lupakan saja. Sebaiknya kamu berpura-pura pulang dari luar negeri pada esok hari. Tinggallah di sini semalam lagi. Aku akan segera pulang."
Feeling seorang Helen tidak salah. Sejak sampai di rumah, dia tidak bisa tidur. Mencoba mengirim pesan pada suaminya dan berharap pria itu segera menjawab, tetapi tidak ada balasan sampai Helen tertidur di ruang tamu.
Pagi ini dia sudah menginterogasi para pelayan dan ternyata Van tidak pulang. Dia tidak menuduh Van memiliki hubungan dengan Anne, tetapi lebih ingin tahu dengan apa yang dikerjakan Van semalam. Di mana dan bersama siapa? Tidak menutup kemungkinan kalau dia pergi ke tempat relasi bisnisnya, bukan?
"Sayang, kamu baru pulang?" sapa Helen.
Aura Van terlihat lebih segar dan pakaiannya juga tidak seperti terakhir bertemu. Helen masih ingat, tetapi tidak mau overthinking.
"Iya, Sayang. Maaf kalau semalam aku tidak pulang. Aku mampir sebentar ketemu klien. Kami mengobrol hingga malam."
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa. Oh, ya, apa kamu sudah mentransfer Abbey?" Helen hanya mengingatkan.
Mendengar nama Abbey, mimik muka Van berubah. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat ceria, beberapa detik kemudian berubah menjadi tidak bergairah.
"Apakah Abbey meneleponmu atau datang ke sini?" Selidik Van.
"Tidak. Aku hanya mengingatkan saja. Kenapa kamu terlihat cemas begitu?"
"Ah, tidak. Aku segera mentransfernya. Untung kamu mengingatkan aku," ujar Van kemudian memilih masuk ke dalam kamar sebelum pergi ke kantor.
__ADS_1
Sementara itu, Thanos terlihat kesal saat Abbey menuduh Anne selingkuh. Ini hanya akal-akalan Abbey untuk membalas masa lalu mereka.
"Kalau kamu cemburu pada Anne, caranya tidak seperti ini, Abbey! Aku tahu kalau kamu masih sakit hati pada kami, tetapi tolong jangan buat cerita yang tidak masuk akal."
"Baiklah, Tuan Thanos. Tidak masalah apa pun tanggapanmu padaku. Apakah sudah kamu transfer uangnya?"
Thanos masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya. Dia menyerahkan ponsel itu supaya Abbey mengetik nomor rekening berikut nominalnya.
"Terima kasih, Tuan Thanos." Rupanya saat Abbey menerima transferan dari Thanos, kiriman Van juga masuk. Seperti ucapannya pagi ini, yaitu dua kali lipat.
Sekembalinya, Rylee melihat senyuman itu untuk kedua kalinya. Senyuman yang selalu membuat Rylee merasa ingin mendapatkan Abbey seutuhnya.
"Bagaimana?" tanya Rylee.
"Semuanya dapat, Rylee! Semudah itukah memojokkan seseorang?"
"Terkadang begitu mudah, tetapi juga sulit," ujar Rylee.
"Kenapa?"
"Cuma kamu yang masih sulit digapai."
"Wah, kamu menantang aku, ya! Apakah kamu perlu bukti?"
"Tidak perlu. Jadi, kamu mau ke mana sekarang?"
"Mari kita foya-foya!"
Rylee mengajak Abbey ke pusat perbelanjaan. Mereka pergi ke butik, menonton, makan, dan paling terakhir menikmati es krim berdua.
Sudah lama sekali Abbey tenggelam dalam perusahaan sehingga tidak tahu bagaimana menyenangkan diri sendiri. Kali ini Rylee membawanya ke suatu tempat yang membuatnya keluar dari ketegangan.
"Kenapa kamu tidak menikah saja, Abbey?"
"Menurutmu mudah menerima pria yang tidak ada dalam hatiku? Apalagi sampai dipaksa menikah. Itu tidak mudah, Rylee."
__ADS_1
Rylee menjilati es krimnya. Walaupun masih muda, tetapi dia mencoba menjadi sosok yang berkharisma. Tidak mudah memang, tetapi mengandalkan pesonanya juga bukan perkara sulit.
"Apakah kamu akan menikah di usia 50 tahun?" Pertanyaan Rylee ini sebenarnya untuk menyindir Abbey.
"Ck, kamu bicara apa, Rylee? Kadang aku merasa menjadi anak pembangkang yang menolak pulang demi sebuah perjodohan."
"Wow, karena kamu tidak bisa move on dari Thanos, bukan? Ayolah, Abbey, lihat masa depan. Kalau Thanos sudah mencampakkan kamu, apa salahnya kamu menerima wanita lain? Buktikan kalau kamu layak diperjuangkan."
Abbey menggeleng. "Tidak semudah itu, Rylee."
Sepertinya Rylee harus menggunakan kekerasan. Sulit sekali mendapatkan kesempatan untuk memiliki wanita di hadapannya kali ini. Mungkin ini adalah jalan pintas untuk membuatnya bertekuk lutut dan menyerah.
"Baiklah. Terserah apa pun maumu. Oh, ya, beberapa barang sudah kita beli. Apa kamu memerlukan sesuatu yang lainnya?"
"Tidak. Kurasa aku akan segera pulang, Rylee. Oh, ya, kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, kamu bisa meninggalkan aku. Pergilah dan terima kasih sudah membantuku." Sangat sulit mempercayai orang lain, tetapi Abbey tidak bisa percaya pada Rylee terlalu banyak.
"Segera setelah aku mengantarmu pulang." Ini merupakan kesempatan terakhir. Jangan sampai lepas.
Abbey tidak curiga. Setelah mereka sampai di basemen, semuanya biasa saja. Sampai masuk ke apartemen juga masih biasa saja. Namun, setelah masuk ke dalam kamar dan mendapatkan kesempatan, Rylee segera menyerang Abbey sehingga membuat wanita itu terkejut.
"Rylee, apa yang kamu lakukan?" tanya Abbey dengan posisi ditindih oleh Rylee.
"Kamu pikir apa, Abbey? Aku menahan diri selama beberapa hari. Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja. Tidak, Abbey! Aku menginginkan tubuhmu, Abbey!" jelas Rylee.
Beginilah kalau terlalu percaya pada laki-laki yang baru dikenal. Kalau sudah seperti ini, apakah Abbey akan berteriak? Tidak mungkin orang akan percaya kalau Rylee melakukan hal yang semengerikan itu.
"Rylee, hentikan! Jangan lakukan hal bodoh. Kita bisa bicara baik-baik," ujar Abbey mencoba bernegosiasi.
Bagaimana nasib Abbey saat suaminya nanti menikahinya? Pasti mempertanyakan tentang dirinya. Maka dari itu, sebisa mungkin Abbey mencegah Rylee untuk tidak melakukan itu sebelum menikah.
"Aku tidak peduli!"
Rylee dengan buas menyerang Abbey. Mulai dari kecupan singkat, ciuman berhasrat, sampai meninggalkan kepemilikan. Tubuh kekar Rylee jelas mampu mengalahkan Abbey yang kecil, mungil, dan cantik itu.
Sampai pada Rylee melucuti pakaian Abbey dan juga dirinya. Abbey masih mencoba memberontak bahkan sampai memukul kepala Rylee hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Tidak seorang wanita pun bisa lepas dariku, Abbey!" ujarnya sebelum menenggelamkan aset berharganya pada muffin milik Abbey.
Rylee melakukan hal itu dengan sangat buas hingga air mata Abbey menganak sungai begitu saja.