Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 41. Kesal pada Eric


__ADS_3

Menjelang pernikahan, orang tua Abbey, Abbey, dan kedua temannya sudah pindah ke hotel. Rencananya prosesi pernikahan akan dilangsungkan di ballroom hotel karena Eric sengaja meminta acaranya dilakukan secara langsung. Tanpa jeda setelah mereka dipastikan sah sebagai suami istri.


Kerumitan di rumah pun sudah terjadi. Rylee menolak untuk datang ke pernikahan Eric sehingga Philo murka.


"Kamu maunya apa, Rylee?" tanya Philo.


"Aku hanya tidak ingin datang ke pernikahan Eric. Itu saja."


"Apa alasanmu?"


"Papa sudah tahu alasannya. Terlebih Abbey itu hamil anakku, tetapi kalian tetap memaksakan pernikahan ini. Bagaimana aku bisa hadir saat wanita yang kucintai itu akan menjadi milik orang lain? Bagaimana dengan nasib anakku? Dia pasti mengira aku adalah pria yang jahat dan tidak bertanggung jawab!"


Philo terdiam. Dia merasa ada sesuatu yang mengalir di dalam dirinya. Sebuah penyesalan, luka, dan dilema. Seharusnya Philo mencoba memahami dari kedua putranya dan tidak memaksakan pernikahan Eric dan Abbey. Terlebih ada satu nyawa yang sedang diperjuangkan Abbey. Walaupun dari darah yang sama, tetapi kedudukan Rylee jauh lebih berhak atas semua ini.


Sementara itu, di sebuah kamar hotel, seorang make up artist sedang menyiapkan Abbey dengan gaun pengantinnya. Dia juga didampingi oleh kedua temannya yang sudah duduk manis dan merapikan riasan.


"Ck, kamu yang akan menikah, tetapi aku yang gugup," ujar Helen.


"Kenapa? Apa kamu masih mengingat si brengsek itu?" tanya Abbey.


"Kurasa tidak. Mungkin dia akan merasa mual setelah mengingatnya," sahut Zaylin.


Ya, saat perceraiannya bergulir di meja pengadilan, Helen tidak pernah datang. Dia juga sudah tidak pernah tahu kabar Van dan Anne lagi. Mungkin karena kecewa pada pria itu sehingga memutuskan untuk memblokir seluruh akses yang berhubungan dengannya.


Begitu juga hubungannya dengan Thanos. Helen merasa kalau pria itu juga tidak penting baginya sehingga memutuskan hal yang sama.


"Lupakan mereka! Aku ingin benar-benar lupa tentang mereka," ujar Helen.


"Ya, baiklah. Kami tidak ingin merusak hari bahagiamu, Abbey," kata Zaylin.


"Hari bahagiaku sudah rusak sejak pertunangan kami, Zaylin. Aku berharap ada keajaiban supaya aku dan Rylee bersatu. Sejujurnya aku tidak rela menikah dengan Eric walaupun aku tahu dia sangat baik," jelas Abbey.


"Kalau begitu, Eric buat aku saja," canda Helen.


Mereka tertawa. Lalu, setelah merias ketiga wanita itu, make up artist tersebut berpamitan. Tidak lama kemudian, Blair menekan bel kamar itu, Helen-lah yang membukakan pintunya.

__ADS_1


"Tante, silakan masuk!" sapa Helen.


"Terima kasih. Apakah Flo sudah siap?"


Helen tahu kalau panggilan Abbey di rumahnya adalah Flo sehingga dia tidak terkejut lagi.


"Sudah, Tante. Mari ikuti aku untuk melihatnya!"


Kamar yang ditempati Abbey saat ini adalah kamar presiden suit. Nantinya setelah resmi menjadi istri Eric, pria itu akan mengajaknya pindah ke kamarnya. Apalagi saat ini Abbey sedang bersama kedua temannya.


"Wow, anak mama cantik sekali!" seru Blair.


"Mama, jangan begitu. Aku gugup sekali." Abbey menggenggam tangan mamanya.


"Mama juga sepertimu, Flo. Gugup di hari pernikahan kami. Ah, rasanya mama ingin mengulang masa itu. Beberapa puluh tahun yang lalu. Oh, ya, kalau sudah siap, Papa akan ke sini untuk menjemputmu. Bagaimana?"


"Tunggu 10 menit atau 15 menit lagi, Mam. Aku rasanya ingin memperlambat setiap detik berjalannya waktu," jelas Abbey tertunduk.


Zaylin merasa kasihan pada Abbey. Dia terlambat menikah, tetapi sekarang akan menikahi pria yang sama sekali tidak diinginkan. Lagi pula, ini juga bukan salahnya. Dia hanya berada pada posisi yang tidak seharusnya.


"Abbey, kurasa lebih cepat lebih baik," saran Zaylin. "Mungkin juga Eric sudah datang bersama keluarganya."


"Kamu benar-benar menyiksaku, Eric!" kata Rylee.


"Jangan bersikap kurang ajar, Rylee! Ini pernikahan kakakmu. Bersikaplah secara wajar dan profesional," tegur Dixie.


Para tamu undangan sudah banyak yang berdatangan. Sebenarnya 5 menit lagi adalah acara prosesi pernikahan. Namun, mengingat Abbey belum juga muncul, mereka menyesuaikan.


"Jangan pernah pergi dari sisiku!" tegas Eric.


"Apa pedulimu? Kamu akan pamer Abbey padaku? Aku tidak tahu, di mana jalan pikiranmu itu? Kamu sungguh menyakitiku!"


Rylee terus saja mendebat kakaknya. Sementara Dixie dan Philo sudah jauh di depan mereka. Para tamu sedang menunggu sapaan dan ramah tamah dari tuan rumah.


Sementara itu, petugas dari kantor catatan sipil telah bersiap di tempat. Tidak lama setelah kedatangan Eric dan keluarga.

__ADS_1


"Jadi, bisa dimulai proses pernikahannya?" tanya petugas tersebut.


"Tunggu mempelai wanitanya," ujar Eric.


"Baiklah. Kami hanya punya waktu menunggu sekitar 10 menit. Setelah itu, kami harus segera meninggalkan tempat ini untuk menyelesaikan urusan lainnya di kantor."


Setelah lima menit berlalu, ternyata Abbey datang bersama orang tuanya dan didampingi kedua temannya. Gaun pernikahannya begitu cantik dengan veil menutupi wajahnya.


Perjalanan menuju tempat pernikahan rasanya melambat. Bersamaan dengan hati yang dilanda gundah gulana. Pegangan erat pada tangan papanya menunjukkan bahwa Abbey tidak siap dengan pernikahannya kali ini.


Philo dan Dixie sudah berada di sisi kedua putranya. Sambil menunggu jalannya mempelai wanita ke depan, mereka tampak berharap agar acara ini berjalan dengan lancar.


Setelah sampai di sana, Abbey tidak langsung menikah. Dia harus melakukan beberapa cek dokumen.


"Calon mempelai wanita bernama Abbey Florence dari orang tuanya Arthur Barnett dan Blair Caroline. Semua datanya benar, bukan?" tanya petugas tersebut.


Abbey mengangguk. Setelah itu, giliran pengantin prianya. Eric maju, sedangkan Rylee mundur karena ingin menghindari acara yang menyakiti itu.


"Apakah Anda bernama Rylee Rexton?"


Suara itu membuat Rylee menghentikan langkahnya. Sementara Philo dan Dixie tampak bingung.


"Eric, ada apa ini? Mengapa bukan namamu yang dipanggil?" tanya Dixie.


"Di mana calon mempelai pria?" tanya petugas itu lagi.


Rylee tidak paham. Bukankah seharusnya nama Eric di sana? Mengapa petugas itu malah memanggil namanya?


"Eric, apa ini maksudnya? Jangan bikin suasana semakin runyam!" Dixie memarahinya.


"Rylee, tolong kembalilah!" panggil Eric.


Abbey bingung. Seharusnya ada nama Eric di sana. Mengapa malah nama Rylee?


Eric tidak bisa diam di tempat. Dia segera menyusul Rylee lalu membawanya ke depan pertugas tersebut. Setelah dipikir-pikir, mungkin inilah cara yang terbaik untuk adiknya. Biarkan saja orang tuanya marah, tetapi bagi Eric memisahkan anak dengan orang tuanya adalah sebuah kesalahan.

__ADS_1


Sementara itu, Dixie mendekati kedua anaknya. Terlihat agak kesal pada Eric karena membuat keputusan secara sepihak.


"Apa yang kamu lakukan, Eric?" tanya Dixie.


__ADS_2