Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 44. Keputusan Orang Tua


__ADS_3

Perbedaannya begitu nyata ketika sepasang pengantin itu tidur di ranjang dengan tenang. Sementara itu, di sebuah restoran hotel, Eric tampak menikmati makan malam bersama kedua keluarga. Ditambah lagi dengan kehadiran kedua teman Abbey yang masih berada di sana.


"Kalian masih tamuku. Jadi, pilihlah makanan sesuai dengan apa yang kalian inginkan," ujar Eric.


Tentu saja setelah hampir mendapatkan Abbey, kemudian Eric berpindah kepada Helen juga agak sulit. Dia hanya berbicara sesuka hatinya saja tanpa memedulikan bahwa hubungan Helen belum berakhir dengan Van.


"Terima kasih, Eric," balas Helen.


"Oh, ya, siapa namamu?" tanya Dixie. Walaupun dia sudah mendengar kedua teman Abbey, tetapi belum paham salah satunya. Terutama saat Eric menyebutkan nama seseorang yang akan dinikahi. Jelas dari kedua wanita itu adalah salah satunya.


"Dia Helen dan yang itu Zaylin, Mam," jelas Eric. Dia berharap agar mamanya lebih cepat mengenali mereka.


"Oh, kamu yang namanya Helen. Memangnya kamu belum menikah?" tanya Dixie lagi.


Helen rasanya tercekat. Ternyata kerumitan yang dialami Abbey masih berlanjut padanya sehingga dia bingung harus menjawab seperti apa. Terlebih ini bukan masalah status, tetapi posisinya. Dia memang sebentar lagi akan menjadi janda, tetapi surat cerainya belum berada dalam genggaman.


"Aku sedang–"


"Dia janda, Mam. Apa salahnya kalau aku memilihnya?" sahut Eric.


Blair menoleh ke arah mereka. Walaupun jaraknya tidak begitu jauh, tetapi dia juga mendengar perbincangan itu. Menurut cerita anaknya, Helen adalah istri bosnya di kantor. Sikap suaminya yang suka seenaknya sendiri membuat Abbey sempat kesal.


"Oh, kalian akhirnya bercerai juga. Baguslah kalau begitu. Tante setuju dengan keputusanmu, Helen. Tante juga tahu kalau mantan suamimu itu agak rumit," sahut Blair.


"Ma, jangan seperti itu! Biarkan teman Flo menjelaskan sendiri pada Dixie. Itu bukan hak kita!" tegur Arthur yang tidak menyukai tindakan istrinya untuk ikut campur pada urusan orang lain.


Begitu juga dengan Philo yang terlihat tampak menikmati makanan tanpa memedulikan ucapan para wanita. Memang kegiatan mereka seperti itu saat sesama wanita dipertemukan.

__ADS_1


"Ma, kalau memang Eric berniat serius dengan Helen. Biarkan saja mereka saling mengenal lebih dulu. Papa tidak masalah asalkan keduanya sudah bisa memberikan komitmen untuk hidup bersama," sahut Philo.


"Pa, tapi ini bukan perkara yang mudah. Kita tidak tahu bagaimana seluk-beluk Helen sebelumnya." Dixie memang selalu begitu, menyebalkan.


Eric terlihat tidak suka. Mamanya selalu memandang dari sudut pandangnya sendiri. Eric juga berhak untuk mengenal Helen lebih jauh. Tidak masalah saat ini dia sedang dalam proses perceraian, tetapi hati yang sudah terlanjur terluka juga perlu pengobatan terlebih dahulu.


Eric menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Ini jalannya sehingga tidak seorang pun boleh ikut campur.


"Mam, lebih baik nikmati makan malammu. Mengenai Helen, itu menjadi urusanku. Jadi, tolong hargai privasi kami. Setelah kami siap, aku akan mengabari Mama dan Papa," jelas Eric.


Helen dan Zaylin berpandangan. Beruntung sekali kalau bisa mendapatkan Eric yang bisa bersikap lebih lembut dari yang mereka duga.


"Jangan dilepaskan! Produk antik," bisik Zaylin pada Helen.


Zaylin jauh lebih berpengalaman daripada Helen. Terlebih Helen adalah sosok wanita yang hanya bisa mencintai satu pria walaupun dia dibohongi, kepercayaannya tetap nomor satu.


Mendengar penuturan Zaylin, agaknya Helen merasa risih menjadi bahan perbincangan semua orang. Mungkin tidak malam ini saja, tetapi saat pernikahan Abbey dan Rylee sedang berlangsung. Mudah sekali menjadi wanita pelampiasan pria lain.


Temannya itu memang belum selesai makan, tetapi Helen sudah kepalang malu. Jadi, mau bagaimanapun dia harus segera kabur dan menghilang dari tempat itu.


"Aku akan mengantarmu, Helen!" ujar Eric membuat Helen memicingkan matanya.


"Ah, tidak. Kurasa kamu harus menyelesaikan makan malammu. Aku bisa sendiri." Helen dibuat salah tingkah.


Berniat untuk kembali ke kamar, tetapi Zaylin berseru sehingga membuat semua orang memandang ke arahnya.


"Tunggu, Helen! Aku ada pesan penting untukmu," ujar Zaylin.

__ADS_1


"Dasar anak muda!" seru Philo. Tingkah mereka bukan lagi seperti manusia berusia 30 tahunan, tetapi malah seperti anak belasan tahun yang sedang bermain-main. "Eric, lebih baik antar mereka ke kamarnya. Papa sampai dibuat terkejut oleh teman adik iparmu itu."


Tentu saja. Suara Zaylin bisa lebih tinggi dari suara aslinya saat terkejut. Merasa menjadi obyek pandangan semua orang, Zaylin beranjak dari tempat duduknya. Sebelum pergi, dia harus mengucapkan permohonan maaf terlebih dahulu.


"Om, Tante, aku minta maaf. Sebenarnya bukan kesengajaan, tetapi aku benar-benar terkejut." Zaylin menunduk sejenak kemudian mengembalikan posisinya ke tempat semula. Bukan untuk duduk, tetapi untuk beranjak pergi dari tempat itu.


"Pergilah! Lain kali lebih diperhatikan lagi di mana kalian berada," imbuh Philo.


"Kalian jangan terlalu keras seperti itu," ujar Blair setelah mereka menghilang dari pandangan mata.


"Kami hanya tidak suka ada wanita bertingkah seperti itu," sahut Dixie.


Philo tampaknya sedang menikmati dessert. Bagian akhir dari sesi makan malam kali ini. Dia sekarang bingung harus bersikap bagaimana pada Arthur. Terlebih yang menjadi menantunya bukan Eric, melainkan Rylee.


"Arthur, aku minta maaf padamu," ujar Philo setelah meletakkan gelas bekas dessert yang dimakannya baru saja.


"Maaf untuk apa? Kamu tidak sedang melakukan kesalahan apa pun padaku."


Tentu saja Arthur bersikap demikian. Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, bahkan pernikahan Rylee dan Abbey juga bukan sebuah kesalahan. Mereka adalah garis takdir yang sudah dibuat Tuhan agar meyakini kebenaran cinta itu sendiri. Terkadang Arthur merasakan sesak saat melihat kesedihan putrinya. Namun, saat tahu kalau Rylee adalah sumber kebahagiaannya, tidak ada lagi yang bisa mencegah selain merelakan mereka hidup bersama.


"Aku telah memberikan orang yang salah padamu." Philo tertunduk. Dixie mencoba memberikan semangat pada suaminya.


"Maksudmu Rylee?" tanya Arthur.


"Ya, dia sangat berbeda dengan Eric. Aku menyesal dengan pernikahan mereka. Tentu saja aku lebih malu lagi padamu, Arthur. Dia tidak seperti pandangan semua orang. Kelakuan, tanggung jawab, dan semuanya sangat tidak sesuai. Aku malu karena merasa gagal mendidiknya." Philo mencoba mengangkat wajahnya untuk memandang Arthur. Mungkin dengan cara seperti itu, dia tahu bagaimana Arthur menerima putranya yang kelakuannya jauh dari kata sempurna.


"Bukankah kita pernah muda? Kita juga pernah berada pada posisi Rylee. Hanya sedikit kurang matang saja. Namun, percayalah bahwa dia akan bertanggung jawab seperti yang pernah dia ucapkan sebelumnya. Kita sebagai orang tua hanya tinggal mengawasi dan memantaunya dari jauh. Seperti itukan, Blair?" Kali ini Arthur mencoba meminta persetujuan dari istrinya.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk meminta mereka tinggal bersama kami. Apakah kalian keberatan?" tanya Blair.



__ADS_2