
Susah payah Abbey menjaga diri untuk tidak hancur, tetapi mengapa Rylee malah ingin menghancurkannya saat ini juga? Jika bukan karena dendamnya pada Thanos, mungkin Abbey akan menyerah ke pelukan Rylee begitu cepat.
"Tahan diri, Abbey! Kamu bukan wanita rendahan. Kamu hanya akan tidur dengan suamimu saja. Walaupun pesona Rylee sangat meresahkan, jangan sampai terbuai!" batin Abbey.
"Jadi, kita mau check in di hotel atau di apartemenmu saja?" tanya Rylee setelah melihat respon Abbey yang diam seribu bahasa.
"Dasar bodoh! Jangan macam-macam sama orang tua!" maki Abbey. "Hubungan kita sebatas partner bisnis, Rylee. Jangan kurang ajar."
"Ck, Abbey jangan bertingkah sok polos! Kalau kamu menolak, aku tidak akan pernah menyerah sampai kamu sendiri yang menyerah," batin Rylee.
Mereka kembali ke apartemen dengan posisi yang ditukar. Abbey mengemudikan mobilnya, sedangkan Rylee tertidur di jok belakang.
Sementara di tempat lain, rupanya Van benar-benar menggoda Anne. Wanita muda itu awalnya tidak terlalu tertarik. Mengapa dibilang muda? Saat ini Anne masih berusia 27 tahun. Sangat menggoda ketimbang Helen yang sudah berumur.
"Jadi, bagaimana kamu bisa merebut Thanos dari Abbey?" tanya Van.
"Aku tidak merebutnya, Van. Justru Thanos lah yang membawaku masuk ke dalam pelukannya. Aku mencintai karena hanya dia yang peduli padaku saat itu. Hingga kami melakukan hubungan sebelum pernikahan dan aku hamil," jelas Anne.
"Kamu hamil?" Van sempat tidak percaya.
"Ya, aku hamil. Hanya saja Thanos tidak pernah tahu kalau aku telah menggugurkan kandunganku."
"Wow, kamu jahat sekali, Anne!" Van terkejut.
"Mau bagaimana lagi, Van? Aku menginginkan menjadi seorang model. Anak hanya akan membuatku berada dalam posisi paling sulit. Sebenarnya Thanos saat ini sudah menginginkan anak, tetapi aku belum bisa memberikannya. Apakah ini karma karena aku membunuh anakku sendiri?" tanya Anne dengan suara penuh penyesalan.
Terbersit pikiran nakal di benak Van. Kapan lagi mencoba meniduri istri temannya. Walaupun Van dan Thanos kenal karena Helen adalah teman sekelas Thanos. Apa salahnya memberikan perhatian pada wanita yang sedang terluka. Mungkin dengan mau mendengarkan saja akan mendapatkan nilai plus di mata Anne.
"Jadi, Thanos tidak tahu kalau kamu pernah hamil?"
__ADS_1
"Tidak, Van. Kami menjalani pernikahan layaknya pengantin baru. Waktu itu aku masih terlalu muda. Bahkan saat aku tahu kalau Abbey memergoki kami, aku tidak peduli."
Pikiran Van terpecah. Rupanya sesakit itu menjadi Abbey. Pantas saja dia selalu menolak ajakannya. Jangankan untuk sekadar makan, untuk tidur bersama pun dia menolak.
"Pernahkah kamu meminta maaf pada Abbey?" Selidik Van.
Anne menggeleng. Sekilas Van meliriknya lalu kembali fokus pada setir mobilnya. Dia sedang memikirkan pertanyaan baru lagi atau mungkin ajakan untuk menginap di hotel beberapa jam sebelum pesawatnya lepas landas.
Di lain sisi, Zaylin baru saja sampai di kediaman Thanos. Mereka meminta pelayan untuk membawa tuannya masuk ke kamar. Namun, para pelayan takut kena marah.
Akhirnya, Zaylin dan Helen memapah Thanos sampai ke kamar tidur. Sementara Helen rasanya ingin pergi ke kamar mandi dan membiarkan Zaylin meletakkan Thanos ke ranjang.
Pria itu terlihat teduh di mata Zaylin. Walaupun menjanda, sebenarnya Zaylin sosok yang paling anti menyukai teman. Apalagi Thanos adalah teman sekolahnya di masa lalu. Namun, bulu-bulu halus yang terlihat di wajah Thanos membuat daya tarik tersendiri bagi Zaylin. Janda yang lama menyandang statusnya itu.
"Thanos, kamu terlihat sangat tampan. Bagaimana mungkin Abbey bisa melupakanmu secepat itu? Aku yakin kalau Abbey masih mencintaimu. Hanya saja kamu sudah sering kali menyakitinya. Sekarang kamu sering kali memamerkan kemesraan bersama Anne. Apakah kamu tidak akan tertarik denganku?" gumam Zaylin mengelus bulu halus Thanos sampai sebuah suara mengejutkannya.
"Zaylin, kita pulang sekarang! Aku sudah mengantuk," ajak Helen yang tidak menyadari kelakuan teman sekelasnya.
Lain halnya dengan Abbey dan Rylee. Mereka sudah sampai di basemen. Abbey memutuskan untuk turun, tetapi melihat Rylee tertidur pulas, Abbey harus membangunkannya.
"Rylee, bangun!" Abbey menepuk pipinya.
Saat itu, Rylee hampir terjaga dan menarik tangan Abbey seolah sedang menangkis serangan. Abbey pun terjatuh tepat di atas tubuh Rylee. Pandangannya beradu, sedangkan jantung Abbey berdetak tidak normal. Sepertinya dia terkejut.
"Maaf," ucap Abbey lalu memundurkan tubuhnya.
Mereka pikir malam itu akan menjadi malam yang tidak bisa dibayangkan semua orang. Nyatanya malam itu, setelah mereka sampai di kamar, mendadak Rylee kedinginan. Entah, apa yang terjadi dengannya.
"Rylee, kamu kenapa?"
__ADS_1
"Entahlah. Tubuhku rasanya menggigil sekali. Ini sangat dingin, Abbey."
Abbey panik. Dia mencoba tetap tenang. Dia meninggalkan Rylee sebentar untuk mengambil air hangat dari dispenser di dapur. Setelah itu, Abbey mengompres seluruh tubuh Rylee yang sekarang tinggal boxer yang dikenakan saja.
Tampaknya cara itu juga belum berhasil sehingga Abbey memutuskan untuk memberikan kehangatan dari tubuhnya. Dia masuk ke dalam selimut yang sama kemudian memeluk Rylee hingga laki-laki itu berhenti mengigau dan tidak kedinginan lagi.
Keesokan paginya, Rylee terbangun. Tubuhnya merasa ditindih oleh seseorang, tetapi setelah sadar, Rylee sangat menikmati pemandangan seperti ini. Dia sempat mengingat kalau semalam tubuhnya mendadak kedinginan dan entah apa yang dilakukan Abbey sampai membuatnya tertidur.
"Pagi, Sayang!" sapa Rylee.
Mendengar seseorang membangunkannya, Abbey perlahan membuka mata. Orang pertama yang ditatapnya adalah Rylee.
"Oh, kamu akhirnya bangun juga. Kurasa semalam kamu terkena hipotermia. Apakah ini pengaruh alkohol?" tanya Abbey.
"Aku tidak tahu, Abbey. Itu pertama kalinya. Mungkin ingin kamu sentuh lebih jauh lagi," canda Rylee.
"Jangan bercanda!" sentak Abbey. Dia segera bangkit dari ranjang. "Kalau kamu masih tidak enak badan, istirahat saja. Akan kusiapkan sup ayam untukmu. Apa kamu mau?"
"Apa pun itu asalkan dari tanganmu. Oh, ya, jangan lupa hubungi Van dan Thanos. Hari ini mereka harus membayar kemenangan kita semalam."
Abbey hampir lupa. Apakah ini caranya membalas dendam dengan cara memeras mereka? Apakah ini akan berakhir indah?
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Abbey.
"Itu masih belum sebanding dengan apa yang mereka lakukan padamu, bukan? Selagi bisa dimanfaatkan, jangan mau menyerah, Sayang. Lebih baik segera ke kamar mandi karena aku sudah lapar."
Abbey segera membersihkan diri. Dia sempat memandang wajahnya ke cermin. Sebenarnya dia merasa aneh dengan kelakuannya. Tanpa permisi, dia berani memeluk Rylee. Bagaimana kalau sampai dia kalah dengan rayuan laki-laki mudanya itu?
"Oh, ayolah, Abbey! Rylee hanya anak muda yang ingin uang. Kamu tidak pantas jatuh ke pelukannya. Ayo, sadar diri! Sisa beberapa waktu lagi sampai kamu benar-benar mengusirnya dari hidupmu!" gumam Abbey.
__ADS_1
Namun, siapa sangka kalau Abbey akan lebih bergantung pada Rylee. Begitu juga dengan Rylee yang selalu merasa nyaman dan tetap mencoba mengejar tujuannya.