
Eric masuk lalu menyerahkan satu buket bunga peony putih. Tentu saja Helen merasa terharu sebab bunga tersebut memiliki arti yang sangat dalam, yaitu kemurnian, kepolosan, kemakmuran, dan keberuntungan.
Zaylin merasa tersentuh atas perhatian Eric pada temannya. Apalagi yang dia tahu bahwa Eric tidak tinggal di negara yang sama, melainkan di negara tetangga. Tentu saja kedatangan yang tiba-tiba itu mengejutkannya.
"Eric, terima kasih." Helen menatap buket bunga indah itu dengan penuh percaya diri sebab masih ada kesempatan dipertemukan dengan pria yang beberapa hari menjadi pokok pembahasan.
"Wah, ada yang sedang berbunga-bunga! Eric, Helen merindukanmu! Selama beberapa hari ini dia selalu menunggu kabar darimu," ujar Zaylin menggoda.
Helen tersipu malu. Sementara semua orang yang ada di sana berpusat pada Helen yang terlihat seperti remaja belasan tahun.
Sementara Rylee segera mengambil duduk di samping Abbey yang baru saja meletakkan beberapa gelas minuman. Pantas saja Zaylin agak terkejut melihat banyaknya gelas tidak sesuai dengan banyak tamu yang datang. Malah lebih banyak ketimbang tamu yang datang.
"Sebenarnya aku ingin protes pada Abbey, tetapi aku urungkan. Sungguh aku tidak tahu kalau Eric juga ada di sini," lanjut Zaylin.
Mereka diam sejenak. Eric sedang menata hati untuk berbicara dengan Helen. Terlebih wanita itu yang siap dijadikan calon istrinya nanti.
"Ayo, diminum!" perintah Abbey.
Mereka pun segera mengambil gelas masing-masing. Namun, tidak dengan Helen yang terus saja memandangi bunga peony pemberian Eric.
Kegiatan itu menjadi pusat perhatian Abbey sehingga membuat wanita itu akan memberikan kesempatan pada Helen untuk berbincang bersama dengan Eric.
"Eric, lebih baik ajak Helen ke balkon! Bicaralah di sana!" Abbey menunjukkan jalan menuju tempat yang dimaksud.
Eric segera mengulurkan tangannya berniat untuk menggandeng Helen. Namun, wanita itu malah menyuruh Eric berjalan lebih dulu. Ketika mereka sudah pergi, barulah ketiga orang tersebut bisa berbicara dengan tenang.
"Jadi, apakah ini ide kalian?" tanya Zaylin.
"Bukan aku, tapi ini murni keinginan Eric sendiri. Aku hanya perantara." Rylee menjawabnya dengan tenang.
__ADS_1
"Memangnya apa tujuan Eric?" Zaylin semakin penasaran.
"Melamar Helen sepertinya." Kini Abbey yang asal menjawab.
"Oh, ya, ampun! Aku pasti kalah dengannya. Cuma aku yang paling lama menjanda. Kalian tahu kalau aku sudah lelah dan tidak percaya pada para pria!" tegas Zaylin.
Abbey tersenyum. Dia juga sempat sepemikiran dengan Zaylin, tetapi setelah bertemu dengan Rylee, semuanya berubah menjadi tidak menentu.
"Bagaimana dengan Thanos? Sudah lama kita tidak bertemu," ujar Abbey membuat Zaylin teringat pada pria itu.
Sejak perasaannya tidak bisa dibendung, Zaylin lebih banyak menghindar. Alasannya, nanti akan terjadi kerumitan yang tidak masuk akal sebab Helen adalah mantan Van. Sebenarnya tidak menjadi masalah ketika mereka reuni pun Van dan Anne tidak akan pernah muncul. Hanya Helen, Thanos, Zaylin, dan Abbey saja yang akan bertemu. Seharusnya Zaylin tidak masalah, tetapi dia merasa kalau Thanos sama sekali tidak menyukainya.
"Entahlah, kami tidak saling sapa sekarang!" Zaylin menyesap minumannya kembali lalu meletakkan gelas itu ke meja.
Tatapannya menerawang ke depan dan berharap ada keajaiban dari sana. Mungkin tidak sekarang, tetapi suatu hari nanti Zaylin akan menemukan sosok yang tepat dalam hidupnya.
Sementara itu, pasangan suami istri, Abbey dan Rylee terlihat sedang bermanja-manja. Tentu saja itu karena ulah Rylee yang menggoda istrinya.
"Ah, Zaylin, jangan seperti itu! Kita tunggu Eric dan Helen keluar. Entah apa yang mereka bicarakan?"
Tentu saja harapan Rylee adalah kabar baik. Terlebih kakaknya gagal menikah dengan Abbey karena wanita itu sedang hamil. Namun, ada hal lain yang sedang dipikirkan Rylee saat ini. Mungkin saja mereka bisa menyatu sebab saling membutuhkan, tetapi bagaimana dengan Dixie? Apakah wanita itu tidak akan menjadi penghalang pernikahan beda status itu?
Sekembalinya dua orang itu, mereka tampak menerka-nerka tentang apa yang terjadi. Wajah mereka terlihat datar, tidak menunjukkan sesuatu yang membahagiakan, dan membuat semua orang yang menunggu kabarnya terdiam seribu bahasa.
"Aku dilamar Eric!" seru Helen menunjukkan cincin di jari manisnya.
Seketika semua orang tampak bahagia sekaligus terharu. Abbey memberikan ucapan selamat pada temannya itu. Selanjutnya Rylee memeluk kakaknya dengan sangat hangat. Begitu juga dengan Zaylin yang refleks berdiri untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat, Kak! Semoga lancar sampai hari H pernikahan." Rylee terlihat bahagia sekali.
__ADS_1
"Doakan saja, Rylee. Oh, ya, Helen, aku ke sini bukan hanya untuk soal ini saja, tetapi aku akan membawamu bertemu kedua orang tuaku. Aku juga akan memastikan pernikahan kita terlaksana sesuai keinginan bersama. Jadi, bisakah kau ikut denganku esok lusa?"
Tentu saja Eric menawarkan lusa sebab dia tidak mungkin pulang besok. Belum ada persiapan khusus seperti paspor, tiket pesawat, dan rekomendasi penginapan selama di tempat Eric. Bisa saja dia membawa Helen ke rumah, tetapi alangkah lebih baik apabila menempatkan Helen di luar rumah untuk beberapa waktu.
"Tentu, Eric. Aku akan ikut denganmu."
Abbey sangat senang mendengarnya. Dia menggenggam tangan Rylee begitu erat. Rasanya bukan hanya dia yang bahagia, tetapi Helen dan pasangan barunya.
Ketika sedang menikmati momen langka itu, ponsel Abbey berdering. Kebetulan Abbey memang membawa ponsel tersebut di kantong celananya yang digunakan saat ini. Dia mengambil ponsel itu lalu melihat sang penelepon.
"Siapa, Sayang?" tanya Rylee.
"Van. Entah ada urusan apalagi dia. Aku juga tidak tahu. Kalau kau tidak ingin aku mengangkatnya, tidak masalah."
Helen tahu kalau Van, mantan suaminya itu menghubungi Abbey. Rasa penasaran yang cukup tinggi membuat Helen memberikan kode supaya Abbey mengangkatnya lalu menggunakan mode loud speaker.
"Halo, Abbey!"
"Ya, Van. Ada apa malam-malam menghubungi aku? Bukankah aku akan mengurus pekerjaan selama berada di kantor? Untuk urusan di luar kantor–"
"Ya, aku tahu. Aku minta maaf, tetapi ini darurat sekali. Bisakah besok pagi kau datang ke rumahku? Anne mengundangmu untuk ikut sarapan pagi bersama kami."
Abbey memandang ke semua orang. Mereka mengedikkan bahu tanda tidak tahu jawabannya. Begitu juga Rylee yang terlihat pasrah tanpa memberikan larangan atau bahkan argumentasi.
"Ehm, aku belum tahu jawabannya, Van. Bisakah aku mengabari beberapa menit lagi setelah aku berpikir?" tanya Abbey.
"Tentu! Aku dan Anne berharap bahwa kau bisa datang pada esok hari. Kalau begitu aku sudahi dulu teleponnya. Selamat malam!"
Sambungan terputus. Tatapan mata Helen terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sudah kuduga bahwa dia sama sekali tidak menyesalinya!" ujar Helen pelan.
"Hei, lupakan dia, Helen! Kau sudah punya masa depan. Lagi pula, aku tidak tahu harus datang atau tidak. Aku ragu dengan Anne dan Van, tetapi aku masih mau bekerja di sana. Entah aku yang bodoh atau apa?" Abbey mengungkapkan isi hatinya.