
Suasana hati Rylee berbanding terbalik dengan Eric saat ini. Philo baru saja mengumumkan bahwa perjodohan Eric sudah siap. Calon istri Eric telah kembali.
"Bersiaplah! Kita semua akan terbang menemui calon menantu," ucap Philo.
"Aku tidak ikut!" tolak Rylee kasar.
"Mama dan Papa tidak menerima penolakan, Rylee. Hormati kakakmu!" tegas Dixie.
"Aku tidak mau!" Lagi-lagi Rylee menolaknya.
Eric tidak ingin mereka terus berseteru seperti itu. Pernikahannya adalah untuk menyatukan dua keluarga dan memperkenalkan satu sama lain.
"Rylee, kamu boleh tidak menyukai keputusan ini. Tolong bekerjasamalah denganku. Semakin cepat aku menikah, kau pun bisa segera menikahi wanita itu. Apa kamu tidak menginginkannya?" tanya Eric.
"Mama sudah menolaknya, Kak."
"Itu karena Mama ingin fokus dengan pernikahanku dulu. Wajar kalau sikap Mama seperti itu. Mengertilah!"
Dari seluruh anggota keluarganya, memang hanya Eric yang selalu bersikap manis. Terkadang Rylee merasa kalau tubuh Eric dihuni sosok wanita.
"Baiklah, tetapi aku ingin kepastian bahwa setelah Kakak menikah, aku diizinkan menikahi Abbey. Jika tidak, jangan harap aku akan tinggal di rumah ini lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin hingga kalian merasa tidak pernah memiliki aku." Ancam Rylee.
Dixie dilema. Status Abbey yang tidak jelas ditambah wanita itu sedang hamil. Dia berpikir ulang untuk menjaga martabat dan harga diri keluarganya.
"Akan mama jawab sepulang dari calon istri Eric!" tegas Dixie.
Malam itu, mereka berkemas karena besok pagi mereka harus segera pergi ke bandara. Eric menjadi sosok pria yang paling berbahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki pasangan. Setelah itu, dia akan tinggal di rumah orang tua istrinya dan mengurus perusahaan.
"Aku memang belum pernah bertemu denganmu, Flo. Aku yakin kalau hubungan kita ini berjalan dengan lancar. Terlebih para orang tua kita sudah sepakat dengan perjodohan ini. Semoga kamu bisa menerimaku apa adanya," ujar Eric saat memandangi cermin.
Saat Eric sedang melamun, tiba-tiba Rylee sudah berada di sampingnya. Dia melihat kakaknya tersenyum memandangi cermin sambil berbicara seorang diri.
__ADS_1
"Kamu terlihat bahagia, Kak. Berbeda denganku."
"Sejak kapan kamu di kamar kakak?" Eric terkejut.
"Sejak kamu berbicara sendiri. Aku iri karena Mama setuju dengan pernikahanmu, Kak. Bahkan Papa juga meminta kita semua untuk pergi ke sana. Secantik apa Flo-mu itu sampai Mama dan Papa begitu antusias? Apakah secantik Abbey-ku?" tanya Rylee yang ingin mendapatkan jawaban secara spesifik.
"Jadi, gara-gara Abbey-mu itu cantik, lalu kamu menggunakan cara kotor untuk menjeratnya. Sekarang kalau sudah seperti itu kejadiannya, siapa yang pusing? Kamu sendiri, bukan?"
Rylee mengangguk kemudian merevisi jawabannya. "Tidak seperti itu juga, Kak. Tiba-tiba aku kehilangan kendali. Bahkan kami sudah tinggal di kamar yang sama selama berhari-hari. Dia yang unik, aku yang berhasrat. Kamu tahu kenapa?"
Eric menggeleng sambil memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Dia sambil berinteraksi dengan adiknya.
"Dia sama sekali tidak tertarik pada pria ataupun laki-laki. Memiliki trauma di masa lalu dan akulah yang menyebabkan kekacauan itu terjadi." Rylee tertunduk.
"Kasihan Abbey-mu. Semoga Mama setuju dengan hubungan kalian. Aku juga akan meminta pernikahan dipercepat."
Nah, itulah yang menjadi beban Rylee saat ini. Walaupun dia sudah memasukkan bajunya ke dalam koper, kemudian datang ke kamar kakaknya untuk membuang pikiran negatif tentang keputusan mama.
Eric tertawa. "Aku kadang bingung sama kamu. Kenapa kamu nekat melakukan itu? Kamu masih muda. Masa depanmu panjang. Kamu juga yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis Papa."
"Aku dan kamu beda, Kak. Kamu dominan untuk mengurus bisnis. Sementara aku, penikmat seni. Sampai kapan pun, aku bekerja untuk melakukan tanggung jawabku pada Papa. Terkadang aku juga jenuh dengan semua pekerjaan itu."
"Bersabarlah!" Eric menepuk pundak adiknya setelah membereskan satu kopernya.
Sementara itu, di kediaman keluarga Arthur, tampak Blair mulai sibuk mempersiapkan keperluan untuk menyambut tamunya besok.
"Mam, kenapa tidak besok saja?" tanya Abbey.
"Flo, mereka akan datang saat makan malam. Kemungkinan juga kamu akan bertunangan dengannya pada acara itu. Makanya mama harus menulis semua kebutuhan belanja dan beberapa dekorasi yang perlu disiapkan. Mungkin bunga-bunga juga."
Mengingat bunga, Abbey hampir lupa kalau dia tidak menyukai aroma mawar. Mungkin itu harus masuk dalam daftar belanjaan mamanya, tetapi Abbey harus menggantinya. Beruntung karena hari ini papanya tidak membawa buket bunga mawar.
__ADS_1
"Mam, apakah besok ada bunga mawar?"
"Iya. Mama suka wanginya."
"Bisa ganti bunga lainnya, Mam. Aku bosan," ujar Abbey beralasan.
"Baiklah. Kenapa kamu manja seperti ini sama mama? Sudah berumur masih seperti anak kecil saja." Blair mencubit manja pipi Abbey.
Abbey mengajak mamanya masuk ke kamar. Di sana, Abbey meminta mamanya untuk duduk bersandar headboard ranjang. Sementara Abbey meletakkan kepalanya di paha sang mama.
"Mam, sebelum hari esok, aku ingin bermanja-manja seperti ini," ucap Abbey sambil sesekali memandang ke wajah mamanya.
"Mama jadi ingat masa muda, Flo. Kelakuanmu seperti ini malah pas mama hamil kamu. Rasanya nyaman sekali walaupun sudah ada suami. Seperti mengulang masa muda mama."
Membahas kata hamil, Abbey hampir saja kelepasan. Dia harus tetap diam dan menghindari semua makanan, minuman, aroma parfum, dan bunga-bunga yang membuatnya mual.
"Mam, apakah menikah itu enak?"
"Tergantung kamu dan pasangan, Flo. Walaupun kalian dijodohkan, tetapi kalau kamu dan suamimu bisa saling memahami, kamu pasti menyesal menikah di usia sekarang ini. Lagi pula, kenapa kamu patah hati hanya gara-gara ditinggal selingkuh Thanos?" Walaupun tidak tinggal di tempat yang sama, mamanya juga tahu alasan Abbey menunda untuk tidak menikah.
"Tidak apa-apa, Mam. Sekarang Mama juga sudah menjodohkanku dengan pria yang baik. Pasti aku nanti bisa bahagia seperti Mama dan Papa. Aku cemburu pada kalian! Kenapa bisa selalu bersikap romantis?"
"Kami saling mencintai, Flo. Percayalah kalau suamimu nanti adalah sosok penyayang. Papa pernah bertemu sekali, tetapi mungkin pria itu lupa kalau yang ditemui adalah calon mertuanya."
Abbey tersenyum. Bagaimana rasanya menjadi pria itu ketika diketahui oleh calon mertuanya? Sementara dirinya tidak tahu bahwa itu adalah keluarga masa depannya.
"Pasti pria itu sangat tampan, ya, Mam. Sampai Papa sebahagia itu," ujar Abbey. Padahal bayangan di wajahnya adalah sosok Rylee yang membuatnya jungkir balik seperti saat ini.
"Kalau menurut papamu, dia memang sangat tampan. Kalau dari segi usia, dia masih jauh di bawahmu, Sayang. Keluarganya juga tidak mempermasalahkan soal itu."
Abbey tersenyum. "Mungkin aku yang terlalu tua, Mam."
__ADS_1
Blair mengelus puncak kepala putrinya. Berharap dia segera tidur dan menemukan hari esok yang lebih bahagia lagi. Namun, siapa sangka kedatangan keluarga calon suaminya nanti akan mengejutkan Abbey dan keluarganya?