
Frustrasi dengan keputusan Abbey, Rylee pulang bekerja untuk pertama kalinya. Namun, siapa sangka sebuah mobil berhenti di hadapannya lalu memaksa Rylee masuk tanpa alasan yang jelas. Walaupun dia kuat, tetapi beberapa bodyguard tersebut berhasil mengalahkan Rylee dalam sekali duel.
"Eric!" seru Rylee ketika melihat kakaknya lah yang berada di dalam mobil tersebut.
"Ternyata kau sangat lemah, Rylee! Bagaimana kau bisa melindungi Abbey kalau teknik serangan balasanmu seperti itu, hah? Aku sengaja menyewa beberapa bodyguard untuk mengerjaimu. Aku minta maaf."
Rylee babak belur karena dihajar bodyguard sewaan kakaknya. Namun, itu tidak penting. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Eric ada di sini?
"Aku tidak peduli babak belur, tetapi ketika Abbey tahu ini adalah ulahmu, aku tidak tahu lagi dia akan bersikap seperti apa." Rylee menghapus jejak darah di sudut bibirnya. "Ngomong-ngomong, kenapa kau ke sini?"
"Aku ke sini untuk menjemput Helen. Aku akan memperkenalkan wanita itu pada mama dan papa. Ya, kau juga tahu bahwa ini tidak mudah. Hanya saja aku yakin kalau kami akan segera menikah!" tegas Eric tanpa keraguan.
"Wow, keren! Kau benar-benar pria yang luar biasa, Kak. Aku bangga padamu."
Eric menyunggingkan senyuman. Pria itu membawa Rylee kembali ke apartemen Abbey. Namun, ada hal penting yang perlu mereka bicarakan sepanjang perjalanan pulang.
Tanpa terasa, perbincangan itu berakhir di basemen apartemen. Keduanya turun lalu melewati beberapa koridor hingga sampai unit apartemen yang mereka tempati.
"Mengapa sepi?" tanya Eric. Tidak terlihat adik iparnya di sana.
"Abbey bekerja lagi di perusahaan Van."
"What? Mengapa kau biarkan itu terjadi?" Eric tidak terima.
"Aku tidak bisa melarangnya, Eric. Bagaimanapun Van membutuhkannya. Selain itu, aku juga tidak tahu jalan pikiran Abbey saat ini."
Eric menggeleng. "Kalian saling mencintai, tetapi mengapa harus seperti ini? Seharusnya kau berikan dia rumah yang layak! Aku tidak setuju kalau istrimu itu bekerja!"
Eric yang biasanya dingin mendadak mengomel tanpa alasan. Mungkin saja dia masih terbawa kisah cinta singkat yang dia alami. Sungguh ironis melihat adiknya sendiri memperlakukan Abbey seperti itu. Harusnya Rylee bisa meratukan Abbey seperti Eric.
Rylee mengambil es yang ada di lemari pendingin. Dia mengompres luka bekas pertarungan sejenak sebelum kembali ke apartemen.
__ADS_1
"Aku tahu itu, Eric. Perbedaan kita semakin mencolok setelah menikah. Aku mengakui itu. Aku juga tidak bisa memaksakan Abbey untuk berdiam diri di apartemen."
"Pertimbangkan tawaranku! Jangan biarkan istrimu berada di luar terlalu lama. Abbey adalah wanita yang hebat dan luar biasa. Kalau kau tidak bisa menjaganya, bisa kupastikan akan kurebut darimu!"
Rylee tersenyum. "Rupanya kau belum bisa melupakan Abbey sepenuhnya, Eric!"
Eric membalas senyuman adiknya itu dengan candaan. "Akan ada kesempatan menjadi orang ketiga yang sukses, Rylee. Aku lebih layak menjadi suami Abbey ketimbang dirimu. Kalau kau tidak berubah, kupastikan Abbey akan meninggalkanmu secara perlahan."
Kalau Rylee pikir kakaknya serius, itu mungkin saja. Namun, dia yakin kalau Abbey sangat mencintainya. Selebihnya, biar dunia yang mengatur akan membawa hubungannya dengan Abbey akan seperti apa.
Sementara itu, di sebuah perusahaan milik Van, Abbey baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Rutinitas beberapa bulan lalu yang sempat ditinggalkannya.
"Jadi, apakah kau sudah makan, Abbey?" tanya Van yang kebetulan berhenti di depan ruangan Abbey.
"Aku akan pulang dan makan di apartemen, Van. Kenapa?"
"Anne mengundangmu untuk makan malam di rumah kami. Kalau kau menolak, mungkin lain kali kau punya waktu."
"Tentu akan kupikirkan. Aku harus pulang sekarang."
Sementara itu, di apartemen, Rylee menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Eric, Abbey, dan dirinya sendiri. Sebenarnya rutinitas ini jarang sekali dilakukan. Namun, mendengar penuturan Eric, Rylee juga mau masuk ke dapur untuk membantu sang istri.
"Kapan Abbey akan kembali?" tanya Eric.
"Beberapa menit lagi kurasa. Ini hari pertama kami bekerja dan aku belum hafal betul kapan dia kembali."
"Baguslah! Siapkan juga air hangat selagi dia ingin mandi. Fisikmu jauh lebih kuat daripada wanita hamil itu."
Tentu saja segala hal mengenai wanita sudah dipelajari Eric sebelum menikah dengan Abbey, tetapi setelah kegagalan itu, Eric menyadari bahwa tidak ada yang lebih baik selain menyatukan Rylee dengan wanita itu.
Selebihnya, dia harus pasrah pada takdir. Sampai Eric dipertemukan dengan Helen dan mengubah semua pandangan hidup. Mungkin saja karena sama-sama terluka sehingga keduanya bisa menjadi pasangan yang luar biasa.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah makanan di meja makan siap, Abbey pulang. Dia bisa membuka pintu apartemen sebab memegang kartu akses masing-masing.
Dia cukup terkejut ketika melihat keberadaan Eric di ruang tamu. Selain itu, Eric menyunggingkan senyum kepada Abbey.
"Kejutan!" sapa Eric.
"Eric? Kau–"
"Kau jangan khawatir. Ada Rylee bersamaku," ujar Eric.
"Baiklah. Aku cukup terkejut melihat kehadiranmu. Kalau begitu, nikmati saja sambutannya. Aku akan ke kamar sebentar," pamit Abbey pada Eric.
Abbey bertemu Rylee di ruang makan. Melihat sang suami menyiapkan makan malam, Abbey tersenyum.
"Terima kasih. Aku akan membersihkan diri dulu."
"Aku tahu. Kau pasti sangat lelah. Pergilah setelah itu kembali saat makan malam tiba. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu!"
Abbey langsung masuk ke kamar. Dia tidak ingin menyentuh Rylee sebelum membersihkan diri. Seperti hilang kepercayaan diri saat belum membersihkan tubuhnya.
Tidak lama, Abbey kembali dengan kondisi yang lebih segar. Dia juga sudah mandi dan mengenakan pakaian yang memperlihatkan perutnya yang semakin buncit.
"Hei, Abbey! Aku mendahului tuan rumah untuk menikmati hasil kerja keras adikku," ujar Eric memuji makanan buatan Rylee.
Abbey menyusul Eric untuk duduk di sana. Dia memang sedang hamil, tetapi makanan di meja tampak sangat menarik untuk dinikmati. Aroma, tampilan, dan yang menyiapkan adalah suaminya.
"Tumben kau masak, Rylee?" tanya Abbey yang baru saja mencicipi sesuap makanan.
"Hanya ingin meringankan beban istriku saja. Ingat, kau tidak boleh kelelahan. Walaupun bekerja di tempat Van, mintalah izin selagi pria itu menekanmu. Entah, aku tidak tahu kau berada di pihak mana? Van atau Thanos?" tanya Rylee ingin memastikan. Sejak pertemuan mereka dengan Thanos, Rylee terus saja memikirkan sang istri. Sepertinya Abbey berada di antara dua pria yang sedang berseteru.
"Tunggu! Sebenarnya ada apa ini?" tanya Eric. Melihat adik dan adik iparnya seperti menyimpan rahasia.
__ADS_1
"Jadi, begini–"
"Rylee, sebaiknya tidak perlu bicara apa pun pada Eric. Ini keputusan kita dan orang lain tidak perlu ikut campur!" ujar Abbey merasa kesal pada suaminya.