
Hanya berdua saja karena Rylee menolak ajakan Eric. Dia yang mengemudikan mobilnya seorang diri dan Abbey duduk di sebelahnya.
"Kuharap ini bukan sesuatu yang membosankan, Abbey."
"Kurasa tidak. Sebelum pernikahan itu tiba, kesibukan seperti inilah yang harus kita lakukan."
Sebenarnya berat sekali mengatakan kata kita untuk hubungannya dengan Eric. Terlebih mereka tidak begitu akrab. Serasa pergi dengan calon suami berstatus nikah paksa. Namun, tanpa disadari Abbey menerimanya. Begitu rumit, bukan?
"Apakah kamu mencintai Rylee?"
Abbey sedikit terkejut. Mengapa pria itu malah menanyakan hal yang seharusnya sudah diketahui jawabannya. Ya, Abbey mengakui dalam hati bahwa dia jatuh cinta pada Rylee. Laki-laki muda itu membuktikan kesungguhannya untuk tidak kurang ajar saat berdua saja.
"Kurasa sejauh ini aku memang mencintainya, tetapi aku sudah terikat denganmu. Jadi, aku cukup sadar diri dan tidak perlu membuktikan apa pun padanya. Aku hanya tidak ingin orang tuamu, oh, maksudku orang tua kita menilai telah mempermainkan hubungan ini."
Sebenarnya ingin sekali mempermainkannya. Rencana kawin lari mungkin jauh lebih baik daripada terjebak dalam pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Abbey. Namun, Abbey harus memikirkan perasaan mamanya, Blair.
Sejauh ini di dalam butik terasa sangat membosankan. Terlebih saat Dixie sudah memilih detail gaun yang akan Abbey gunakan untuk pernikahannya. Jadi, dia merasa kalau calon mertuanya itu berperan penuh atas dirinya tanpa memberikan kebebasan untuk memilih.
"Sori, kurasa kamu tidak nyaman. Ternyata Mama sudah merencanakan semuanya. Kita hanya mencobanya, tetapi aku ingin memberikan satu kesempatan untukmu menentukan salah satu gaun yang ingin digunakan. Tidak perlu mengikuti saran Mama. Ini bebas dan aku akan membelikannya untukmu, untuk pernikahan kita," jelas Eric.
Saat perasaan dan keadaan tidak bisa menyatu, untuk apalagi memilih gaun pengantin? Percuma juga dan itu merupakan pemborosan.
"Tidak perlu. Kurasa kita harus pergi ke studio foto dan menyelesaikannya dengan cepat. Aku ingin segera pulang, tetapi besok aku harus ke rumah sakit."
"Kamu sakit?"
"Tidak, Eric. Aku hanya ingin bertemu dokter untuk memeriksakan kehamilanku saja."
"Ya, baiklah. Kamu perlu diantar?"
"Tidak. Kurasa aku akan pergi dengan Rylee."
__ADS_1
Penolakan yang sangat menyakitkan. Namun, berada di studio foto malah jauh lebih membosankan. Abbey harus dirias terlebih dahulu. Itu pun membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam. Cukup melelahkan.
Eric selalu mendampinginya. Dia membelikan beberapa makanan supaya bisa dimakan saat menunggu Abbey selesai di make up.
"Oh, ya, kamu sudah mengirimkan pesan pada teman-temanmu?"
Abbey lupa. Dia mungkin sudah mengirimkan pesan, tetapi belum ada tanggapan. Bisa juga sudah mengirim pesan, tetapi dia lupa menyampaikannya pada Eric.
"Nanti aku lihat kembali ponselku. Aku lupa."
Waktu yang ditunggu pun tiba. Eric dan Abbey harus bergaya di depan kamera seolah keduanya saling mencintai. Berbagai pose pun dilakukan oleh arahan fotografer. Selain itu, mereka terlihat dekat sekali. Andaikan saja Rylee ada di sana, dia pasti sudah marah-marah tidak jelas.
Malam pun semakin larut. Sesi foto baru berakhir satu jam setelah makan malam. Mereka langsung pulang. Sebenarnya Abbey ingin kembali ke hotel, tetapi Eric mencegahnya.
"Pulang ke rumah kami saja. Kamu bisa bertemu Rylee untuk membuat janji pergi ke rumah sakit bersama-sama."
Bukan sesuatu yang buruk. Lagi pula, hari ini mereka tidak banyak berbicara. Rylee seakan menjaga jarak.
"Kamu masih lapar? Kalau lapar, panggil saja aku di kamar sana." Eric menunjuk kamarnya. "Kalau kamu malu, bisa panggil maid saja untuk melayanimu. Oh, ya, kamar Rylee ada di sana. Dia pasti sedang beristirahat sekarang."
"Kamu tidak masalah kalau aku pergi ke kamarnya?"
"Tentu tidak. Lagi pula, dia juga akan menjadi adik iparmu, bukan?"
Ah, lagi-lagi Eric memperjelas hubungan mereka. Walaupun Rylee menjadi adik iparnya, tetap saja anak dalam kandungannya tidak dipungkiri bahwa itu adalah milik Rylee. Abbey tidak bisa membayangkan bahwa anaknya nanti akan memiliki status hubungan yang aneh dengan Rylee. Daddy-ku adalah omku. Sangat membingungkan, tetapi itulah yang mereka jalani seharusnya.
Abbey agak ragu saat mendekati kamar itu. Pintunya besar dan kokoh. Dia ingin mengetuk, tetapi ada rasa yang tertahan. Takut Rylee akan menolaknya.
Ketukan ketiga, Abbey berniat untuk masuk jika Rylee benar-benar tidak memberikan respon padanya. Benar saja karena pintu kamar itu tidak dikunci dari dalam sehingga Abbey bisa masuk dengan mudah.
Setelah menutup pintunya kembali, Abbey melihat kamar yang luar biasa. Ini pertama kalinya dia masuk ke kamar Rylee. Kamar yang cukup besar dengan desain khas laki-laki dewasa. Sayangnya kamar itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana.
__ADS_1
"Ke mana kamu, Rylee?" gumam Abbey sambil melihat isi kamar itu.
Tidak ada fotonya, tetapi lukisan bermacam-macam model tato. Sepertinya Rylee memang menyukai seni. Itu juga yang menyebabkan tidak pernah sejalan dengan kakak dan papanya.
Namun, saat dirinya fokus pada sebuah foto, Abbey menyadari bahwa dia bukan satu-satunya wanita yang singgah di hati Rylee.
"Harusnya aku menyadari ini. Kurasa keputusanku untuk menikah dengan Eric bukan sebuah kesalahan. Setidaknya kita impas, Rylee!"
Berlama-lama di kamar itu ternyata membuat hati Abbey semakin sakit. Niatnya ingin bertemu dengan Rylee malah mendapati fakta buruk tentangnya. Namun, saat dirinya ingin keluar, Rylee masuk dan terkejut.
"Abbey? Kamu di sini? Kupikir kamu akan pergi setelah pemotretan sialan itu selesai!" ujar Rylee.
"Tadinya aku ingin bicara denganmu, tetapi aku lupa. Mungkin lain kali saja."
Rylee bisa melihat perubahan sikap Abbey yang mendadak tidak bersahabat itu. Dia langsung mencekal satu tangannya lalu memandang wajahnya dengan teliti.
"Kamu marah padaku, Abbey. Katakan, apa masalahmu? Kita baru bertemu dan sikapmu tidak bisa ditoleransi lagi."
"Aku? Harusnya kamu, Rylee. Kamu seakan lari dari tanggung jawab. Kamu juga membuatku berada dalam dilema. Lebih baik kalau kamu tidak menampakkan diri di hadapanku."
Ya, Abbey sangat marah. Dia sampai lupa kalau sedang hamil. Rasanya benar-benar tidak bisa diprediksi.
"Abbey, ini bukan kamu. Bukan orang yang kukenal. Apa masalahmu sekarang? Oke, kalau aku tidak bisa memastikan bahwa kamu dan aku akan menikah, tetapi tolong jangan permainkan aku dengan teka-tekimu itu, Abbey. Kumohon!"
Abbey mencoba untuk melepaskan tangan Rylee. Dia ingin segera keluar dari kamar itu. Namun, tangan kekar itu begitu kuatnya menahan sampai Abbey merasa kalah dan menyerah.
"Lepaskan aku atau aku akan berteriak!" Ancam Abbey.
"Sebelum kamu mengatakan masalahnya, tidak akan pernah kulepaskan. Aku tidak peduli bahwa kamu akan membuat kegaduhan di sini, tetapi aku butuh penjelasan!"
"Kurasa hanya aku wanita itu, ternyata ada foto wanita lain di kamar ini!" Tatapan mata Abbey berada dalam dua waktu yang berbeda. Seakan dia kuat padahal cukup rapuh dan sangat cemburu.
__ADS_1