Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 26. Kedatangan Calon Menantu


__ADS_3

Setelah malam itu, Eric memang memberikan pelajaran pada adiknya. Lalu, mereka pun segera kembali ke rumah. Rylee tampak menjauh dari semua orang. Walaupun sudah kembali bekerja di perusahaan, tetapi dia tidak banyak bicara.


Sementara itu, Eric sangat rindu sekali pada Flo. Dia berniat menjemput calon istri lalu mengajaknya naik helikopter melihat keindahan negaranya.


"Mam, aku mau menjemput Flo. Sebelum kami menikah, aku akan menunjukkan beberapa keindahan yang dimiliki negara kita ini. Apa Mama mengizinkan?"


"Tentu saja. Pernikahan kalian tinggal beberapa minggu lagi. Ajak Flo ke sini dan mama juga akan meminta maaf padanya," kata Dixie.


Mendengar nama Flo disebut, Rylee yang saat itu sedang menikmati sarapan pagi langsung meninggalkan meja makan.


"Mau ke mana, Rylee?" tanya Philo.


"Bekerja, Pa," jawab Rylee singkat.


Setelah tidak terlihat punggung Rylee, Dixie semakin ragu pada keputusan Eric. Kalau merujuk pada keputusan keluarga besar Flo, mereka sudah setuju dengan perjodohan ini. Sementara keluarga Eric juga sudah setuju.


"Eric, mama memikirkan adikmu. Apa keputusanmu untuk menikah dengan Flo sudah benar?" tanya Dixie yang terlihat ragu.


"Tentu, Ma. Kenapa? Apa keputusanku tidak tepat? Om Arthur sudah setuju memilihku." Eric bangga pada diri sendiri.


"Mama khawatir kalau Rylee akan merusak segalanya." Dixie beralih menatap Philo. "Bagaimana menurutmu, Pa?"


"Biarkan saja Rylee mendapatkan pelajaran berharga. Lagi pula, siapa yang mengajarkan bertindak bodoh seperti itu?" Bahkan Philo saja setuju kalau Eric menikah dengan Flo.


"Kalau begitu, hari ini aku izin untuk tidak masuk ke kantor sampai besok. Aku mau menjemput Flo dan membiarkannya untuk tinggal di paviliun rumah kita. Sampai pernikahan terjadi, baru dia akan kuminta pindah ke kamarku."


Definisi menyiksa yang begitu berat. Walaupun Rylee sudah pergi ke kantor, nyatanya pikiran laki-laki itu menembus pada keputusan kakaknya menikah dengan Abbey.

__ADS_1


"Kak, kenapa kamu lakukan itu?" Rylee meletakkan kepala di meja kerja sepagi ini. "Bahkan Abbey pun setuju menikah dengannya. Apa ini balasannya karena aku berbuat curang? Kalau sampai pernikahan mereka terjadi, aku bisa perlahan-lahan mati melihatnya."


Eric pasti akan memboyong Flo ke rumahnya. Padahal kakaknya itu sedang berencana membawa Flo untuk tinggal di paviliun mulai besok. Sanggupkah Rylee berdiam diri di rumah? Padahal wanita yang dicintai selalu berada di dekatnya.


Sementara itu, Abbey menerima pesan dari Eric. Hari ini dia akan datang ke rumah untuk membawa Abbey pergi ke negaranya. Dia sengaja melakukan itu untuk membahagiakan Abbey sebelum mereka menikah.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu termenung setelah membaca pesan dari ponselmu? Memangnya siapa yang mengirimkan pesan itu?" tanya Blair.


"Eric, Mam. Dia akan menjemputku. Mungkin Mama dan Papa akan menyusul setelah aku di sana. Hari ini dia akan datang."


"Oh, itu bagus. Mungkin kamu dan Eric harus melakukan persiapan pernikahan. Lagi pula, kalian juga harus melakukan fitting gaun pengantin. Mungkin juga pihak keluarga Eric akan menyiapkan bulan madu istimewa untukmu," kata Blair.


Mendengar kata bulan madu, itu tidak akan mungkin dilakukan. Terlebih perjanjian yang sudah disepakati antara Eric dengannya bahwa mereka tidak akan saling menyentuh sebelum anak dalam kandungannya itu lahir.


"Tidak mungkin, Mam. Aku sedang mengandung. Eric juga menyadari posisi kami saat ini."


Pertanyaan mamanya sungguh menggiring Abbey pada posisi serba sulit. Di sisi lain, perasaannya pada Rylee sungguh nyata bahwa Abbey merindukan laki-laki muda yang beringas itu. Namun, melihat kelembutan hati Eric dan restu dari kedua belah pihak, sepertinya Abbey lebih condong pada Eric.


"Eric, Mam." Walaupun hatinya berkata lain.


"Mama bisa melihat betapa lembutnya pria itu, Sayang. Andaikan mama masih muda, mama pun akan memilih orang yang sama denganmu. Mama langsung memilih Eric daripada laki-laki ugal-ugalan itu."


Bahkan di mata orang tuanya saja, Rylee merupakan sosok yang buruk. Bagaimana mungkin bisa menerima laki-laki sepertinya?


"Maafkan mama, Sayang. Papamu mendapatkan penolakan dari semua orang. Nantinya yang akan menjadi papamu adalah kakak dari papamu sendiri. Jadi, mama minta maaf sudah membuatmu bingung dan tidak menentu seperti ini. Mama juga pusing, bagaimana meyakinkan pada semua orang bahwa posisi kita ditukar seperti ini? Seluruh orang tua tidak setuju dengan hubungan kami, Sayang," batin Abbey berbicara dengan janinnya.


Sementara itu, saat malam tiba, Eric baru saja sampai. Arthur menerimanya dengan sukacita. Terlebih niat Eric adalah untuk bisa lebih mengenal Flo dan membawa ke dalam keluarganya sampai acara pernikahan itu digelar.

__ADS_1


"Om akan segera menyusul kalian setelah urusan pekerjaan di sini selesai. Tinggal beberapa minggu lagi dan om menitipkan Flo padamu. Jaga dia dan tolong jauhkan dari adikmu," pesan Arthur sebelum Flo turun.


Mengapa harus malam ini? Mengapa tidak berangkat besok pagi saja? Itulah yang sedang dipikirkan Abbey saat ini.


Rupanya Eric punya alasan tersendiri karena besok siang dia akan mengajak Flo ke kantor. Lalu, Eric akan memperkenalkannya pada beberapa karyawan kantor. Lalu, pada sore harinya jika Flo tidak kelelahan, dia akan mengajak untuk menaiki helikopter dan melihat senja dari sana.


Tidak lama, Abbey keluar dengan satu koper yang dibawa oleh maid. Dia diperlakukan bak seorang putri di rumahnya sendiri, maka tugas Eric pun sama. Harus memperlakukannya seperti seorang putri di mana pun dia tinggal.


Melalui penerbangan yang cukup melelahkan, pada akhirnya Abbey tertidur di mobil. Ingin sekali membangunkan wanita itu, tetapi sepertinya dia sangat lelap sekali. Sehingga Eric memutuskan untuk menggendongnya lalu meletakkan di kamar paviliun.


Hal itu diketahui oleh Rylee yang baru saja keluar dari rumah dan berniat untuk pergi ke kantor. Melihat pemandangan yang menyesakkan dada seolah membuat asanya berhenti begitu saja.


"Rasanya aku tidak ingin hidup lama lagi," batin Rylee menuju ke mobil.


Sementara itu, setelah meletakkan posisi Flo dengan benar di ranjang kamar itu. Pandangan Eric langsung tertuju ke wajahnya. Teduh, hangat, dan sangat cantik. Begitu saja sudah membuat Eric tergila-gila. Pantas saja adiknya juga memiliki pemikiran seperti itu.


Eric kembali lagi ke mobil. Dia menurunkan beberapa koper. Salah satunya adalah milik Flo yang diletakkan di dalam kamar. Lalu, Eric masuk ke rumah untuk menemui mama dan papanya yang masih berada di sana.


"Mam, Flo sudah di kamarnya. Aku ingin istirahat dulu. Mungkin dia baru bangun beberapa jam lagi. Perjalanan kami sungguh melelahkan," jelas Eric.


"Baiklah. Nanti mama akan ke sana untuk melihatnya," ucap Dixie.


"Kalau begitu, papa berangkat dulu, ya, Mam. Aku pamit," ujar Philo.


Sementara itu, setelah semua orang pergi. Dixie menuju ke paviliun untuk melihat calon menantunya. Dia mengira kalau Flo masih tertidur, ternyata wanita itu sudah bangun. Tatapan matanya beradu dan menimbulkan rasa tidak nyaman di antara keduanya.


__ADS_1


__ADS_2