Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 61. Berniat Rujuk


__ADS_3

Pernikahan digelar dengan cara yang sederhana. Namun, Eric sudah mempersiapkan resepsi pernikahan yang cukup megah di hotel bintang lima yang paling terkenal di kotanya. Tentu saja hal itu sudah disambut baik oleh pihak keluarga Eric.


Kehadiran Rylee, Abbey, dan Zaylin menjadi support sistem yang sangat baik untuk Helen. Wanita bergaun putih itu tampak menghampiri mereka sebelum naik ke pelaminan.


"Terima kasih sudah mendampingiku selama ini. Aku tidak menyangka statusku berubah secepat ini." Helen sangat terharu.


"Selamat, ya, Kakak ipar!" ujar Abbey yang merupakan teman Helen di masa sekolah.


"Hei, jangan panggil seperti itu! Aku malu!" Helen menunduk, tetapi beberapa detik kemudian Zaylin mendorong wajah Helen supaya sejajar.


"Pengantin baru tidak boleh malu. Kalau malu, kapan kau akan berhasil seperti Abbey? Lihatlah perut buncitnya! Jangan sampai kau kalah saing!" Zaylin memang sengaja menggoda, tetapi temannya itu tidak tahu bahwa syarat menjadi istri Eric harus bisa hamil dengan cepat.


"Zaylin!" Helen sangat malu untuk mengakuinya mengingat usia Eric lebih muda beberapa tahun di bawahnya.


Jika dibandingkan dengan pernikahan Abbey dan Rylee, pernikahan kedua Helen membuat wanita itu terasa kikuk, seperti kembali menjadi anak gadis lagi.


"Kakak ipar, sebaiknya kau segera masuk ke ruangan. Eric dan orang tua kami pasti sudah menunggumu di sana!" Rylee mengingatkan.


Benar saja, Dixie, suami, dan anak sulungnya sudah berada di dalam ballroom. Mereka sedang menemui para tamu undangan. Ketika melihat kehadiran Helen beserta anak menantunya, Dixie menyenggol lengan Eric supaya lekas menyambut istrinya.


"Eric, jemput istrimu!" Dixie beralih menarik tangan suaminya untuk segera bersiap naik ke pelaminan.


Tanpa banyak bicara, pria yang berhasil melepas masa lajangnya untuk menikahi janda tanpa anak itu terlihat bahagia. Tidak menutup kemungkinan bahwa kebahagiaan Eric ini akan berlanjut. Setelah berhasil menjemput istrinya, sebelum naik ke pelaminan menyusul orang tua, Zaylin mengajak mereka untuk foto selfi terlebih dahulu.


"Selfi dulu, ya! Jarang-jarang aku meng-upload foto kalian di sosial media. Oh, ya, Abbey, kemarilah! Ayo, ajak suamimu! Kita selfi bersama-sama!" ajak Zaylin yang kemudian direspons dengan acungkan jempol dari Abbey.

__ADS_1


Mereka berlima langsung selfi menggunakan ponsel Zaylin. Setelah itu, diunggah di media sosial. Baru beberapa detik saja, ucapan selamat dan komentar manis membanjiri. Tentunya itu menjadi kepuasan tersendiri bagi Zaylin.


"Abbey, lihatlah! Like dan komentarnya positif semua. Tak heran banyak yang mendoakan Helen supaya selalu bahagia dan ...."


"Apa, Zaylin? Apakah ada masalah serius?" Abbey mendekat lalu mencoba mengintip ponsel Zaylin.


"Banyak yang mengutuk perbuatan Van. Mereka seakan tidak suka kalau pria itu meninggalkan Helen di saat seperti ini, tetapi kabar perselingkuhan itu juga diketahui oleh banyak pihak. Aku tak bisa menghalanginya." Ada penyesalan dari suara Zaylin seolah tidak mau meninggalkan kesan negatif untuk mantan suami Helen.


"Aku tidak peduli, Zaylin. Van pantas mendapatkan itu!" Sebagai bawahan pria itu, Abbey berhak mengutuk juga. Lagi pula, Van memang sangat kejam sekali. Dia mata keranjang sekaligus menyebalkan.


Pria yang menjadi bahan pembicaraan para wanita itu tampaknya merasa tidak nyaman. Beberapa kali membolak-balik berkas yang dipegang, tetap saja tidak fokus. Terlebih Abbey meminta cuti secara paksa selama beberapa hari.


Van sempat melihat nomor Abbey lalu berniat mengirimkan pesan. Wanita itu memang tidak mengatakan akan masuk kapan, tetapi penguasa jadwal tetap menjadi pekerjaan Abbey.


Van menyegarkan pikirannya. Sudah lama dia tidak membuka media sosial miliknya. Tentu saja hal itu menggugah seleranya setelah vakum cukup lama.


Postingan pertama yang dilihat adalah foto pernikahan Helen yang diunggah oleh Zaylin. Mantan istrinya itu tampak terlihat sangat bahagia didampingi semua teman terdekatnya. Berbanding terbalik dengan kondisi Van saat ini. Dia dan Anne tak seindah bayangan orang lain.


"Rupanya Helen benar-benar menikahi pria itu. Ck, kita lihat saja, siapa yang akan bertahan? Pernikahanmu atau pernikahanku?" Van masih berlagak sombong, padahal pernikahannya dengan Anne sama sekali sudah tidak sehat.


Anne beberapa kali mengungkit penyesalan sudah menikah dengan Van. Alasannya karena Van mata keranjang, sedangkan mantan suaminya adalah tipikal pria yang setia.


Ya, semenjak berpisah dari Anne, Thanos belum pernah dekat dengan siapa pun. Walaupun dia pernah berencana untuk membalas rasa sakit hatinya untuk mendekati Helen, tetapi pria itu kalah cepat dengan Eric.


Van yang masih terpaku dengan media sosial di tangannya mendadak terkejut ketika pintu diketuk. Belum mempersilakan masuk, tetapi tamunya sudah lebih dulu masuk. Rupanya Anne datang lagi ke kantor, padahal akhir-akhir ini wanita itu mengatakan malas untuk berkunjung ke tempat kerja suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kau kemari?" Van menutup media sosial miliknya lalu meletakkan ponsel itu ke atas meja.


"Cuma ingin menunjukkan kalau mantan istrimu telah menikah lagi. Apakah kau sudah melihat kabar itu dari Zaylin?"


"Oh, rupanya diam-diam kau memata-matai pergerakan Helen. Aku tidak menyangka. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari semua ini?" Van beranjak dari tempat duduknya menuju ke dekat Anne.


Meskipun perutnya sudah membesar, tetapi wanita itu terus saja membuat masalah. Van juga tidak diizinkan untuk sekadar mengelus atau mencium perut buncitnya sebagai interaksi antara ayah dan anak. Anne tidak mengizinkan sentuhan dalam bentuk apa pun.


"Aku hanya memastikan kalau kalian benar-benar terpisah, seperti aku dan Thanos."


"Anne, hentikan omong kosongmu! Kali ini aku tidak akan berdebat lagi. Silakan kau pilih, aku atau Thanos? Kalau memang kau ingin kembali padanya, silakan saja! Aku tidak peduli sebab masih banyak wanita yang mau denganku!" Merasa direndahkan, Van berbicara dengan nada yang agak tinggi.


"Wow, kau merasa menjadi pria yang paling tampan. Si paling diminati semua wanita. Si paling perfeksionis dan kaya raya. Oh, ayolah, Sayang! Aku tidak sebodoh itu. Citramu di hadapan semua orang sudah berbeda sekarang. Kau hanyalah perusak rumah tangga orang lain demi kebahagiaanmu sendiri!" Anne tersenyum sembari mengelus perut buncitnya.


"Oh, ya, mengenai tawaranmu untuk kembali pada Thanos, akan aku pikirkan ulang," lanjut Anne.


Van melengos mendengar ucapan Anne barusan. Wanita itu benar-benar sudah membuat kewarasannya hilang dalam sekejap. Anne tidak sama dengan Helen. Helen, si pencemburu dan tidak terlalu menuntut malah rela melepaskan hubungan pernikahan. Sekarang, wanita itu sangat bahagia sekali.


"Terserah kau, Anne!" Van kembali ke tempat duduk, menyilang kakinya, dan menyandarkan tubuhnya.


Anne mengambil ponsel lalu mendial nomor Thanos. Ketika sambungan telepon terhubung, Anne segera mungkin menyampaikan maksud dan tujuannya di hadapan Van.


"Halo, Thanos! Mari kita rujuk kembali," ucap Anne dengan tersenyum mengejek ke arah Van.


__ADS_1


__ADS_2