
Zaylin tentu saja terkejut. Sebenarnya agak heran juga dengan penuturan Abbey. Seakan pendengaran Zaylin bermasalah.
"Abbey, kamu yakin?"
"Kamu pikir aku sengaja memfitnahnya? Tidak, Zaylin. Kamu ingat saat pulang dari klub malam itu, kan? Van mengantar Anne. Keesokan harinya saat Rylee memintaku untuk menghubungi Van karena menagih uang taruhan itu, suara Anne terdengar. Aku tidak mungkin salah orang, Zaylin. Kurasa Helen mengira aku yang menjadi orang ketiga itu," jelas Abbey dengan suara yang cukup pelan.
Zaylin manggut-manggut sampai pada keempat orang itu masuk. Tatapan mata Helen tetap seperti sebelumnya. Membenci tanpa mau mendengar penjelasan.
"Jadi, kamu sakit apa? Kalau memang sudah tidak bisa diajak untuk menikmati acara ini, lebih baik kamu pulang. Dasar perusak!" maki Helen.
Zaylin yang semula duduk di ranjang, kini berbalik menghadap Helen. Sesekali temannya itu perlu mendapatkan pelajaran berharga.
"Helen, cukup! Abbey sedang hamil."
"Apa?" pekik mereka semua.
"Ya, Abbey sedang hamil, tetapi bukan dengan suami orang!" tegas Zaylin.
Helen tetap tidak percaya. Van bisa melakukan apa saja dengan uangnya, termasuk membuat tipuan perselingkuhan agar tidak diketahui.
"Itu tidak mungkin. Abbey, siapa pria itu?" Selidik Helen.
Thanos merasa cemburu pada Abbey. Dia tahu kalau mantan kekasihnya yang belum menikah itu sulit sekali untuk disentuh. Makanya saat itu Thanos lebih memilih Anne ketimbang Abbey yang begitu polos dan memegang teguh prinsip hidupnya.
"Siapa pria itu, Abbey?" Thanos malah terlihat peduli lagi.
"Untuk apa kamu ingin tahu, Thanos? Ini tidak ada hubungannya denganmu atau Van sekali pun. Jadi, berhenti menghakimi aku!" tegas Abbey. "Kamu juga, Helen. Berhentilah menyalahkan orang lain tanpa bukti. Aku hanya tidak ingin membuat acara anniversary-mu kacau. Hanya saja aku memang tidak tahu kalau ternyata aku sedang hamil."
Helen terdiam. Dia merenung dalam hatinya. Kalau bukan Abbey yang menjadi selingkuhan suaminya? Lalu, siapa? Semalam dia bertemu dengan Zaylin. Bahkan dia yang melarang Helen untuk menemui Abbey karena wanita itu sedang beristirahat.
Sementara suaminya sempat keluar kamar. Sudah pasti dia pergi untuk menemui seseorang. Kalau Abbey dan Zaylin bukan orangnya, itu artinya ada satu lagi yang patut dicurigai. Anne, cuma tersisa dia yang belum masuk dalam pengamatan Helen.
"Oh, ya, ampun! Anne!" batin Helen berteriak histeris.
Saat Helen sedang menerka-nerka, Van berusaha tetap tenang. Sementara Anne terdiam melihat interaksi antara Helen dan kedua temannya. Sementara Anne mencoba bersikap biasa saja dengan mengambil tangan Thanos lalu menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Abbey. Aku sempat salah paham. Aku akan mengobati luka bekas tamparanku tadi." Helen mendekat lalu berbicara dengan pelan.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Van yang bingung dengan kronologi kejadiannya.
"Bukan apa-apa, Van. Hanya salah paham saja," sahut Zaylin. "Oh, ya, kalian silakan lanjutkan sarapan pagi. Aku akan menemani Abbey sarapan di kamar ini. Anne, tolong sampaikan pada pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar ini."
"Ah, iya. Aku pergi sebentar. Tunggu di sini saja," balas Anne.
"Aku akan mengantarmu," ucap Van.
Thanos menyikapi itu biasa saja. Dia juga merasa kalau masih wajar bila istrinya diantar oleh Van. Lagi pula, yang tahu seluk-beluk vila ini adalah Van.
"Tunggu, Van! Biar aku yang mengantarkan Anne," sahut Helen.
Suasananya yang semula tenang, berubah tegang lagi. Itu hanyalah perasaan Anne saja. Apalagi saat berdekatan dengan istri sah selingkuhannya.
Sementara itu, di sebuah kantor seorang laki-laki berjas sedang memeriksa pekerjaannya. Sudah sebulan ini dia cukup rajin dalam memimpin perusahaan. Siapa lagi kalau bukan Rylee.
Semenjak dia masuk ke kantor, Eric mengurus perusahaan yang langsung berhubungan dengan klien. Baik lokal maupun internasional, Eric yang mengurusnya. Saat jadwal Eric penuh, maka Rylee yang akan menggantikannya.
"Siang, Kak. Tumben kamu sudah di kantor?"
"Urusanku sudah selesai. Oh, ya, kalau kamu longgar, kita pergi makan siang, ya. Aku juga ingin membicarakan mengenai rencana pertunanganku."
Eric merupakan sosok pria yang penurut. Bahkan saat belum mengetahui siapa calon istrinya, dia sudah menyiapkan pesta pertunangan. Bagaimana kalau pertemuannya nanti tidak sesuai dengan kenyataan?
"Kamu yakin akan menikahi wanita itu, Kak?"
"Yakinlah! Memangnya kenapa?"
"Ya, kupikir kamu adalah pria yang tampan. Pemimpin perusahaan besar. Kenapa mau saja menerima kalau belum pernah bertemu?"
Eric berjalan mendekati kursi adiknya. Di sana dia menepuk pundak Rylee. Lalu, Eric berdiri di samping adiknya.
"Pilihan Mama tidak akan pernah salah, Rylee. Tunggu saja giliranmu!"
__ADS_1
"Maksud Kakak, aku juga akan dijodohkan sepertimu."
"Tentu, Rylee. Relasi perjodohan Mama itu luas. Gagal dengan satunya, masih ada stok yang lainnya. Semua itu juga sudah mempertimbangkan kondisi kita. Percayalah!"
Rylee terdiam. Sudah sebulan ini dia menjadi anak baik dan penurut seperti kakaknya. Papanya pun sudah tidak mempermasalahkan tatonya lagi.
"Apa kabarmu, Abbey? Apakah kamu merindukan aku? Oh, jelas tidak! Kamu pasti sangat membenciku. Aku minta maaf," gumam Rylee.
"Rylee, kenapa melamun? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Rylee menggeleng. "Tidak, Kak. Lalu, kalau misalnya kamu punya kekasih, apakah Mama tidak bisa menerimanya?"
Kalau soal itu, Eric bahkan tidak tahu. Selama ini dia lebih fokus mengurus perusahaan ketimbang kehidupan pribadinya.
"Aku tidak tahu. Kemungkinan terbesar Mama akan menolaknya. Apalagi kalau wanita itu tidak sejajar dengan keluarga kita. Jangankan menerimanya, melihatnya pun enggan."
Rylee semakin resah. Mungkin saat tidak ada pekerjaan nantinya, dia akan pergi ke tempat Abbey dan melihat kabar wanita itu. Rylee sudah menyakitinya.
"Memangnya kamu punya kekasih? Kalau memang punya, lebih baik pertemukan dulu dengan Mama. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman. Itu sangat menyesakkan dada. Maksudku agar Mama memberikan restu pada kalian setelah bertemu. Hal itu kembali lagi pada keputusan Mama." Eric melanjutkan.
Semakin resah. Jangankan meminta restu mama, mendapatkan maaf dari Abbey belum tentu didapatkan. Bagaimana kalau wanita itu sampai bunuh diri?
Pikiran Rylee sangat kacau. Dia tidak memikirkan ke arah sana, tetapi beberapa hari ini dia terus saja dihantui mimpi tentang Abbey yang sedang menangis. Terlihat jelas di mimpinya bahwa Abbey sangat membenci Rylee.
"Kak, seminggu lagi aku izin untuk tidak bekerja. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kakak jangan khawatir karena aku hanya sebentar saja."
"Memangnya kamu mau pergi ke mana?"
"Ke suatu tempat dan Kakak tidak perlu tahu," balas Rylee menunjukan deretan gigi putihnya.
"Asalkan kamu segera kembali dan tidak mengecewakan Papa, aku mengizinkan."
"Terima kasih, Kak."
Rylee tampak lega. Dia akan menemui Abbey lalu meminta maaf padanya.
__ADS_1