Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 27. Mencari Sesuatu


__ADS_3

"Tante minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu. Sungguh tante tidak tahu kalau ternyata kamu adalah anak dari Blair dan Arthur."


"Tidak apa-apa, Tante. Bukan Tante yang salah, tetapi ini murni kesalahanku dan Rylee."


Abbey terdiam sejenak. Semula dia tahu kalau wanita di hadapannya bersikeras menolak pernikahannya. Namun, setelah bertemu dan tahu bahwa Eric dijodohkan dengannya, mengapa Dixie tidak melakukan protes?


"Sebelum Tante keluar, bolehkah aku bertanya?" Sekilas Abbey menatap bahwa Dixie ragu untuk bertahan di kamar itu bersamanya.


"Tentu. Tanyakan saja selagi aku bisa menjawabnya."


Dixie tidak seketus beberapa waktu lalu. Dia mulai bersikap hangat dan normalnya seperti orang tua pada umumnya. Dia juga terlihat tidak canggung untuk masuk ke kamar Abbey saat ini. Walaupun Abbey tidak ingat, siapa yang telah membawanya masuk?


"Mengapa Anda tidak mengizinkan aku menikah dengan Rylee?"


Pertanyaan itu selalu mengganggu di benak Abbey beberapa hari ini. Terlebih saat cincin pertunangan sudah diselamatkan di jarinya. Mengapa Eric tidak mengalah saja dan membiarkan adiknya menikah?


"Cuma Eric yang mendapatkan restu dari orang tuamu. Kami tidak bisa memaksa Rylee agar diterima di sana. Jadi, aku minta maaf hanya bisa memberikan alasan seperti itu."


Alasan klise! Hanya berbeda restu saja menjadi seperti itu. Bagaimana kalau orang tua Abbey menolaknya? Apalagi saat mereka tahu kalau Abbey sedang mengandung garis keturunan keluarga Dixie dan Philo.


"Oh, ya? Lalu, bagaimana jika orang tuaku menolaknya? Apakah Anda tidak menginginkan anak ini?" Abbey menunjuk perutnya yang mulai terlihat buncit.


"Itu bukan salahku! Sebaiknya lupakan saja pembicaraan kita hari ini. Aku akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke kamarmu."


"Maaf, Tante. Aku sedang tidak lapar. Bisakah aku berbicara dengan Eric?"


Jelas urusannya bukan dengan Dixie. Dia harus keluar dari paviliun itu dan tinggal di hotel. Mungkin itu jauh lebih baik ketimbang bertahan di sini dan melihat wajah Dixie yang selalu tidak menyenangkan di wajahnya.


"Tentu. Tunggu sebentar! Aku akan memanggilnya."


Memang seharusnya seperti itu. Tinggal di lingkungan yang membuat Abbey tidak nyaman, bukan solusi yang benar.


Eric baru saja membuka matanya saat Dixie membangunkannya. Seperti permintaan Flo, pria itu segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, dia mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jeans.

__ADS_1


"Sepertinya dia tidak nyaman tinggal di sini," kata Dixie sebelum Eric keluar dari kamarnya.


"Bukankah hormon kehamilan memang selalu seperti itu?" Ya, Eric belajar banyak dari internet. Dia memang belum pernah berhadapan dengan wanita hamil, tetapi rasa penasarannya cukup tinggi.


"Ah, kamu jauh lebih paham daripada mama. Pergilah!"


Eric melangkah pelan menuju ke paviliun. Sisa kantuknya masih terasa. Hanya saja dia pun tidak ingin membiarkan Flo menunggu terlalu lama. Dia mengetuk pintu berharap tidak mengejutkan pemilik kamar itu.


"Masuklah, Eric!" balas Abbey.


Eric segera membuka pintu lalu masuk. Dia membiarkan pintu terbuka supaya orang yang lewat tidak salah paham padanya.


"Ada apa?"


"Aku sudah sampai di sini. Bisakah kamu membawaku ke hotel saja? Aku akan tinggal di sana selama beberapa hari sampai orang tuaku datang."


Jelas saja ini cukup mengejutkan. Pasalnya paviliun ini sengaja disiapkan untuk menunggu kedatangan calon mertuanya.


"Tidak, Eric. Kurasa aku harus menjauh dari Rylee. Kamu tahukan, bagaimana kasarnya dia terhadapku?"


Sebenarnya itu bukan alasan yang mendasari Abbey meninggalkan tempat ini. Satu-satunya yang menjadi alasan karena hatinya tidak kuat melihat Rylee. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa terluka dengan keputusan orang tuanya dan Eric.


Satu kata yang mungkin mewakili perasaannya kali ini, yaitu cinta. Tanpa disadari, benih-benih cinta itu tumbuh saat melihat Rylee terluka. Belum lagi mendengar cerita sopir yang mengantarkan Eric dan keluarganya kala itu.


Rupanya sopir itu terlambat kembali ke rumah karena diminta Eric untuk mencari adiknya. Tempat yang dimaksud adalah sebuah klub malam dan Rylee benar-benar mabuk.


"Kalau soal itu, kamu jangan khawatir. Kita akan pergi sebentar untuk naik helikopter dan berkeliling di atas sana untuk melihat keindahan kotaku ini. Maksudku sebelum kamu meninggalkan rumahku ini."


Sebenarnya itu bukan ide buruk, tetapi rasa cintanya pada Rylee menutup rasa nyaman yang diberikan oleh Eric. Wajar kalau Abbey bersikap seperti itu.


"Kurasa tidak bisa pergi denganmu. Kamu tahukan kalau hormon wanita hamil itu naik turun. Selain itu, aku juga takut ketinggian."


Sebenarnya alasan Abbey tidak masuk akal. Dia terbiasa naik pesawat seorang diri. Apabila hanya helikopter saja, itu sebenarnya tidak ada apa-apanya. Paling cuma beberapa jam saja. Setelah itu, mereka akan turun.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Kamu mau kuantar ke hotel yang mana?"


Eric seperti merasakan penolakan yang ditunjukkan Flo padanya. Bukan seperti alasan yang disebutkan, tetapi lebih pada penolakan tentang siapa dia bagi Flo saat ini.


"Bisakah kamu biarkan aku naik taksi sendirian? Aku wanita mandiri dan sudah paham tempat ini sebelumnya."


Benar dugaan Eric bahwa sebenarnya Flo tidak nyaman dengan dirinya. Mungkin juga karena dia sedang hamil anak adiknya. Jadi, dia lebih merasa peduli padanya.


"Baiklah. Kalau begitu aku antarkan kamu ke depan. Aku bantu membawakan kopermu. Bagaimana?"


"Baiklah."


Berjalan beriringan menuju ke gerbang depan memang agak jauh. Namun, setelah sampai di sana sebuah taksi lewat dan Abbey menghentikannya.


"Aku langsung pergi, ya. Aku minta maaf belum sempat pamit pada orang tuamu."


Eric mengangguk tidak masalah. Dia bisa mengerti posisi Flo saat ini. Setelah taksi itu tidak kelihatan, dia segera masuk ke rumah. Dia tidak masuk ke kamarnya, melainkan masuk ke kamar adiknya tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Aku harus mencarinya," gumam Eric.


Dia membongkar beberapa lemari penting berisi buku-buku adiknya. Lalu, dia mencari di setiap meja yang memiliki laci di ruangan itu.


"Maafkan aku, Rylee. Aku harus melakukan ini. Aku tidak tahu akan berbuat apa padamu setelah ini. Posisi kita memang serba salah di mata semua orang saat ini."


Memiliki banyak waktu membuat Eric semakin tenang. Dia menyusuri kamar itu demi mendapatkan sesuatu. Sekitar 30 menitan, Eric menemukan apa yang dicarinya.


"Tinggal satu lagi yang harus kucuri darimu, Rylee. Maafkan kakak."


Berulang kali Eric meminta maaf setelah merapikan buku-buku dan beberapa map di ruangan itu. Agaknya apa yang dicari Eric saat ini mungkin akan memperbaiki hubungannya dengan Flo.


Eric keluar dari kamar adiknya dengan mengendap-endap. Sebelumnya dia sudah menyembunyikan apa yang dicarinya itu ke dalam kaos yang digunakan saat ini. Dia tidak ingin mamanya tahu bahwa Eric baru saja mengobrak-abrik kamar adiknya.


__ADS_1


__ADS_2