Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 36. Rumit


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah tanpa pesan, kali ini mereka dihadapkan pada persidangan dadakan yang dibuat Dixie. Wajar kalau wanita itu marah pada keduanya. Terlebih ini menyangkut Eric yang digadang-gadang akan menjadi penerus keluarga Arthur.


"Tidakkah kalian pikir bahwa pergi berdua adalah sebuah masalah?" sentak Dixie.


"Mam, kami hanya pergi. Mengapa Mama begitu marah? Sudah jelas kalau kami hanya membantu teman-teman Abbey," jelas Rylee.


"Dia Abbey bagimu, tetapi Flo untuk kakakmu! Tolong jangan lakukan lagi. Pernikahan tinggal beberapa hari dan undangan siap kami sebar. Kalau kalian masih kurang ajar dan berani melanggar, akan kupastikan bahwa Arthur dan Blair akan datang lebih awal ke sini."


Dixie sudah menahan amarahnya selama beberapa hari. Setelah mereka sampai dan pulang ke rumah bersama, rasanya ingin menelannya secara hidup-hidup.


Philo dan Eric tidak berkomentar. Mereka tidak mau mengundang kemarahan Dixie semakin besar. Begitu juga dengan Abbey. Dia pasrah pada permainan takdirnya.


"Eric, sore ini jadwal kalian untuk fitting gaun pengantin. Lalu, melanjutkan foto pra-wedding. Mama sudah ada janji pada fotografer X di gedung Y. Jadi, kurasa kalian harus datang tepat waktu. Ajak Flo bersamu!" perintah Dixie.


Bagaimana bisa menyerang? Sementara mamanya sendiri begitu cepat menyusun jadwal tanpa sepengetahuan Rylee. Sekarang mereka pasrah akan takdir. Biarkan saja air mengalir dan membawa mereka entah ke mana.


Eric segera membimbing Abbey ke kamar tamu. Setidaknya agar wanita itu bisa beristirahat dengan tenang. Terlihat sekali wajah kesal dan penuh tekanan.


"Kenapa kamu tidak pamit padaku?" tanya Eric. Dia berjongkok di hadapan Abbey dan melepas sepatu yang dikenakannya.


"Kamu pasti tidak akan mengizinkan." Abbey tertunduk. Dia seperti baru saja tertangkap basah selingkuh dengan adiknya.


"Tidak mungkin, Abbey!"


Abbey mendongak. Sedikit terkejut karena memanggil namanya seperti Rylee.


"Maksudku, aku tidak akan membiarkanmu pergi bersama Rylee. Lagi pula, dia adikku. Jadi, aku merasa kalau kamu akan aman bersamanya. Aku juga tidak kenal teman-temanmu dengan baik. Mungkin kamu bisa mengundang mereka? Kalau keberatan, aku bisa urus akomodasinya. Spesial supaya bisa hadir di pernikahan kita," jelas Eric.

__ADS_1


Oh, Eric, wanita mana yang tidak akan tergila-gila dengan sikap hangatmu itu? Andaikan saja Abbey tidak hamil dengan Rylee. Mungkin saat ini Abbey akan mengecup bibir pria itu lalu menekan tengkuknya agar semakin mendalam. Setelah itu, pergulatan panas akan terjadi. Sangat luar biasa, bukan?


Tebersit dua nama yang langsung masuk ke otaknya. Biarkan saja pernikahan ini tetap berjalan. Lagi pula, takdir setiap orang tidak pernah tahu. Nama Zaylin dan Helen. Sementara untuk Thanos, Abbey enggan berurusan dengannya. Terlebih untuk mempertemukan Thanos dan Helen. Itu adalah masalah besar.


"Ya, aku ada dua nama. Nanti akan kukabari mereka. Terima kasih."


"Siap untuk melakukan foto pra-wedding?"


Telinga Abbey rasanya nyeri sekali. Mendengar itu, dia merasa kalau Eric sengaja. Apalagi foto pra-wedding itu adalah sesuatu yang diminati untuk pasangan yang sama-sama jatuh cinta. Sementara mereka, menikah karena perjodohan.


"Tersehat kamu saja. Bisakah kamu keluar sekarang? Aku ingin berbaring di ranjang."


"Ya. Selamat beristirahat. Pukul 3 sore aku akan membangunkanmu. Kita pergi ke butik lalu ke studio foto."


Baru saja keluar dari kamar tamu, Rylee menarik kasar kerah baju kakaknya. Dia membawanya ke kamar yang tidak jauh dari tempat itu.


"Lepaskan Abbey! Putuskan hubungan pertunangan kalian dan berikan wanita itu padaku! Dia sedang mengandung anakku. Apa kamu tidak kasihan padanya?" Sejujurnya ini adalah usaha Rylee yang paling terakhir saat dirinya kalah berdebat dengan mamanya.


"No, Rylee! Kamu akan mengecewakan Mama dengan apa yang sudah dilakukan sekarang. Kamu tahu kalau undangan dan segala keperluan pernikahan sudah disiapkan. Lebih baik kamu siapkan tuxedo untuk menjadi pendamping pernikahanku nanti." Eric tetap tenang. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya, sesuatu yang mengerikan adalah memberikan rasa kecewa pada mereka.


"Brengsek!" Rylee siap meninju kakaknya, tetapi beberapa detik kemudian dia menghentikan tangannya.


"Kenapa tidak kamu lakukan? Lakukan saja! Aku yakin, setelah ini Mama dan Papa pasti akan mencoretmu dari daftar ahli waris keluarga ini. Selain itu, mereka akan semakin membencimu karena menyakiti calon pengantin. Jadi, apa pembelaanmu?"


Bagi Rylee, Eric pandai sekali mengobrak-abrik pertahanan dirinya. Perbedaan pria baik-baik dengan badboy sepertinya terlihat jelas. Eric bisa menghadapi orang lain dengan ucapannya, sementara Rylee selalu menggunakan otot. Dia cenderung menggunakan kekerasan ketimbang kecerdasannya.


"Pergilah! Pastikan Abbey aman bersamamu." Rylee mundur berniat untuk keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Rylee, tunggu!"


Rylee membalikkan badan. "Ada apalagi?"


"Aku ingin agar kamu menemani kami pergi ke butik. Sekalian membeli pakaianmu juga."


Rencana yang sempurna. Eric akan memamerkan bagaimana romantisnya saat menyetujui Abbey memilih gaun. Lalu, mereka akan berputar ke sana kemari seperti berjalan di atas red carpet. Sementara Rylee, dia hanya akan menjadi penonton yang menyedihkan.


"Tidak perlu! Aku ada janji dengan teman di klub malam ini."


"Oh, ayolah, Rylee! Anggap saja ini permintaan anakmu."


Anak? Tidak! Mana mungkin bayi itu bisa bicara? Eric sengaja memainkan perasaannya agar luluh lalu dia akan ikut. Rasa frustasinya akan semakin meningkat kemudian amarah yang meledak-ledak. Bisa-bisa Rylee akan mengamuk di butik tersebut. Daripada menyesakkan dada, lebih baik pergi ke suatu tempat. Menyendiri akan jauh lebih baik.


Rylee berbalik lalu menutup pintunya dengan kasar. Hal itu tidak luput dari pandangan Dixie yang kebetulan lewat di sana. Pasti ada sesuatu di dalam sehingga memutuskan untuk melihatnya.


"Eric?" Dixie terkejut.


"Mam, semuanya baik-baik saja. Dia hanya emosi karena aku tidak melepaskan Abbey untuknya."


"Bukan Abbey, tapi Flo untuk keluarga kita. Jangan terpengaruh oleh adikmu. Dia harus belajar merelakan apa saja yang tidak bisa digenggamnya. Ini harus dilakukan, kecuali kamu sudah menikah maka mama akan melepaskan Flo untuknya."


"Ya, terima kasih. Aku akan bersiap sore ini."


"Berikan yang terbaik untuk Flo. Kamu paham maksud mama, bukan? Arthur sudah membuat kesepakatan dengan papamu bahwa setelah menikah, kalian akan tinggal di negara istrimu. Kamu yang akan mengurus bisnis Arthur. Jangan kecewakan papamu!"


Eric mengangguk pelan. Begitu rumit dan membuat lelah. Rasanya ingin berlari. Andaikan tidak berebut dengan Rylee, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Semua sudah terlanjur. Ingin memperbaiki pun harus benar-benar berpikir panjang. Jika tidak, maka mereka akan membenci Eric seumur hidupnya.

__ADS_1


Setelah Dixie meninggalkan kamar, Eric melihat cincin yang tersemat di jarinya. Dia merasa seperti berada dalam tahanan yang siap dieksekusi kapan pun. Posisinya sangat menyesakkan. Antara orang tua dan adiknya, dia harus memilih yang mana?


__ADS_2