
Eric tentu saja menerima ajakan adiknya itu. Dia juga menceritakan tentang perseteruannya dengan mama sebelum meninggalkan rumah.
"Aku terkadang bingung dengan sikap Mama, Rylee. Mengapa dia bersikeras untuk menikahkan aku dengan Abbey? Padahal sudah jelas kalau kamu yang harus menikah dengannya."
"Aku juga tidak tahu, Kak. Mama sudah menolakku sejak awal pertemuan kami."
Ya, itulah yang menjadi masalah sehingga hubungan Rylee dan Abbey merenggang. Lalu, ditambah dengan perjodohan itu membuatnya semakin frustasi. Segala upaya sudah dilakukan untuk melupakan kejadian itu, tetapi itu cukup rumit sekali.
"Terkadang aku berpikir bahwa aku bukan anak kandungnya," lanjut Rylee.
Selama ini baik papa maupun mamanya selalu membedakan antara dirinya dan Eric. Mengenai fasilitas, makanan, kasih sayang, dan segala macam yang berhubungan dengan mereka.
Awalnya, Rylee mengira karena perbedaan karakter saja sehingga orang tua juga membedakan mereka. Terkadang Rylee mengira kalau dirinya terlalu nakal sehingga papanya muak dan membatasi segala sesuatu yang berhubungan dengan uang atau fasilitas mewah lainnya.
"Jangan bodoh, Rylee! Mana mungkin kamu bukan anak kandung? Aku dan kamu sebenarnya mirip, tetapi beda kelakuan saja. Kurasa Abbey menyukai laki-laki badboy sepertimu," puji Eric.
"Kurasa tidak. Dia malah terlihat suka padamu. Aku tahu saat kalian turun dari tangga di rumah Abbey saat itu. Aku sampai frustasi mengingatnya."
"Lupakan saja itu! Lagi pula, aku juga sudah menyerahkan Abbey padamu. Kita impas."
"Terima kasih."
Bila dua bersaudara itu sedang mengenang masa lalu, lain halnya dengan Abbey yang kesal karena kelakuan Rylee. Laki-laki itu keluar tanpa pesan sehingga Abbey memutuskan untuk keluar kamar. Bukan untuk mencari keberadaan suaminya, tetapi untuk menemui kedua temannya.
Sesampainya di depan kamar mereka, Abbey menekan bel. Beberapa detik kemudian, Helen membuka pintu.
"Abbey? Kupikir kamu sudah tidur."
Abbey menggeleng. "Boleh aku masuk?"
"Tentu. Masuklah! Aku dan Zaylin sedang bercanda. Kami juga belum bisa tidur."
Zaylin tampak memutar kotak merah persegi panjang. Jika menilik bentuk benda itu, sudah bisa dipastikan kalau itu adalah gelang atau kalung.
__ADS_1
"Nah, kebetulan kamu di sini, Abbey. Kamu tahu tidak sejarah kotak merah ini?" Zaylin mengangkat kotak itu, menunjukkan, dan meminta pendapatnya.
"Tidak. Memangnya itu apa? Dari siapa?" Abbey langsung duduk di sofa tanpa menunggu perintah kedua temannya.
Helen tampak ragu saat Zaylin hendak mengatakan pemberi kotak tersebut. Dia seperti merasa malu karena mendapatkan pria itu setelah bertemu dengan Abbey.
"Zaylin, tolong jangan katakan apa pun pada Abbey. Aku malu!"
"Jangan seperti itu, Helen! Justru ini akan menjadi semakin mudah. Kalian akan menjadi saudara ipar," tegas Zaylin.
Abbey segera mengerti siapa yang dimaksud. Dia malah memberikan acungan jempol kepada Helen. Dia bisa memberikan rekomendasi pria keren, yaitu Eric.
"Wah, aku cemburu! Eric benar-benar mencuri start. Aku tidak menyangka kalau dia akan bergerak dengan cepat. Jangan malu untuk menjalin hubungan dengannya, Helen. Aku dan dia hanyalah korban keegoisan orang tua. Kamu juga tahukan pada akhirnya Eric menyerahkan aku pada Rylee. Percayalah, Eric adalah obat untuk lukamu!"
Helen terharu. Dia mendekati Abbey kemudian menarik tangannya. Dia lalu memeluk temannya disusul oleh Zaylin. Mereka bertiga berpelukan seakan tidak bisa dipisahkan.
"Terima kasih, Abbey. Aku merasa malu pernah menyakitimu." Helen semakin mengeratkan pelukannya.
"Jadi, apakah kalian akan berkencan?" tanya Abbey. Tentu saja dia akan merahasiakan rencana kedatangan Eric bersamanya dan Rylee.
"Entahlah. Dia hanya memberikan hadiah ini sebagai hadiah perpisahan, bukan semacam awalan," ujar Helen tertunduk.
"Cinta akan datang di saat yang tepat, Helen. Jangan khawatir!" ujar Zaylin.
Mereka bertiga tampak menikmati malam yang sama sebelum pernikahan Abbey kala itu. Malam ini mereka mengulangi kembali.
Namun, yang membuat mereka terkejut adalah kehadiran Abbey di tengah-tengah mereka. Dia juga tidak buru-buru kembali ke kamarnya.
"Abbey, apakah kamu bertengkar?" Selidik Zaylin.
"Tidak," jawab Abbey singkat.
Tentu saja itu membuat Zaylin terkejut. Dia sudah berulang kali mengarungi bahtera rumah tangga. Keduanya pun gagal. Tidak heran kalau dia bisa membaca kondisi temannya.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Tidak mengaku juga tidak masalah. Itu privasi kalian." Zaylin pada akhirnya harus menyerah pada jawaban Abbey.
Mereka kemudian membahas rencana datang ke pernikahan Van dan Anne. Itu adalah jadwal yang tidak bisa dihindari. Helen terlihat biasa saja saat membahas pria itu.
Helen sudah melepaskan karena mendapat ganti yang baru. Walaupun itu belum pasti, tetapi rasa sakit yang ditorehkan Van tetaplah luka yang tidak mudah memudar.
Selain itu, Van juga harus memberikan kepadanya beberapa kompensasi. Mungkin juga akan diserahkan setelah pernikahan mereka. Berapa pun yang akan diberikan Van, Helen sudah tidak peduli lagi.
"Aku masih kesal pada Van. Bolehkah aku mengerjainya?" tanya Zaylin.
Helen dan Abbey tertawa. Kalau boleh memilih, seharusnya Abbey-lah yang sakit hati. Terlebih gara-gara ulah Van, Helen semakin membencinya.
Tambahan lagi, sikap Van di masa lalu yang selalu membuat Abbey kesal. Walaupun demikian, dia juga bertahan lama bekerja di sana. Memang sedikit lucu, tetapi Abbey selalu bisa menjaga diri dan melawan tindakan Van yang kurang ajar.
Jadi, sampai saat ini pun Abbey bisa menjaga diri. Tentu saja orang pertama yang membuat semuanya kehilangan kendali adalah Rylee. Laki-laki muda yang masuk dalam kehidupan Abbey dan menjadi calon papa bagi anak-anaknya.
"Buat apa? Anne nanti juga bosan sama kelakuannya."
"Maksudmu?" tanya Zaylin dan Helen bersamaan.
"Maaf, Helen. Mungkin selama ini kamu memang sebagai istrinya, tetapi aku yang bekerja bersamanya selama bertahun-tahun. Jelas aku paham betul bagaimana kelakuannya di luaran sana. Hanya saja, aku selalu menutup mata dan telinga agar aku tidak mengetahuinya. Bukannya aku tidak peduli, tetapi membicarakan Van denganmu adalah sebuah kesalahan. Kamu tahu bagaimana kasarnya Van saat marah? Itulah yang membuatku enggan menceritakan apa pun tentangnya kepadamu. Walaupun kita berteman."
Penjelasan Abbey membuat Helen lebih penasaran dengan masa lalu mantan suaminya. Ditambah lagi perselingkuhannya dengan Anne sebentar lagi akan disahkan di mata semua orang. Dia menang, tetapi kita tidak pernah tahu rencana busuk apa yang tengah dibuat Van. Setahu Helen, Van sangat mencintainya.
"Abbey, sebenarnya apa yang dia lakukan?" tanya Helen.
Abbey menatap Zaylin. Dia mencoba meminta persetujuan dari wanita itu.
"Ceritakan saja, Abbey. Mungkin itu akan menjadi pengalaman terburuk di masa lalu Helen," jelas Zaylin.
"Van adalah mata keranjang. Kehidupan pernikahannya denganmu sangat membuatnya tertekan. Aku tidak tahu, mengapa dia bisa bermuka dua? Kepadamu, dia mengatakan segalanya tentang cinta. Lalu, kepada wanita lain, dia selalu memberikan iming-iming kemewahan serta kepastian untuk menjadi ratu di dalam rumahnya sendiri. Itu yang sedang aku alami saat itu, tetapi kalian tahu, aku menolaknya."
__ADS_1