
Wajah Eric terlihat bersemu karena malu. Dia tertunduk sejenak kemudian mengangkat wajahnya seperti semula. Walaupun berusia 30 tahun, dia memiliki wibawa yang luar biasa.
Jika dibandingkan dengan Rylee, orang akan cenderung menikahkan anaknya dengan Eric. Terlepas dari itu semua, setiap anak memiliki perbedaan yang mencolok. Eric pendiam, terkadang bersikap dingin, dan jarang bicara.
Sementara Rylee, dia memang urakan. Sikapnya tergantung orang memperlakukan dirinya. Terkadang hangat, bisa juga kejam, dan sangat penyayang bila sudah cocok dengan seseorang.
"Eric, apa kamu gugup?" tanya Arthur.
"Iya, Om. Sangat gugup sekali." Eric melirik ke arah Dixie yang terus saja memperlihatkan senyumannya. "Mam, kenapa begitu?"
"Mama senang akhirnya perjodohan yang sudah kita lakukan bertahun-tahun, pada akhirnya akan dipertemukan juga. Mama cukup bersabar menantikan hari ini, Eric," jelas Dixie.
Philo pun demikian. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Flo. Wanita yang akan mendampingi putranya.
"Pada akhirnya Flo kembali ke rumahmu ini, Arthur. Sudah lama dia berada di luar negeri, ya," ucap Philo.
"Ya, Philo. Aku juga heran. Mendadak dia pulang lalu memutuskan mau dijodohkan dengan Eric. Seperti sebuah kebetulan yang tidak pernah kuduga. Semoga perjodohan ini membawa kebahagiaan untuk semua orang," jelas Arthur.
Sementara itu, Blair sedang menuju ke kamar Abbey. Kebetulan anaknya itu sedang mondar-mandir di kamar karena cemas. Dia juga menunggu mamanya datang untuk mengajak bertemu dengan calon suaminya.
"Sayang, kenapa kamu terlihat gugup seperti itu? Kamu sedikit berkeringat." Blair masuk lalu mengambil tisu. Diusap lembut wajah putrinya yang sedikit berkeringat. "Sebaiknya kamu touch up lagi riasannya. Tidak enak kalau dilihat calon mertua dan calon suamimu."
Abbey kembali ke meja riasnya. Menyeka keringat itu menggunakan tisu yang baru lagi. Lalu, dia pun memperbaiki sedikit riasannya. Sebelum keluar kamar, Abbey sempat menggenggam erat tangan mamanya.
"Flo, tanganmu dingin sekali," ucap Blair.
"Aku gugup, Mam. Apakah mereka bisa menerimaku?" Pertanyaan ini seharusnya ditanyakan langsung pada mereka, bukan pada mamanya.
"Lebih baik kamu tanya langsung pada calon suamimu. Jauh-jauh ke sini untuk bertemu denganmu. Mana mungkin dia akan menolak." Blair mengangkat dagu putrinya yang tertunduk.
Terpancar sebuah senyum yang sangat dipaksakan. Jauh di dalam lubuk hatinya ada luka yang menganga. Ternyata begitu sulit untuk menerima orang lain tanpa tahu siapa dia sebenarnya.
__ADS_1
"Mam, aku takut." Tangan Abbey menarik tubuh mamanya lagi agar masuk kembali ke kamar.
"Flo, kamu sudah dewasa. Apa pun keputusan pria itu yang sudah datang kemari, sudah dipastikan dia setuju. Walaupun dia belum pernah bertemu denganmu. Percayalah padanya, Flo!" Blair sedikit kesal karena sikap manja Flo malah keluar di saat seperti itu.
"Kalau begitu aku minta syarat, Mam. Tolong minta pria itu datang ke kamarku. Aku ingin berbicara empat mata dengannya. Bila aku setuju, maka kami akan turun bersama," ujar Abbey.
Padahal tujuannya hanya untuk mengenal lebih dekat pria itu. Dia pun akan berbicara tentang keadaannya saat ini.
"Baiklah. Kalau begitu mama harus turun lagi dan membawanya ke sini, bukan? Jangan gugup lagi, ya! Dia sangat tampan!" puji Blair pada Eric.
Abbey mengangguk. Dia kembali duduk menghadap kaca di meja riasnya. Wajahnya terlihat kacau walaupun riasan di wajahnya sangat indah.
Sementara itu, saat tahu Blair kembali tanpa Flo, semua orang bertanya-tanya. Terutama Dixie yang sudah tidak sabar untuk melihat calon menantunya.
"Flo mana? Kami sudah menunggunya. Bahkan Eric juga tidak sabar untuk melihatnya," ucap Dixie.
"Mungkin dia tidak mau dengan Kak Eric, Mam," sahut Rylee yang terlihat mulai bosan.
"Mam, Flo kenapa?" tanya Arthur.
"Dia minta Eric untuk bertemu dengannya dulu. Katanya ingin berbicara empat mata. Kalau sudah sepakat, mereka akan turun berdua," jelas Blair, "ayo, Eric, ikut Tante!"
Eric beranjak dari tempat duduknya. Dia mengekor di belakang mama calon istrinya. Perasaannya semakin tidak menentu. Campur aduk dan bingung sedang mendera.
Setelah menaiki beberapa anak tangga yang lumayan jumlahnya, Eric berbelok ke koridor panjang menuju ke kamar gadis itu.
"Eric, ketuk pintunya dulu lalu kamu masuk, ya," ucap Blair.
"Baik, Tante. Terima kasih."
"Tante urus orang tua dan adikmu dulu, ya. Tante gugup sampai belum menyediakan apa pun." Blair meninggalkan Eric sendirian.
__ADS_1
Tangan Eric mulai mendekati pintu. Dia mencoba mengetuk sebanyak tiga kali. Dia mendapatkan balasan suara seorang wanita yang beberapa detik lagi akan dilihat secara langsung.
"Silakan masuk!" jawab Abbey.
Eric membuka pintu dan membiarkan tertutup setengahnya saja. Dia tidak nyaman kalau harus menutup secara keseluruhan. Dia berdiri di belakang wanita yang menghadap cermin.
"Duduklah!" perintah Abbey yang kemudian berdiri lalu membalikkan badannya.
Pandangannya beradu. Saat itulah pertama kalinya Eric langsung suka pada Flo. Dia malah tetap terpaku memandang wajah wanita itu.
"Aku berdiri saja," tolak Eric, "jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
"Sebelumnya kamu sudah tahu aku, namaku, usiaku, dan semua tentangku. Mungkin itu juga didapatkan dari orang tuaku yang selalu memberikan informasi kepadamu. Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Sebenarnya motivasi apa yang membuatmu menerima perjodohan ini?" tanya Abbey.
"Simpel saja. Aku menerima karena restu orang tuamu dan orang tuaku. Cuma itu, Flo."
Jawaban yang hangat dan cukup menyejukkan hati. Berarti pria di hadapannya adalah sosok yang bertanggung jawab.
"Aku bukan orang yang sempurna, baik, dan bukan juga seperti orang yang kamu harapkan. Apakah kamu mau menerima segala kekuranganku? Begitu pun dengan kesalahan masa laluku? Aku tidak perlu menjelaskan secara rinci, tetapi aku yakin kalau kamu memahaminya." Abbey hanya ingin tahu seberapa tulus pria di hadapannya akan menerima Abbey sekaligus kehamilannya.
"Aku sudah sampai sejauh ini, Flo. Semua orang pasti punya masa lalu, begitu pun denganku. Kalau aku bisa berdamai dengan masa lalumu, kamu pun akan berdamai dengan masa laluku. Fokus pertemuan kita adalah untuk membentuk masa depan dan melupakan masa lalu. Jadi, mengapa kamu masih meragukan aku, sementara aku sudah yakin kepadamu?"
Lagi-lagi jawaban pria itu membuat Abbey terkesima, terlena, dan yakin bahwa tidak salah memilih perjodohan ini.
Sementara Eric sendiri tidak memperkenalkan dirinya karena menganggap bahwa Flo juga sudah tahu namanya.
"Kalau begitu bawa aku menghadap pada orang tuamu lalu kita lanjutkan perjodohan ini," ujar Abbey yakin.
"Jadi, kamu menerimaku?" Eric tidak percaya. Ternyata begitu mudah menghadapi Flo daripada apa yang sedang dipikirkan.
Abbey mengulurkan tangan supaya pria itu menggenggamnya dengan erat. Itu membuktikan bahwa Abbey sudah setuju. Sementara Eric, agak sedikit gugup menerima tangan yang begitu halus lalu digenggamnya dengan erat.
__ADS_1