Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 21. Kedatangan Keluarga Calon


__ADS_3

Segala persiapan dilakukan oleh keluarga Arthur untuk menyambut kedatangan calon menantunya. Dia sudah mendapatkan kabar bahwa keluarga calon besannya itu sudah tiba dan saat ini mereka beristirahat di hotel.


"Mereka sudah datang, Ma. Philo sudah mengirimkan pesan kalau dia, istri, dan kedua anaknya sudah sampai," ujar Arthur pada istrinya.


"Syukurlah kalau mereka sampai dengan selamat. Ngomong-ngomong, anak Philo semuanya laki-laki kan, Pa. Andaikan anak kita dua dan semuanya perempuan, mama juga mau menikahkan mereka pada kedua anak Philo itu."


"Beda, Ma. Adiknya ini jarang sekali diekspos sama papanya. Mungkin agak sedikit nakal."


"Oh." Tanggapan singkat dari mulut Blair. "Kupikir satu keturunan memiliki perilaku yang sama, tetapi beda rupanya."


"Sepertinya seru sekali. Apa yang dibicarakan?" tanya Abbey sambil memantau persiapan dekorasi.


Blair malah memeluk Abbey lalu mengecup keningnya. Tidak hanya itu, Blair juga mengelus puncak kepala anak gadisnya setelah melepaskan pelukan.


"Calonmu sudah tiba dengan selamat. Mereka sedang beristirahat di hotel sekarang."


Ucapan mamanya sama sekali tidak membuat Abbey antusias. Justru semakin mendekati waktu yang telah ditentukan, Abbey mengharapkan ada keajaiban sehingga acara perjodohan ini dibatalkan.


Namun, Abbey juga tidak bisa kabur. Justru itu akan mempermalukan keluarganya. Saat ini dia harus menikmati perannya sebagai wanita berumur yang belum menikah, tetapi harus menerima perjodohan.


"Aku ke kamar dulu, Mam. Rasanya tubuhku lelah sekali," pamit Abbey.


"Istirahatlah, Sayang. Nanti akan ada orang yang meriasmu. Bersiaplah saat mereka datang."


"Baik, Ma."


Sementara di sebuah hotel, Eric dan Rylee rupanya berada di dalam kamar yang sama. Semula Rylee meminta di kamar yang berbeda, tetapi Eric tidak mau.


"Kenapa kamu memintaku tinggal di kamar yang sama, Kak?" tanya Rylee.


"Sebelum aku menikah, setidaknya aku ingin mengenang kebersamaan kita, Rylee. Walaupun usia kita hanya selisih 5 tahun saja, tetapi sejak dulu kamu selalu menjadi pemenangnya. Aku akui bahwa aku tak secerdas dirimu. Aku sosok yang lugu, penurut, dan peduli. Sementara kamu, nakal, pemberontak, tetapi selalu bisa mengatasi masalah. Aku salut padamu!" puji Eric.


"Ck, itu namanya menjatuhkan lalu memuji. Tidak sepenuhnya memuji!" cibir Rylee.


Eric tertawa. "Bahkan menikah saja kamu ingin mendahului aku. Padahal Mama sudah mengatur perjodohan kami."


"Aku terpaksa, Kak. Kamu tahu bagaimana nasib kehamilan Abbey kalau sudah seperti ini? Jangan sampai pihak keluarga wanitamu itu menghalangi pernikahan kalian yang harus dipercepat. Kalau bisa malam ini bertunangan, besok langsung menikah," tegas Rylee.


Tidak semudah itu. Bahkan pertunangan ini pun sudah direncanakan sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, Dixie baru mengumumkan itu pada semua orang. Alasannya menunggu kepulangan calon wanitanya.

__ADS_1


"Andai aku bisa, Rylee. Flo tinggal di luar negeri. Keluarganya sudah meminta untuk pulang dan melakukan perjodohan itu. Namun, Flo terus saja menolak dengan alasan ingin hidup mandiri. Aku menyukainya, Rylee."


"Memangnya Kakak punya fotonya?" Selidik Rylee.


"Belum. Aku tidak tahu rupanya seperti apa, tetapi kalau melihat orang tuanya yang tampan dan cantik, aku percaya kalau putrinya juga cantik."


Ya, Eric hanya tahu foto Tuan Arthur dan Nyonya Blair beberapa tahun lalu. Itu pun ditunjukkan papa dari ponselnya.


"Wah, bagaimana kamu bisa langsung suka kalau fotonya saja belum pernah melihat? Kalau aku jadi kamu, Kak, aku akan memilih yang pasti dan jelas saja."


"Itulah perbedaan kita, Rylee."


Puas berbincang, mereka menikmati kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan. Berenang, menonton, dan beberapa kegiatan lainnya untuk membantu Eric menghilangkan rasa gugupnya.


Seperti waktu yang sudah ditentukan, keluarga Blair telah mengirimkan dua mobil untuk menjemput orang tua dan anak-anaknya.


"Rylee, bersiaplah! Sekitar 20 menit lagi mobil jemputan akan sampai," pesan Eric.


"Kakak terlihat gugup sekali," ujar Rylee.


"Aku sangat gugup, Rylee. Padahal biasa menghadapi klien, tetapi agaknya untuk menghadapi calon istri agak lain rasanya."


"Rylee, apa yang kamu lakukan? Ayo, bangun dan bersiaplah! Jangan buat Papa semakin membencimu!" Eric menarik selimut adiknya.


"Aku malas, Kak. Kamu yang akan bertunangan. Tidak ada aku pun tidak akan jadi masalah."


"Jelas bermasalah. Mereka tahu kalau kita datang bersama-sama. Tolong sekali ini saja jangan buat kakak malu," pinta Eric dengan sungguh-sungguh.


"Ya, baiklah. Kalau aku bosan di sana, bolehkah aku pergi?"


"Kita lihat saja nanti. Segera bersiap!" perintah Eric.


Tidak lama, orang tuanya mengabari kalau mobil jemputan sudah berada di depan. Mereka masuk di mobil yang berbeda. Sesuai permintaan Tuan Arthur katanya.


"Mam, hadiah untuk Flo sudah siap?" tanya Eric.


Dixie membawa satu set perhiasan ditambah dengan satu box cincin pertunangan. Sengaja mereka bawakan walaupun belum tahu ukuran jari manis Flo. Bila nanti ukurannya terlalu besar atau kecil, Eric berjanji akan menggantinya dengan yang baru.


"Semuanya sudah siap, Sayang. Ayo, kamu segera naik dengan Rylee," ucap Dixie.

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman Arthur, anak tunggalnya sedang dirias. Menurut make up artist, Abbey terlihat semakin cantik dan bersinar.


"Anda luar biasa, Nona. Hanya menambah sedikit sentuhan make up, semuanya terlihat cantik."


"Terima kasih," jawab Abbey.


"Flo, kamu cantik sekali, Sayang! Oh, ya, mereka sudah dalam perjalanan sekarang. Kamu mau menunggu di sini atau menyambutnya di depan?" tanya Blair.


"Flo tunggu di sini saja, Mam. Kalau mereka sudah meminta aku turun, aku akan turun."


"Baiklah. Mama turun dulu, ya."


Blair tidak merasakan kecemasan putrinya. Mungkin ini akibat lama tidak menjalin hubungan dengan pria kemudian mendadak dijodohkan seperti ini.


Abbey sempat melihat ada dua mobil masuk ke halaman rumahnya, tetapi dia tidak mau melihat lebih jauh lagi. Dia memilih untuk duduk menghadap cermin meja riasnya. Penampilannya yang cantik membuat Abbey tidak bosan memandangnya.


"Sayang, maafkan mama, ya! Calon Papa barumu telah datang. Kita akan memiliki kesempatan hidup bersama pria lain yang bukan papamu," ujar Abbey pelan.


Sementara itu, Blair baru saja bertemu dengan Dixie. Mereka terlihat sama-sama berkelas dan menarik.


"Halo, Blair, apa kabarmu?" sapa Dixie.


"Aku baik. Jadi, pria mana yang akan dijodohkan dengan Flo?" tanya Blair basa-basi.


"Jas warna hitam, kalau itu adiknya." Dixie menunjuk Rylee.


"Semua anakmu tampan, Dixie. Ayo, masuk! Philo, silakan masuk!" perintah Blair.


Padahal Philo sedang asyik mengobrol dengan Arthur masalah bisnis. Hal itu membuat Eric menegurnya.


"Papa, kalau bicara bisnis nanti saja. Ini tentang masa depan Eric dulu," canda Eric.


Memasuki ruang tamu, Eric semakin resah. Tidak ada petunjuk satu pun yang menggambarkan sosok Flo di rumah itu. Semua tembok murni lukisan.


"Tante, Flo di mana?" tanya Eric akhirnya.


"Oh, ya, ampun! Kamu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Flo rupanya. Tunggu sebentar, ya! Tante jemput dia di kamarnya," ucap Blair setelah mempersilakan mereka duduk.


__ADS_1


__ADS_2