
Keputusan papa Abbey membuat Rylee lemas. Dia mundur lalu menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi yang akan diperbuat, kecuali kakaknya juga menolak.
Dixie terdiam mendengar keputusan itu. Sebenarnya dia sangat setuju, tetapi jauh di lubuk hatinya seolah memusuhi keputusan ini. Di sisi lain, dia senang Eric akan menikah. Namun, dengan menyakiti Rylee, sama saja menyakiti dirinya sendiri.
"Keputusan aku serahkan pada Eric," ujar Dixie akhirnya.
Eric terdiam. Kali ini dia yang harus memutuskan. Dia juga harus memikirkan logika dan perasaan seluruh keluarga besar. Menurut Arthur bahwa pria itu setuju. Mamanya, Dixie pun sudah memberikan kesempatan. Sementara melihat Rylee dan Abbey seakan tidak tega.
"Aku setuju untuk melanjutkan perjodohan ini," kata Eric.
Seketika Rylee berdiri. "Kak, kamu ... ah, aku tidak tahu lagi keluarga macam apa ini?"
Rylee memutuskan keluar dari rumah itu. Sementara Dixie ingin mengikutinya, tetapi segera dicegah oleh Philo.
"Biarkan saja. Nanti juga akan pulang," kata Philo pelan.
Setelah kesepakatan itu, Abbey sudah tidak bisa mengejar Rylee lagi. Keputusan bulat Eric menyebabkan dia terjebak drama perjodohan dengan pria hangat dan bertanggung jawab, seperti kata mama dan papanya.
"Semuanya sudah setuju, mari kita langsungkan saja pertunangan ini," ucap Arthur.
Dixie tidak lagi memandang rendah Abbey karena wanita itu tahu bahwa calon menantunya adalah keluarga terpandang. Tidak masalah kalaupun saat ini Abbey sedang hamil. Lagi pula, kehamilan Abbey juga disebabkan oleh putranya sendiri, Rylee.
Dixie maju menyerahkan satu kotak yang berisi perhiasan. Lalu, dia pun menyerahkan satu box kecil berisi cincin pertunangan.
"Eric, pakaikan cincin itu pada Flo. Berikutnya bergantian," kata Dixie.
Abbey pasrah saat tangan Eric memasang cincin pertunangan di jarinya. Begitu pun dengan Abbey yang melakukan hal sama dengan Eric. Walaupun awalnya sedikit tersendat karena ragu, tetapi keputusan inilah yang tepat.
"Selamat atas pertunangan kalian. Pernikahan akan digelar di negaraku, Arthur. Jadi, lebih baik kalian bersiap sejak dini," kata Philo.
__ADS_1
"Memangnya kapan akan diselenggarakan? Kami rasa lebih cepat akan lebih baik," kata Arthur melirik ke arah Blair untuk meminta persetujuan.
"Satu bulan lagi. Istriku yang akan menyiapkan segala keperluannya di sana. Kamu jangan pikirkan apa pun. Lebih baik catat tanggalnya saja dan datang beberapa hari sebelum hari pernikahan tiba." Kini Philo beralih menatap Eric. "Eric, segera minta berkas-berkas Flo. Ajukan pernikahan di tempat kita!"
"Baik, Pa. Flo, aku minta dokumenmu," kata Eric lembut.
"Flo, ajak calon suamimu untuk membereskan berkasnya. Besok mereka harus kembali ke negaranya," ucap Blair.
"Baik, Mam. Ayo!" ajak Abbey pada Eric.
Sementara mereka pergi ke lantai atas, Blair mengajak calon besannya untuk makan terlebih dahulu di meja makan.
Sementara itu, Rylee benar-benar terlihat kacau. Dia menarik dasinya asal. Lalu, membuka jasnya dan menyisakan kemeja warna putih.
"Sial! Kenapa Eric menerima perjodohan itu? Kenapa dia lakukan itu padaku?"
Daripada otaknya tidak bisa dikondisikan, Rylee menyetop taksi dengan asal. Lalu, dia pun meminta taksi membawanya ke klub malam. Dia ingin minum sampai mabuk.
"Jadi, aku harus mengenalmu sebagai Abbey atau Flo?" Eric masih menatapnya tanpa berkedip.
"Anggap saja Abbey tidak pernah ada. Bukankah para orang tua lebih mengenal Flo ketimbang Abbey?"
"Baiklah, Flo. Bisakah kamu meninggalkan nomor ponsel di sini?" Eric menyerahkan ponselnya.
"Tentu. Mengapa tidak? Kamu calon suamiku sekarang. Cuma aku tidak tahu nantinya kamu akan memperlakukan aku dan anakku seperti apa? Kalau kiranya kamu menyerah pun tidak masalah untukku." Abbey sengaja memberikan kelonggaran.
Eric menggeleng. Rasa suka, restu orang tua, dan kesepakatan yang sudah terjadi antara dirinya dan Flo tidak membuat Eric menyerah. Dia tetap yakin untuk maju dan menikahi Flo.
"Dia keponakanku. Aku bisa menganggapnya menjadi anakku sendiri. Lagi pula, itu masih darah daging adikku." Eric terlihat tetap tenang. Tidak sedikit pun terpancar cemburu dari wajahnya.
__ADS_1
Sementara Abbey menyiapkan beberapa berkasnya, sesekali dia memandangi Eric. Abbey merasa kejadian ini seperti hukuman yang harus diterima. Mungkin saat ini Dixie bisa menerimanya karena Eric dan Philo sudah setuju. Papanya juga sudah menyetujui. Jadi, apalagi yang perlu dikhawatirkan?
Tentu saja ada. Abbey hanya merasa takut perlakuan Dixie padanya saat menjadi menantunya nanti. Alasannya karena kehamilan Abbey saat ini.
"Kenapa kamu tidak menyerah saja?" Selidik Abbey.
"Menyerah dan mematahkan harapan orang tua adalah hal yang sangat menyakitkan, Flo. Kamu tahu kenapa aku tega melakukan itu?"
Abbey menggeleng.
"Setidaknya agar Rylee menyadari bahwa memperjuangkan seorang wanita tidak melulu soal ****. Mereka juga butuh kasih sayang, kehangatan, cinta, dan tanpa paksaan. Kalau sudah seperti ini, siapa yang dirugikan? Semuanya, bukan? Kamu rugi kehilangan harga diri dan harus menanggung beban seperti sekarang ini. Sementara Rylee, dia mendapatkan penolakan dari Mama."
Seharusnya Abbey bangga memiliki calon suami seperti ini. Namun, ada hal lain yang mengganjal di benaknya. Kehidupan pernikahan bukan melulu soal harta, tetapi juga kebutuhan lainnya.
"Sebelum pernikahan dilangsungkan, maukah kamu mendengar syarat yang kuajukan?"
"Tentu saja. Kamu bebas berbicara apa pun padaku. Kalau kamu merasa tidak cocok dengan sikapku padamu, silakan komplain."
Abbey menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Berjanjilah untuk tidak menyentuhku sampai anak ini lahir."
Cobaan apalagi ini? Eric sudah menahan diri sejauh ini. Bagaimana mungkin dia tidak bernapsu jika berlama-lama dengan Flo?
"Aku tidak janji, Flo. Setelah resmi menjadi sepasang suami istri, mungkin aku tidak akan menyentuhmu dulu sampai kandunganmu benar-benar kuat. Namun, suatu saat nanti aku pasti menginginkan. Aku harap kamu tidak menolaknya."
Abbey benar-benar merasa frustasi. Setelah sentuhan Rylee yang sangat kasar, bagaimana mungkin dia bisa tidur dengan Eric walaupun dia sudah menjadi suaminya nanti? Apa Abbey bisa menjalani pernikahan seperti ini?
"Aku tidak tahu. Semua berkasnya sudah siap. Kamu bisa turun sekarang!" Abbey sengaja ingin menyendiri.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti. Beristirahatlah dan jangan setres! Jangan buat calon anakku itu bersedih atau apa pun itu," jelas Eric.
__ADS_1
Belum menjadi istrinya saja sikap Eric sehangat itu. Lalu, bagaimana dengan kondisi Rylee saat ini? Abbey tidak bisa berlari mengejarnya. Dia sendiri berada dalam situasi tersulit di hidupnya.
"Maafkan aku, Rylee. Mungkin takdir kita sampai di sini. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu, tetapi aku tidak bisa kabur dari situasi ini. Kakakmu benar-benar menggenggamku dan memperlakukan aku dengan sangat lembut. Kurasa ini bukan keputusan yang salah," gumam Abbey sambil melihat dirinya di dalam cermin.