
Makan malam sebelum perpisahan. Sesuai rencana, tetapi dihadiri oleh seluruh anggota keluarga Abbey bersama kedua temannya. Berikut Rylee dan Abbey juga berada di sana.
"Kupikir kalian sudah kabur," ujar Eric.
"Besok kami baru pergi. Penerbangan siang. Oh, ya, besok pagi temui aku di hotel. Antarkan aku ke bandara pada siang hari. Jangan lupa sediakan waktu untukku," ujar Rylee.
Tanpa sepengetahuan Eric, Rylee sudah memesankan tiket penerbangan mereka. Tentu saja Eric harus membawa paspornya.
"Eric, kami berterima kasih sudah diberikan jamuan seperti ini. Kami akan merindukan kebersamaan ini lagi," ujar Blair.
"Mama, Papa, jaga diri baik-baik, ya! Jangan lupa jaga kesehatan. Aku dan Rylee akan tinggal di tempat lamaku." Abbey merasa pertemuan malam ini begitu singkat.
Tentu saja itu merupakan sebuah kebanggaan bagi keluarga Abbey. Terlebih wanita itu selalu saja ingin hidup mandiri. Oh, ya, jangan lupakan Rylee yang berniat memiliki pekerjaan sendiri, sebagai pelukis mungkin.
"Tante jangan khawatir. Kami akan menjaga Abbey dengan baik. Kami juga akan memastikan kandungannya baik-baik saja," jelas Zaylin.
Makan malam itu berakhir dengan sempurna. Orang tua Abbey kembali ke kamar. Rylee dan Abbey juga sudah menyusul mereka. Lalu, tinggallah Zaylin dan Helen.
"Zaylin, boleh aku bicara dengan Helen sebentar?" tanya Eric meminta persetujuan.
"Tentu, Eric. Aku akan kembali ke kamar. Pastikan Helen kembali ke kamar kami," ucap Zaylin.
Walaupun sebenarnya Helen ragu, tetapi Zaylin memberikan kode agar tetap duduk bersama Eric. Ini adalah kesempatan bagus untuk kehidupannya.
"Jadi, apakah kamu mau mendengarku?" tanya Eric.
"Mungkin."
"Ya, baiklah. Anggap saja pertemuan kita ini bukan sekadar permainan belaka. Kamu juga sudah tahu kegagalan pernikahanku. Ya, lebih tepatnya aku gagal menikah dengan Abbey. Aku sadar diri kalau Rylee lebih berhak dari siapa pun."
Helen mengangguk. Dia memahami perasaan kehilangan yang begitu menyakitkan. Namun, dia juga tidak bisa banyak berkomentar. Apalagi Eric merupakan orang asing baginya.
"Kurasa keputusanmu itu benar," ujar Helen.
"Ya. Besok kalian sudah kembali. Aku pasti merasa kesepian. Oh, ya, sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa mengantarkan kalian ke bandara. Aku ada meeting pada pagi hari."
"Tidak masalah. Selama kami di sini, semua jamuan dan keperluan kami, kamu sudah membayar semuanya. Terima kasih."
__ADS_1
Setelah berbincang, suasana tampak hening sejenak. Eric mengamati Helen, begitu pula sebaliknya. Ketika pandangannya terkunci, Helen tampak menikmati mata Eric yang indah itu.
"Eric, aku harus kembali ke kamarku. Kurasa Zaylin pasti sudah menunggu."
"Tunggu, Helen! Sebelum kamu pergi, aku ingin memberikan sesuatu untukmu. Anggap saja ini adalah pertemuan pertama kita."
Eric mengambil satu kotak kecil, berwarna merah, dan panjang dari dalam saku jasnya. Ya, tentu saja malam ini dia menggunakan semi formal. Hanya jas dengan dalaman kaus saja.
Helen menerimanya dengan ragu. Ini terlalu cepat untuk mengenal pria setelah perceraiannya dengan Van diputuskan.
"Kurasa ini terlalu berlebihan, Eric." Helen menyodorkan kembali kotak itu ke hadapan Eric.
"Terimalah, Helen! Aku bingung mau membelikan hadiah apa untukmu. Kurasa ini cocok. Kalau kamu mau, bukalah sekarang!"
Helen menolak, tetapi dia penasaran. Eric sedang berusaha meyakinkan bahwa menerima hadiah bukanlah sebuah kesalahan.
Sementara itu, terjadi pertengkaran lagi di sebuah kamar. Tentunya kamar pengantin baru, yaitu pasangan Rylee dan Abbey.
"Rylee, kamu gila! Bagaimana memutuskan sesuatu tanpa mengatakan pada Eric? Coba kamu pikirkan besok! Bagaimana kalau dia memiliki jadwal penting di kantor? Belum lagi mama mertua yang menyebalkan itu pasti akan melarang Eric pergi."
Rylee tetap tenang. Itu hanya sikap Abbey saja yang berlebihan.
Abbey melemparkan satu bantal agar Rylee tidak tidur di ranjang yang sama. Dia masih kesal karena keputusan sepihak tanpa berunding pada Eric.
"Sayang, jangan siksa aku seperti ini! Aku ingin tidur di ranjang bersamamu."
Rylee memutuskan untuk naik ke ranjang, tetapi beberapa menit kemudian Abbey memintanya turun lagi.
"Rylee, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Abbey teringat ucapan papanya. Begitu sulit sekali untuk menyampaikan pada laki-laki tersebut.
"Ada apa?"
Rylee duduk bersila di samping Abbey yang sedang membaringkan tubuhnya.
"Papa memberikan syarat padaku."
__ADS_1
Mungkin Rylee lupa bahwa syarat untuk menjadi menantu Arthur adalah menggantikan pria tua itu di perusahaan. Namun, tampaknya itu tidak berlaku pada Rylee. Mungkin saja Abbey menerima tawaran bahwa Rylee harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa dia mampu membangun sesuatu dari nol.
Tidak hanya itu, kemungkinan untuk tinggal terpisah selama Abbey hamil adalah cara yang tepat. Kenyataannya itu yang sedang menari-nari di benak Rylee saat ini.
"Apakah papamu akan memisahkan kita?"
"Ya."
Mata Rylee melotot. Rasanya dia ingin keluar dari kamar lalu datang ke kamar mertuanya. Baru kemarin mereka menikah, hari ini sudah mendapatkan kabar buruk bahwa Arthur akan memisahkan mereka. Rasanya sakit dan menyesakkan dada.
"Abbey, jangan bercanda! Apa yang dikatakan papamu?"
Terlihat kekhawatiran, rasa putus asa, dan takut kehilangan. Susah payah dia harus menahan diri untuk tidak bertengkar dengan kakaknya karena rencana pernikahan mereka kemarin. Rupanya Eric dengan rela melepaskan Abbey untuknya. Lalu, beberapa jam kemudian, mereka dipaksa bercerai.
"Buktikan bahwa kamu layak menjadi seorang suami!"
Rylee lega. Namun, mendengar itu, dia harus bekerja keras. Kehidupannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan bersama istri dan anaknya.
Ternyata berjuang sendiri itu sangat berat. Bergantung pada perusahaan papanya juga tidak akan mungkin. Arthur pasti mempertanyakan tanggung jawabnya.
"Abbey, aku keluar sebentar."
Mimik muka Rylee menunjukkan bahwa dia sedang bingung. Namun, dia harus memikirkan cara yang tepat untuk membangun sebuah bisnis. Melukis bukan pilihan yang tepat.
Dia mengambil sebatang rokok, berdiri di balkon, lalu menyalakannya. Kehidupan setelah pernikahan jauh lebih rumit. Dia harus memikirkan sebuah usaha.
"Apakah aku harus bekerja di kantor? Ya, sebagai karyawan biasa dengan gaji tidak terlalu besar. Melukis butuh waktu lama dan aku harus membuat sebuah studio yang digunakan untuk pameran. Rasanya itu sangat rumit dan perlu perencanaan matang. Terlebih saat ini aku tidak memiliki modal. Papa dan Papa mertua pasti akan menertawakan aku."
Betapa hidup sangat menyedihkan. Kekayaan keluarga rupanya tidak berdampak pada usaha seseorang yang dimulai dari nol.
"Sedang apa?"
Sebuah suara membuat Rylee menoleh. Rupanya itu adalah Eric. Rylee pikir kakaknya akan kembali ke rumah setelah urusannya selesai.
"Tidak pulang ke rumah?" tanya Rylee.
"Tidak. Aku melihatmu berjalan ke sini. Makanya aku menyusul."
__ADS_1
Rylee tersenyum. "Kebetulan sekali. Oh, ya, siapkan paspormu karena kita akan ada dalam penerbangan siang menunju ke tempat Helen."